Friday, June 6, 2014

Diantara euforia itu..

Ada sebuah fenomena yang menarik yang saya temui akhir-akhir ini. Bukan hanya saya saja yang mengalami rasanya, tapi sepertinya kita semua mengalami.

Jokowi dan Prabowo.

Itulah fenomenanya. Mereka seolah berada di mana-mana. Televisi, media sosial, bahkan obrolan sehari-hari pun seputar mereka.

Wajar ya, mengingat jadwal Pilpres yang semakin dekat. Dan dengan ramainya pembicaraan seputar kedua orang tersebut membuktikan bahwa animo masyarakat Indonesia terhadap politik (??) masih besar. Setidaknya, mungkin ini bisa jadi pertanda bahwa golongan apatis (?) politik semakin berkurang. Mungkin.

Sebelum saya lanjutkan menulis, saya ingin menyatakan bahwa tulisan ini tidak ada tendensi apapun dan tidak disponsori oleh golongan manapun. Saya sendiri pun bukan bagian dari golongan atau partai apapun. Bahkan, sampai saat ini pun saya belum tau akan memilih siapa pada Pilpres 9 Juli mendatang.

Kembali ke bahasan utama.

Saya sudah mengikuti 3 kali pemilu sejak 2004. Dan rasanya, belum pernah ajang Pilpres seramai kali ini. Atau hanya perasaan saya saja?
Setiap pemilu memang wajar menjadi pembicaraan sehari-hari. Pemilu yang sudah-sudah pun demikian, ramai menjadi bahan pemberitaan/pembicaraan.
Saya ingat ketika pemilu 2004 yang menghasilkan Pak SBY sebagai presiden. Atau pilpres 2009 yang bahkan lebih ramai karena pilpres dilaksanakan dalam 2 putaran, dengan hasil yang sepertinya pun sudah bisa ditebak.

Lalu, apa perbedaan pilpres yang dulu-dulu dan yang sekarang?

Harapan.

Mungkin itu sebabnya. Pada pilpres kali ini, masyarakat memiliki harapan yang sangat besar terhadap kedua calon pemimpin. Saya seperti bisa membaca harapan yang tersirat dalam setiap ulasan berita, tulisan di media sosial, atau bahkan obrolan sehari-hari. Harapan yang besar bahwa kelak, para calon pemimpin ini bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Mengenai harapan, saya sangat paham rasanya berharap. :)
Bagaimana rasanya seperti menemukan secercah cahaya dalam kegelapan. Perlahan, kita akan percaya bahwa mungkin saja hal baik akan terjadi esok hari. Bahwa mungkin saja cahaya yang hanya secercah itu akan bertambah intensitasnya. Ketika hal baik tidak juga kunjung terjadi, kita akan berusaha mempertahankan secercah cahaya tersebut, walaupun semakin redup. Bahkan, pada saat cahaya itu akan padam, kita akan mencari-cari alasan dan pembenaran bahwa cahaya itu akan hidup, bahkan akan bertambah terang.

Namun apa yang terjadi jika ternyata sang cahaya tersebut benar-benar padam? Mungkinkah kita justru akan sangat tidak suka kepada cahaya lagi di masa yang akan datang?

Saya menemukan banyak tulisan/berita yang isinya bukan hanya mendukung/memberikan opini kepada salah satu capres, tapi banyak pula yang isinya seolah mendukung salah satu capres dengan cara membeberkan prestasinya sekaligus membeberkan aib(?) capres lainnya. Terkadang pada intensitas yang amat...kuat. Seolah-olah calon yang didukungnya adalah yang terhebat, dan calon lainnya adalah.. penjahat.

Jarang saya menemukan tulisan/berita yang isinya hanya memberikan komentar simpatik kepada salah satu calon, tanpa sama sekali menyiratkan bahwa seolah-olah calon lainnya itu (minimal) bukan penjahat.

Saya sangat ingat pada suatu peristiwa di tahun 2009, menjelang Pilpres kala itu. Saat itu, saya masih sangat suka berada di tengah-tengah masyarakat. Bergaul ke sana kemari demi mendapatkan jawaban dari kehidupan, sesuatu yang saya cari mati-matian. Di suatu kesempatan, seorang bapak mengajak saya berbicara. Topik yang hangat adalah politik dan pilpres 2009. Beliau berbicara sangat banyak dan panjang lebar mengenai satu parpol, yang kebetulan mengusung capres dan lolos ke putaran kedua. Beliau berpendapat bahwa partai tersebut sangat baik, saya kutip, "terbaik". Dan sang bapak juga menyebutkan betapa parpol yang lain itu tidak baik, bahkan menyebutkan beberapa 'dosa' mereka.
Saat itu saya hanya menyimak, dan tidak banyak berkomentar. Karena saya tidak dimintai pendapat dan tidak berkapasitas untuk berpidato atau berdebat.
Tentu saja saya punya pendapat. Setiap orang pasti punya pendapat, tapi apakah pendapat tersebut harus selalu disuarakan dengan lantang dalam kondisi apapun dan bagaimana pun? Ada tempat dan waktu untuk setiap hal.
Saat ini, apa yang terjadi pada partai "terbaik" yang disebut oleh bapak itu? Atau capres yang didukungnya? Saat ini saya tidak yakin sang bapak tetap memiliki pendapat yang sama tentang apa yang dinilainya "terbaik" saat itu.

Sekali lagi, mungkin, MUNGKIN, bapak itu pernah memiliki sebuah harapan. Sama seperti masyarakat yang sekarang sedang menikmati ladang harapan utopis terhadap capres idamannya. Namun, harapan adalah.. harapan. Bisa menjadi kenyataan, bisa juga hanya harapan.
Memiliki harapan tidak pernah salah, tenggelam terlalu dalam di dalam harapan itu lah yang akan membunuh kita.

Dalam euforia pilpres dan gelombang dukungan kepada kedua capres, milikilah pelampung yang akan menyelamatkan kita agar tidak tenggelam atau hanyut.

Seperti kata bang Rhoma,
"begadang jangan begadang, kalau tiada artinya. Begadang boleh saja, asal ada perlunya"

Berharap jangan berharap, kalau tiada batasnya. Berharap boleh saja, asal ada batasnya.

:)

Tuesday, November 19, 2013

NORMAL 101: A GUIDE TO CONVERT YOUR HUMAN INTO SOCIALLY ACCEPTABLE DROID

Sometimes I feel like i want to be normal. Or I should be normal. But then i think, what is NORMAL?
It brings me into contemplation, deep, deep in the dark forest of the mind.

And i found, a light bulb inside my head. Normal is just another term of Acceptable. So, being normal means being accepted. When i want to be normal, i have to be accepted. Or acceptable. 

Why is it so important to be accepted?

People often try so hard so just the others can accept them. Sometimes it makes them suppress themselves, their opinions, just in order to be fit in the society. So that they guarantee that there's always a place for themselves among people.

But acceptance can not always be defined as good or bad, right or wrong, because it involves people and their perceptions. When people have the same or (agreeable) perception, they accept something. Otherwise, things are just unacceptable. YetWhat if some people have different perception? And what if their perception is good or right? Just because they are different, it makes them unacceptable and then considered as abnormal or freak?

It brings me into some kind of conclusion that being accepted (therefore considered as normal) is not always a good thing.

I often think that this world (or the people?) demands me to be normal. To be just like everyone else, to do and to think like everybody does. Sometimes it's just hard to be me, to have my own principles, to just be..different. Is this world that i live in a dystopian world? Like the one i read on the book.
Maybe it is, because sometimes it feels like there are invisible repressive hands that try to control people. Of how to socialize, to think, to behave, or even just to be...human.

That makes me shiver. I don't want to be socially accepted if i have to be some kind of droid, wandering around, run by some kind of program just in order to be normal. In a world where people have to and/or want to suppress themselves, alter themselves just to fit in, i want to run.

Tuesday, July 16, 2013

Doubt

Meragukan motif, sikap atau perilaku orang lain seringkali disalah-artikan sebagai negative thinking. Tetapi, bagaimana kita bisa benar-benar mengenal dan mengetahui seseorang jika kita tidak pernah meragukan mereka?

Ah, saya kembali teringat akan sebuah manga yang pernah saya baca. Judulnya 'Liar Game'. Ada sebuah pernyataan yang menarik bagi saya, dan tidak bisa saya lupakan.

"People should be doubted.

Many people misunderstand this concept. The truth is, doubting people is simply a part of trying to get to know them.

'Trust', that act is ,without a doubt, a very noble one.. but you know, what many people do, that they call 'trust' is actually giving up on trying to understand others. And that has nothing to do with 'trust', but is rather an APATHY. There are countless people out there who fail to realize that apathy is a far more devastating act than doubting others.

The worst of all people were the vast numbers who really believed they were doing good, when they were actually deceiving others. They didn't have the slightest clue what they were doing. Simply because they were trying to avoid picturing just how much pain they were inflicting on others by their actions. Not giving a single thought, is merely a state of complete APATHY.

The true evil is becoming apathetic about other people.

Doubt them, question them, suspect them, and take a good, long look into their hearts. Humans are the kind of beings that can't put their pain into words, after all."

Begitu ucapan Mr. Shinichi Akiyama kepada Nao Kanzaki. Mindblowing, memang. Tapi jika direnungkan dengan baik, memang benar adanya.

Rasa tidak percaya akan membawa kita pada sebuah pemahaman.

Saya juga belajar mengenai arti nilai sebuah hal justru dari rasa tidak percaya. Karena saya tidak percaya, maka saya menemukan sebuah pengetahuan baru. Karena saya tidak percaya, maka saya menemukan arti sahabat dan bertemu sahabat..

Jika Copernicus dan Galileo adalah orang-orang yang mudah percaya tanpa rasa ragu, maka hingga saat ini kita juga akan mempercayai bahwa bumi itu datar dan matahari berputar mengelilingi bumi. Karena mereka ragu, mereka skeptis, mereka terus bertanya dan bertanya, maka mereka menemukan. Begitulah banyaknya penemuan dan pengetahuan lain yang lahir justru dari rasa skeptis dan tidak percaya.

Begitu pula, jika kita mempercayai semua orang, tidak memiliki rasa ragu kepada mereka. Apa kita akan pernah memiliki beberapa orang teman dekat yang kita sebut sahabat?
Renungkan. Seorang sahabat adalah orang lain yang mulanya sama sekali tidak kita kenal, sama seperti orang lainnya. Tetapi karena kita pernah memiliki rasa tidak percaya padanya, pernah meragukan kapabilitasnya dalam memegang rahasia, pernah meragukan tingkat intelektualitasnya untuk membantu memecahkan masalah yang sedang kita hadapi, pernah meragukan ketulusannya, kejujurannya dalam berbicara, maka kita menemukan dia, sahabat kita. Dengan meragukannya, kita belajar untuk menemukannya. Sama halnya seperti ketika Copernicus meragukan teori geosentris, maka ia menemukan teori heliosentris.

Mengapa tidak percaya? Mengapa meragukan sesuatu? Karena kita peduli.
Rasa simpati. Itu dasarnya.

Mengapa harus susah memikirkan sesuatu? Kan tidak ada untungnya? Mengapa meragukan sesuatu? Bukankah itu sebuah kerugian?
Sekali lagi, karena rasa ragu dan tidak mudah percaya itu menunjukkan rasa ingin tahu, yang berasal dari rasa peduli.

Mudah saja untuk percaya. Sangat mudah. Toh tidak membuang banyak energi. Tetapi sekali lagi, renungkan. Saat kita memutuskan untuk percaya, untuk tidak meragukan sesuatu. Apakah karena kita sama sekali tidak peduli? Apakah kita telah bersikap apatis?

Ada benang yang sangat tipis yang memisahkan antara bersikap optimis dan bersikap apatis.

Meragukan sesuatu, bertanya-tanya, kembali ragu, bersikap skeptis memang seolah pesimis. Tapi setidaknya itu karena masih ada rasa simpati. Jikalau rasa simpati itu cukup besar, bisa bergerak menjadi sebuah empati.

Tetapi jika kita tidak pernah ragu, tidak pernah bertanya, bisa jadi sebenarnya kita tidak ingin terlibat, tidak ingin susah atau kita hanya tidak pernah cukup peduli. Dan jika kita tidak cukup peduli, maka kita telah menjadi seperti yang disebutkan oleh Mr. Shinichi Akiyama tadi, 'the true evil'.

Sunday, June 30, 2013

Nerd

The world will be a much better place to live if you're a nerd.

You may not be hanging out with the most popular dudes. And yes, you probably will have a fewer friends. But they'll probably be the best friends ever. They'll respect you and  be faithful to you.

Yes, you don't go to the cool party or cool events. But it doesn't mean that your life is no fun. You'll CREATE your own fun.

Instead of being engaged in a social approved activities, you'll be more attached to many activities of your own interest. Your definition of coolness isn't determined by other people, but yourself.

Your sense of fashion and clothing may be weird or old fashioned, and others may think that you're some kind of alien. But you'll find later, none of it will ever be related to who you are INSIDE.

Science, technology, computer, games, books will attract you more and you will find many remarkable things with them. You'll finally be able to understand the universe and how it works through the laws of physics. You'll see things other people can't see. You will live a wonderful life with knowledge.

Though there will be several times when other people look down on you, mock you, or even bully you just because you're different. But believe me, it won't matter, because what's more important is that you ARE yourself. You don't try to be someone else by copying anyone or doing anything just because you're told to.

You are a free human being.

Being a nerd means you enjoy being yourself and not be ashamed of it. Because being a nerd and different doesn't make you less a human.

Sunday, June 9, 2013

Unconditionally

To love unconditionally.

There's no such thing as it is. When people love, they ALWAYS expect something. One's ability to love has nothing to do with one's ability to ACCEPT.

Sebaliknya, mencintai membuat seseorang selalu ingin MENGUBAH orang yang dicintainya. Bahkan, orang tua yang mencintai anak-anaknya pun selalu ingin mengubah sesuatu dari diri anak-anaknya.

Berubah menjadi lebih baik itu bagus. Menginginkan orang tercinta untuk menjadi lebih baik itu niat yang bagus. Namun, sampai mana batas perubahan? Karena keinginan tidaklah akan pernah cukup. Hari ini berharap orang lain berubah, dari level 1 ke level 2. Esoknya pun akan tetap ingin ia berubah ke level selanjutnya. Bahkan ketika orang tersebut sudah susah payah berusaha berubah demi mencapai level 100, semua tidak akan pernah cukup.

Lalu kapan cinta akan datang dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu MENERIMA?

Ketika kita menginginkan perubahan, sudahkah kita menerima sebuah kenyataan yang sangat sederhana? Bahwa TIADA YANG SEMPURNA. Segala sesuatu memiliki kekurangan, sekecil bahkan sebesar apapun. Nampak ataupun tidak nampak. Sebelum seorang penguasa kecil yang liar dalam diri kita menginginkan lebih dan lebih, sudahkah kita memberi ruang bagi sebuah kesadaran tersebut?

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum ingin melakukan perubahan adalah menerima. Menerima kenyataan.

Sangat mencintai seseorang terkadang membuat kita lupa bahwa yang kita cintai adalah manusia. Manusia yang batasnya tidak sama dengan kita, situasinya tidak sama dengan kita, kemampuannya tidak sama. Manusia yang juga memiliki titik terlemah.
Sangat menyayangi seseorang juga membuat kita menjadi orang yang ambisius, lupa bahwa orang yang kita sayangi bukanlah objek sebuah ambisi pribadi kita. Ataupun sebuah proyek kerja dengan targetan tertentu.

Saya hanya berpikir bahwa seharusnya keinginan untuk mengubah orang yang kita sayangi juga diimbangi dengan kemampuan untuk menerimanya dengan segala kekurangannya.

Karena saya rasa, semua orang butuh diterima. Saat dunia dipenuhi dengan begitu banyak tuntutan, bukankah minimal SATU buah penerimaan dari orang tercinta akan sangat berarti?



I'm so not perfect, but i'm also a human. If you can't love me because of my imperfection, then at least please consider me as a HUMAN.

Tuesday, April 23, 2013

Virus pemusnah massal dan di balik rencana keji

Jauh sebelum Amerika Serikat terbentuk menjadi sebuah negara, kekuatan yang mengatur dan mengendalikan tanah yang baru tersebut adalah terorisme, pemusnahan masal, dan perang biologi melalui penyebaran kuman-kuman dan penyakit-penyakit terhadap penduduk aslinya. Salah satu penyerangan yang tercatat dalam sejarah adalah yang dilakukan oleh Jendral Jeffrey Amherst.

Beberapa data yang tertuang dalam The Atlas of the North American Indian, and the Conspiracy of Pontiac and the Indian War after the Conquest of Canada, menunjukkan bahwa pahlawan militer yang terkenal ini, telah “menyetujui” pendistribusian selimut dan sapu tangan yang telah terkontaminasi bibit cacar untuk digunakan sebagai alat perang wabah penyakit terhadap Indian Amerika. Bahkan ada bukti tertulis berupa surat yang ditulis sendiri oleh Jeffrey Amherst. Dalam suratnya kepada Kolonel Henry Bouquet, Komandan angkatan bersenjata Inggris, Jenderal Amherts bertanya :

“Tidak bisakah diatur suatu cara bagi pengiriman bibit campak kepada suku-suku Indian yang tidak menyenangkan itu? Dalam hal ini kita harus menggunakan berbagai strategi untuk dapat mengurangi jumlah mereka.”
Bouquet menjawab,
“Saya akan mencoba untuk menularkan penyakit tersebut kepada mereka melalui selimut-selimut yang akan jatuh ke tangan mereka dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak ikut tertular.”

Sangat jelas terdokumentasikan dalam catatan milik William Trent tertanggal 24 Mei 1763, seorang komandan militer lokal dari Pittsburgh.
“Kami memberi mereka dua selimut dan sebuah sapu tangan yang kami ambil dari Small Pox Hospital. Saya harap hal itu akan menimbulkan dampak yang diharapkan.”
Epidemi cacar secara cepat tersebar diantara lelaki, wanita dan anak-anak suku Pontiac (suku Indian).

Jenderal Amherst sangat terkesan atas hasil yang sangat efektif pada perang kuman tersebut, sehingga dalam suratnya kepada kolonel Henry Bouquet tertanggal 16 Juli 1763, dia mengesahkan PERANG BIOLOGI SEBAGAI KEBIJAKAN RESMI AMERIKA dan memerintahkan penyebaran selimut-selimut yang telah terinfeksi campak untuk “memusnahkan para Indian” dan menyarankan agar Bouquet mencoba metode-metode lain yang dapat memusnahkan ras yang buruk ini. Dalam suratnya tertanggal 26 Juli 1763, Bouquet menjawab surat Amherst dan mengkonfirmasikan bahwa.
“seluruh petunjuk anda akan kami perhatikan"
Seratus tahun kemudian, Secara berkala, penggunaan kuman sebagai senjata dalam peperangan telah menjadi kebijakan AS. Secara berkala, sepanjang abad ke 19, angkatan bersenjata AS menyebarkan selimut-selimut dan benda-benda lain yang telah terkontaminasi bibit penyakit kepada suku asli Amerika, termasuk mereka yang telah ditahan di kemp-kemp konsentrasi (Pemerintah secara resmi menyebut lokasi ini sebagai wilayah reservasi/ reservations. Tujuan dari serangan biologi ini adalah untuk memusnahkan dan membunuh sebanyak mungkin Indian Amerika, jika tidak menghancurkan mereka semua.

Pemerintahan awal Amerika, juga kemudian Pemerintahan Amerika Serikat yang berdiri secara sah, tidak pernah menganggap Suku asli Amerika sebagai manusia. (Mereka menganggap suku asli sebagai makhluk yang tidak diinginkan, dan berkualitas dibawah manusia).

Agen penyebar penyakit yang digunakan yang tercatat dalam sejarah bukan hanya cacar. Saat ini merekapun menggunakan Variola, yang dapat disimpan dalam kondisi kering, juga kolera dan cacar. Metoda penyebaran yang mereka pilih masih melalui penyebaran selimut-selimut dan alat-alat lain yang didistribusikan kepada para Indian.

Di tahun 1900, Angkatan bersenjata Amerika Serikat mulai bereksperimen dengan berbagai macam senjata biologi, sebagian diantaranya digunakan pada tahanan perang baik warga Amerika maupun asing. Para korban termasuk lima orang tahanan warga Filipina yang tercemar berbagai macam jenis penyakit, dan 29 tahanan yang secara sengaja ditularkan penyakit beri-beri.

Di tahun 1915, Agen-agen pemerintah mulai melakukan percobaan dengan racun-racun yang dapat menyerang dan menghancurkan otak dan sistem syaraf pusat. Dua belas orang Amerika yang ditahan di penjara Mississippi tercemar pellagra. (kekurangan Vitamin B3 atau niacin).

Warga Puerto Rico yang Malang

Pada tahun 1931, Dr. Cornellius Rhoads, seorang agen pemerintah yang dikontrak oleh Rockefeller Institute for Medical Investigation, mulai menginjeksi laki-laki, perempuan dan anak-anak dengan sel-sel kanker. Sebagai Ketua Divisi Senjata Biologi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, dan juga sebagai anggota komisi energi atom, Rhoads menjalankan radiasi rahasia yang dilakukan terhadap ribuan warga AS yang tidak dicurigai.

Dalam surat-suratnya untuk Departermen Pertahanan, Rhoads secara gambalang menyebutkan "pembasmian" para pemberontak dengan menggunakan "bom kuman". Pada saat ditanya mengenai penduduk Puerto Rico, Dr. Rhoads menulis

" Yang dibutuhkan kepulauan itu bukanlah pekerjaan bagi kesehatan umum, tetapi sebuah ombak pasang, yang dapat menghabiskan seluruh populasi."

Dr. Rhoads lebih lanjut mengatakan,

"Orang-orang Puerto Rico adalah ras manusia yang paling jorok, paling malas, paling berbahaya dan ras pencuri yang pernah hidup di bumi ini. Saya telah melakukan yang terbaik yang saya mampu untuk melakukan proses pemusnahan, dengan melakukan proses pembunuhan terhadap delapan dan mentransplantasi kanker ke beberapa lagi.... Semua ahli kesehatan menerimanya dengan senang hati dalam penyiksaan atas korban yang tak berdaya."

Dr. Rhoads mengklaim telah menginjeksi ratusan orang Puerto Rico dengan sel kanker.

Eksperimen Siphilis

Pada 1931, Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan eksperimen dengan siphilis. Korban pertama yang dikenal adalah seorang kulit hitam yang tinggal di Tuskegee, Alabama. Di tahun 1932, dokter-dokter pada Pelayanan Kesehatan Umum tidak melakukan pengobatan terhadap pasien yang terinfeksi dalam dalam rangka mempelajari perkembangan penyakit tersebut pada subjek hidup. Para pasien tidak mengetahui bahwa mereka dijadikan eksperimen pada studi yang diakui secara resmi oleh pemerintah itu. Mereka pikir mereka mendapatkan pengobatan untuk penyakitnya. Padahal, mereka diberi obat-obatan palsu.

Sepuluh tahun berikutnya, ribuan warga Amerika terekspos berbagai macam agen biologi dan kimia. Ini termasuk 400 tahanan di penjara Chicago pada tahun 1942. Mereka semua terinfeksi malaria dalam rangka memperoleh "profil dari penyakit tersebut".

Pemerintah Amerika Serikat juga memberika izin bagi Komisi Energi Amerika untuk secara rahasia menginjeksi pasien-pasien rumah sakit dengan Plutonium agar mendapatkan "Profil" efek jangka panjang. Sebagian besar individu ini menjadi sakit parah dan kemudian meninggal.

Anthtrax

Amerika Serikat dan Inggris mulai melakukan kerja sama dalam pengembangan "Bom Anthrax" yang mereka rencanakan untuk dijatuhkan di kota-kota di Jerman. Target potensial termasuk juga Berlin, Hamburg, Frankfurt, Aachen dan Wilhelmshafen.

Karena Jerman menyerah sebelum bom-bom Antrhax ini diuji pada penduduk Jerman, (target nonmiliter) bom biologis itu kemudian dijatuhkan di pedesaan Gurnard, sebuah pulau di sebelah barat laut Skotlandia. Sebagian besar sapi dan penduduk desa mengidap penyakit parah dan kemudian tewas, dan pulau tersebut tak berpenghuni hingga dari 45 tahun.

Begitupun dengan yang dikirimkan USA pada perang teluk yang mematikan ke militer Irak. Sebagian propaganda menyebutkan bahwa USA mengirim beberapa senjata biologi dan kimia untuk Saddam Husein, untuk memusnahkan suku Kurdi yang justru menjadi ujung tombak sendiri bagi Saddam Hussein. Hal ini juga diduga sebagai bahan laporan untuk penelitian ilmuwan mengenai efek-efek yang ditimbulkan dari bahan tersebut.
"FBI menutup-nutupi fakta karena mereka tahu bahwa serangan Anthrax itu adalah pekerjaan orang dalam" (Dr. Barbara Hatch R.)

OPERATION PAPERCLIP

Pada akhir masa Perang Dunia II, Amerika Serikat memperkerjakan ratusan dokter NAZI dan Jepang yang telah melakukan eksperimen-eksperimen yang sadis dan tidak manusiawi terhadap tahanan perang. Salah satu dokter sadis yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap manusia melalui

eksperimen-eksperimennya adalah Direktur Angkatan Kerajaan Jepang unit perang biologi, Dr. Ishii.

Ishii bereksperimen dengan shyphilis, typhoid-laced tomatoes, tetanus, plague-infected fleas, selain juga bom-bom bibit penyakit yang dijatuhkan ke penduduk sipil dan tahanan yang diikat telanjang di tiang kayu guna melakukan eksperimen.

Kelahiran HIV/AIDS

Hingga akhir 1960-an, Ilmuwan-ilmuwan di bawah pengawasan CIA, di Divisi Operasi khusus Fort Detrick, laboratorium dengan keamanan tingkat tinggi, mulai memperoleh kemajuan yang signifikan dalam pengembangan penyakit-penyakit yang menyerang sistem imun tubuh.

Pada tahun 1969, Dr. Robert MacMahan dari Departermen Pertahanan meminta dan menerima $ 10 juta dana dari kongres AS untuk mengembangkan agen Biologi buatan yang tidak ada imunitas alami yang dapat menahannya.

Dalam Kongres dia mengatakan :
"Ada dua hal tentang bidang agen biologi yang ingin saya sebutkan. Pertama adalah kemungkinan kejutan teknologi. Biologi molekuler adalah bidang yang berkembang sangat cepat dan ahli-ahli biologi terkenal percaya bahwa dalam periode waktu 5 hingga 10 tahun akan sangat mungkin diciptakan sebuah agen biologi buatan, suatu agen yang secara alami tidak ada, dan dimana imunitas alami pun tidak ada. Dalam 5 hingga 10 tahun, sangat mungkin untuk diciptakan mikroorganisme penyakit yang dapat dibedakan dalam aspek-aspek tertentu dari organisme-organisme penyakit lainnya. Yang terpenting dari semua ini adalah penyakit tersebut kebal terhadap proses imunisasi atau terapi apa pun di saat kita hendak melepaskan diri dari penyakit ini"

Jakob Segal, mengungkapkan bahwa USA telah berhasil menciptakan AIDS untuk disebarkan kepada manusia. Menurut Segal, HIV/ AIDS diciptakan di Fort Detrick, Maryland, dengan cara menggabungkan genom Viral dari Visna dan HTLV-1, karena keduanya hampir identik dengan HIV genome.

Pada 1957, saat melakukan eksperimen vaksin polio, Dr. Hillary Koprowski, menggunakan jaringan ginjal monyet yang telah dijangkiti virus yang dekat dengan AIDS, SV40, kemudian mengawasi proses injeksi vaksin yang telah terkontaminasi tersebut terhadap ratusan ribu orang negro Afrika. Anehnya mengapa percobaan itu tidak dilakukan saja kepada orang-orang Amerika sendiri. Meskipun begitu ia menolak bahwa ia ikut dalam penciptaan HIV/AIDS dan Koprowski juga menolak jika mereka menciptakan vaksin polio dengan gainjal monyet.

Pada 1978, Centers for Disease Control (CDC) mulai mengeluarkan advertensi bagi homoseksual yang ingin berpartisipasi dalam "Percobaan vaksin Hepatitis B". Percobaan pertama yang dilakukan oleh CDC adalah di New York, Los Angeles, San Fransisco, pada tahun yang sama. Pada tahun 1981 kasus AIDS pertama diketahui terjangkit pada laki-laki homoseksual di New York, Los Angeles, dan San Fransisco, membangkitkan spekulasi bahwa AIDS mungkin telah di tulari melalui vaksin hepatitis B.

Wangari Maathai mengungkapkan bahwa dia yakin AIDS adalah senjata biologi yang sengaja diciptkanan.

"Sebagian orang mengatakan bahwa Aids datang dari monyet, tapi saya meragukan hal itu, karena kami telah hidup bersama-sama monyet sejak dahulu kala, yang lain mengatakan bahwa hal itu merupakan kutukan tuhan, tapi saya katakan itu tidak mungkin"

"saya tidak memiliki gambaran siapa yang menciptakan AIDS dan apakah itu merupakan suatu agen Biologi atau buan. Tapi saya tahu pasti hal-hal seperti itu tidak akan begitu saja jatuh dari langit. Saya selalu berpikir bahwa sangat penting untuk menyampaikan kebenaran kepada setiap orang, tapi saya rasa ada beberapa kebenaran yang tidak boleh terlalu diekspos"

Flu Burung

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menuduh World Health Organization (WHO) dan USA melakukan konspirasi dalam pengumpulan sampel-sampel virus flu burung dan produksi-produksi vaksinnya. (The Jakarta Post/03/16/2008).
"Saya katakan kepada WHO bahwa mekanisme mereka dalam mengumpulkan virus-virus dari negara-negara berkembang sangat tidak adil. Cara yang sama sebuah negara imperialis memperlakukan koloninya"
Selanjutnya ibu Siti Fadilah Supari marah ketika mengetahui sampel H5N1 yang ia kirimkan ke WHO ternyata digunakan secara ekslusif oleh 15 orang ilmuwan di laboratorium Amerika Serikat di Los Alamos.

NAMRU

Siti Fadilah Supari pernah berkata dalam sebuah wawancara, bahwa laboratorium Media Angkatan Laut AS (NAMRU) yang berada di Indonesia untuk melakukan penelitian atas penyakit-penyakit tropis sama sekali tidak memberikan keuntungan apapun pada negara tuan rumah, dan tidak transparan dalam operasinya. Menteri mengatakan bahwa laboratorium Angkatan Laut AS di Jakarta telah menerima sampel virus dari seluruh bagian Indonesia, tetapi sekarang sudah dihentikan.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan virus-virus yang kami kirimkan itu."

Endang Rahayu Sedyaningsih adalah salah satu WNI yang berwenang atas keberadaan laboratorium Namru 2 (Naval Medical Research Unit/NAMRU-2), wanita yang pernah menjadi staf litbang Depkes ini, dituding oleh mantan Menkes sebelumnya, Siti Fadilah Supari, sebagai orang orang yang mengirimkan spesimen virus influenza A (H5N1) ke laboratorium NAMRU-2 saat Departemen Kesehatan yang saat itu dia pimpin memutuskan untuk menghentikan pengiriman spesimen guna memprotes mekanisme pertukaran virus WHO yang tidak adil.

Dia memiliki akses untuk keluar masuk dengan bebas di Namru. Aktivitasnya ini kemudian diketahui oleh Siti. Karena ketahuan itulah kemudian Endang dimutasi jabatannya dan diminta untuk minta maaf kepada Siti Fadilah.

Mengenai kedekatannya dengan orang-orang di laboratorium riset Angkatan Laut Amerika ini, Endang mengatakan sebagai peneliti dia sering berhubungan dengan lembaga-lembaga riset di dalam dan luar negeri termasuk Namru 2 dan mengenal orang-orang yang bekerja di sana.
"Jadi saya dekat dengan Namru, saya dekat dengan Belanda, saya dekat dengan NIID (National Institute of Infectious Diseases) di Jepang, saya dekat dengan China, ada penelitian malaria. Sebagai peneliti kita dekat dan bekerja sama. Jadi tidak ada saya dekat dengan ini, tidak dekat dengan itu. Itu semua berbasis profesional kerjasama," tegas Menkes Endang Rahayu ketika ditanya perihal kedekatannya dengan Namru, Kamis (22/10).

Kematian Para Ilmuwan

Lee Jong-woo (61)
Meninggal dunia pada 22 Mei 2006 , disebabkan oleh gumpalan darah pada otaknya. Dia memimpin perjuangan organisasinya untuk melawan ancaman global Flu Burung, AIDS, dll. Dirjen WHO sejak 2003, Lee adalah pejabat Internasional ternama yang tidak memiliki riwayat sakit.

Dr. Mario Alberto Vargas Olvera (52)
Meninggal dunia 6 Oktober 2007, karena beberapa luka benda-benda tumpul di kepala dan lehernya. Polisi mengkategorikannya sebagai pembunuhan. Ia adalah seorang ahli biologi yang terkenal secara nasional dan internasional.

Robert J. Lull
Meningggal 19 Mei 2005, meninggal karena motif perampokkan yang aneh. Inspektur bagian pembunuhan mengatakan :
"Seorang perampok pada umumnya akan mengambil lebih banyak benda-benda berharga korban ketimbang kartu kredit korban". Lull adalah mantan Kepala the American College of Nuclear Physicians, the San Fransisco Medical Society, dan juga bertindak sebagai editor jurnal San Fransisco Medicine."

Bagaimana Virus dan Bakteri Bisa Dikendalikan Sebagai Senjata Biologi

Sebetulnya saya belum begitu paham dengan mekanisme penciptaan virus. Namun dari sabuah buku pelajaran saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Virus atau Bakteri dapat di ciptakan dari Mutasi Biologis. Dalam komposisi mutagen yang memiliki kemampuan untuk mengubah kondisi DNA suatu sel, sehingga akan mengalami mutasi. Pada akhirnya bakteri atau virus dapat diciptakan sebagai vaksin ataupun senjata biologi.

"Perkembangan penduduk adalah isu yang sangat besar yang dihadapi dunia pada tahun-tahun mendatang, sebuah dunia pada tahun-tahun mendatang, sebuah dunia dengan penghuni 10 juta manusia bukanlah dunia yang ingin kita tinggali. Apakah kondisi dunia ini tidak dapat kita hindarkan? Ada dua cara yang memungkinkan kondisi dunia seperti itu dapat dicegah. Apakah dengan menurunkan jumlah kelahiran atau tingkat kematian meningkat. Tak ada cara lain."bld

sumber http://bldirgantara.blogspot.com/2013/04/virus-pemusnah-masal-dan-dibalik.html

Saturday, April 20, 2013

How to treat others : 5 lessons from unknown author

1. First Important Lesson - "Know The Cleaning Lady"

During my second month of college, our professor gave us a pop quiz. I was a conscientious student and had breezed through the questions, until I read the last one: "What is the first name of the woman who cleans the school?"
Surely this was some kind of joke. I had seen the cleaning woman several times. She was tall, dark-haired and in her 50s, but how would I know her name? I handed in my paper, leaving the last question blank.
Just before class ended, one student asked if the last question would count toward our quiz grade. "Absolutely," said the professor. "In your careers, you will meet many people. All are significant. They deserve your attention and care, even if all you do is smile and say "hello."
I've never forgotten that lesson. I also learned her name was Dorothy.

2. Second Important Lesson - "Pickup In The Rain"

One night, at 11:30 p.m., an older African American woman was standing on the side of an Alabama highway trying to endure a lashing rainstorm. Her car had broken down and she desperately needed a ride. Soaking wet, she decided to flag down the next car.
A young white man stopped to help her, generally unheard of in those conflict-filled 1960s. The man took her to safety, helped her get assistance and put her into a taxicab.
She seemed to be in a big hurry, but wrote down his address and thanked him. Seven days went by and a knock came on the man's door. To his surprise, a giant console color TV was delivered to his home. A special note was attached. It read: "Thank you so much for assisting me on the highway the other night. The rain drenched not only my clothes, but also my spirits. Then you came along. Because of you, I was able to make it to my dying husband's bedside just before he passed away. God bless you for helping me and unselfishly serving others."
Sincerely, Mrs. Nat King Cole.

3. Third Important Lesson - "Remember Those Who Serve"

In the days when an ice cream sundae cost much less, a 10 year-old boy entered a hotel coffee shop and sat at a table. A waitress put a glass of water in front of him. "How much is an ice cream sundae?" he asked. "50¢," replied the waitress.
The little boy pulled his hand out of his pocket and studied the coins in it. "Well, how much is a plain dish of ice cream?" he inquired. By now more people were waiting for a table and the waitress was growing impatient. "35¢!" she brusquely replied. The little boy again counted his coins. "I'll have the plain ice cream," he said.
The waitress brought the ice cream, put the bill on the table and walked away. The boy finished the ice cream, paid the cashier and left. When the waitress came back, she began to cry as she wiped down the table. There, placed neatly beside the empty dish, were two nickels and five pennies.
You see, he couldn't have the sundae, because he had to have enough left to leave her a tip.

4. Fourth Important Lesson - "The Obstacles In Our Path"

In ancient times, a King had a boulder placed on a roadway. Then he hid himself and watched to see if anyone would remove the huge rock. Some of the king's wealthiest merchants and courtiers came by and simply walked around it. Many loudly blamed the King for not keeping the roads clear, but none did anything about getting the stone out of the way.
Then a peasant came along carrying a load of vegetables. Upon approaching the boulder, the peasant laid down his burden and tried to move the stone to the side of the road. After much pushing and straining, he finally succeeded.
After the peasant picked up his load of vegetables, he noticed a purse lying in the road where the boulder had been. The purse contained many gold coins and a note from the King indicating that the gold was for the person who removed the boulder from the roadway. The peasant learned what many of us never understand - "Every obstacle presents an opportunity to improve our condition."

5. Fifth Important Lesson - "Giving When It Counts"

Many years ago, when I worked as a volunteer at a hospital, I got to know a little girl named Liz who was suffering from a rare and serious disease. Her only chance of recovery appeared to be a blood transfusion from her 5-year-old brother, who had miraculously survived the same disease and had developed the antibodies needed to combat the illness.
The doctor explained the situation to her little brother, and asked the little boy if he would be willing to give his blood to his sister. I saw him hesitate for only a moment before taking a deep breath and saying, "Yes, I'll do it if it will save her."
As the transfusion progressed, he lay in bed next to his sister and smiled, as we all did, seeing the color returning to her cheeks. Then his face grew pale and his smile faded. He looked up at the doctor and asked with a trembling voice, "Will I start to die right away?".
Being young, the little boy had misunderstood the doctor; he thought he was going to have to give his sister all of his blood in order to save her.

Source : http://www.globalone.tv/m/blogpost?id=3026128%3ABlogPost%3A15990

Wednesday, March 27, 2013

Hidup adalah Anugerah Bagi Jiwa yang Ikhlas

Yang tinggal di gunung merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan gunung.

Di musim kemarau merindukan musim hujan.
Di musim hujan merindukan musim kemarau.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.

Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah.

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entrepreneur supaya punya time freedom…
Begitu jadi Entrepreneur ingin jadi karyawan, biar gak pusing…

Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan.

Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/istri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/istri cantik, pengen yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh..

Punya anak satu mendambakan banyak anak.
Punya banyak anak mendambakan satu anak saja.

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki. Namun setelah dimiliki tak indah lagi. Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ? Semoga kita jd pribadi yang selalu bersyukur..Yg snantiasa bersyukur dngn berkah yg sudah kita miliki.
Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini? Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit. Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi! Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bumi ini pun akan tampak buruk. Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil. Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk/negatif!

Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua… Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yg ikhlas.

Dari https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10151416516964355&id=291202364354&set=a.10150443443424355.367228.291202364354&__user=100001454516596

Wednesday, March 6, 2013

Incapability hurts!

Suddenly, i feel the urge to have someone to talk to. But then i realize, there's no one to talk.
No, it's not that I don't have anyone. I do have few friends. But talking to them just doesn't feel right.
And it just proved that I don't trust anyone. Didn't it?

How to trust? WHO to trust?

It's not I-desperately-need-to-tell-something-so-I-have-to-find-others. It's just a curiosity, is there anyone I can trust?
I just need some second opinions about something. But from who? Who can give me some good, objective opinions?

First, I honestly think people can be very judgmental. Too quick to judge even when they have only a little information. I don't want people to misjudge the situation I have, especially when they consciously ignore the complete circumstances. I don't trust this kind of people.

Second, I believe that people cannot be trusted. For they provably never be able to keep secrets. It means that people have the incapability of being trusted.

And last, when I seek for some second opinions, I have had my hope high if there was someone who's capable of giving a decent opinion. But in fact, there isn't. I know, not a single opinion is decent enough for me. For I have thought of so many possibilities, considered many options, prepared for so many bad things. 

And that's why, my friends, the incapability hurts! It really does.

Friday, March 1, 2013

Getting older

When we were young, we always wanted to know almost about everything. We wanted to know every story, every secret about everyone. We befriended so many people, hoping to know their story, their life. We intended to be involved in life.
When we were young, we were so passionate almost about every thing. We loved to tell almost every story, every adventure we had to almost everyone who wants to listen. Well, sometimes we told stories to them who don't want to hear anyway.
As years pass by, we grow older. We don't really want to know every story, or every secret about anyone. We don't love others like we used to. We don't trust people. We learned that people cannot be trusted.
Then we realize that as we grow older, we don't tell much stories anymore, we listen instead. We've seen so many things, experienced so many adventures. So many stories we have yet the intention to tell stories becomes less.
Wow. Is getting older really THAT boring?
For you who asks, i'd say NO. When you are older, you have learned that life is a bitch, and the truth always hurts.
Remember all those fairy tales you've read? None of them really exist. Remember all the good people from those Enid Blyton's books? They almost extinct. Happiness is nothing but just an illusion. Nobody cares.
That's when you know that all of your stories and adventures are just about how to survive in this hell called life.
You start to live 'the boring way', as you called it. But it's not really that bad, because you'll learn later that it's the only way to have decent life. It'll only be 'boring' if you think it is.
And that's when you know you have to accept that this is life. You can't have all those bullshit you dreamed, or those beliefs you had when you were younger.