Thursday, July 9, 2015

Service Breakdown

Service breakdowns are inevitable.

Whether you work in a manufacturing company or in a service company, like mine. But, unlike in manufacturing companies, the main product of service companies is their service. And breakdowns in their service can cause huge impacts in service companies.

Recently I studied something about Service Breakdown Recovery Strategies. I remember all of em, without any doubt at all. And all day, the words just kept on ringing in my head. I didn't know why.

But now I know why.
It was a God's way to help me. Because just tonight, I had my own service breakdown.

Here's what had been ringing in my head all day and had helped me get through tonight:

Hidden inside a company’s worst moments lies an opportunity to bring a customer closer to the company itself. Indeed, if the company can learn to handle service breakdowns so masterfully, it's not impossible that the angry/dissatisfied customers can be loyal customers in the future.
When I had a moment of "Service Breakdown", I remembered it. I remembered it with all my heart. I also happened to remember all the Service Breakdown Recovery Strategy. Those are:


1. Empathize, pay some respects.
2. Listen to the customer in order to understand better.
3. Understand the reason, Explore their unfulfilled expectations.
4. Own the problem, explain all the possible solutions available.
5. Act to solve
6. Follow up
So, i just implemented all those strategies and i succeeded. I learned the best lesson today.
People may think it's easy to follow those steps/strategy without much efforts. But wait and see until they experience it themselves.

Anyway, i'm glad that i was able to relate to everything I've learnt so far and that I always found opportunity to implement every single thing (even the tiniest thing) to my field of work. That way, all the knowledge that have been given to me won't go to waste.

Oh, and that golden moment in the end of the "worst moment" of service breakdown, I really developed a really good relationship with my customers. This is truly something to be grateful.

Knowledge is always good, if we know how to use it wisely.

Monday, December 8, 2014

Seorang Pengusaha Galau dan Setitis Rizqi

Tanggal muda barangkali adalah saat yang paling ditunggu bagi sebagian besar orang. Saatnya rekening tersenyum gembira, melihat sederet angka nol berbaris rapi di belakang sejumlah angka.

Tapi tidak demikian halnya bagi seorang pengusaha. Tanggal tua atau muda sama saja. Saat rekening menjerit karena terus menerus kehilangan barisan nolnya. Dan sang empunya rekening ikut merintih lirih, "Allahumma inkaana rizqii fissamaa i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa akhrijhu, wa inkaana mu'assaran fayassirhu, wa inkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba'iidan faqarribhu"

"Ya Allah, apabila rizqiku berada di atas langit maka turunkanlah. Apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah. Apabila sukar, mudahkanlah. Apabila haram, sucikanlah. Apabila jauh, dekatkanlah"

Itulah do'a yang terus diulang-ulang tanpa lelah, tanpa bosan, tanpa ada rasa puas. Hingga suatu malam, saat sang pengusaha yang sedang gundah gulana berbaring akan tidur. Lama kemudian ia terdiam, hingga tak lama ia meraih selembar tissue di atas meja di samping tempat tidurnya. Sang pengusaha galau tersebut menangis. Airmata terus membanjiri pipinya. Ini airmata yang berbeda dari yang keluar saat ia melihat saldo terakhir di rekeningnya. 

Sang pengusaha menangis setelah membaca satu chapter dari sebuah buku, Lapis-Lapis Keberkahan judulnya. Kebetulan di chapter itu, sang penulis buku, Salim A. Fillah, sedang membahas mengenai rizqi. Sungguh, Allah memang memiliki cara tak terbatas untuk menjawab kegelisahan hambaNya. Berikut tulisan yang membuat sang pengusaha galau tersebut menangis:

"Seandainya kita adalah seekor cicak, mungkin sudah sejak dulu kita berteriak, 'Ya Allah, Kau salah rancang dan keliru cetak!' 
Sebab cicak adalah binatang dengan kemampuan terbatas. Dia hanya bisa merayap meniti dinding. Langkahnya cermat. Jalannya hati-hati. Sedang semua yang ditakdirkan sebagai makanannya, memiliki sayap dan mampu terbang ke mana-mana. Andai dia berpikir sebagai manusia, betapa nelangsanya. 'Ya Allah,' mungkin begitu dia mengadu, 'bagaimana hamba dapat hidup jika begini caranya? Lamban saya bergerak dengan tetap harus memijak, sedang nyamuk yang lezat itu melayang di atas, cepat melintas, dan ke mana pun bebas.' Betapa sedih dan sesak menjadi seekor cicak.

Namun, mari ingat sejenak bahka ketika kita kecil dulu, orangtua dan guru-guru mengajak kita mendendang lagu tentang hakikat rizqi. Lagu itu berjudul, Cicak-Cicak di Dinding. 

Bahwa tugas cicak memang hanya berikhtiar sejauh kemampuan. Karena soal rizqi, Allah-lah yang memberi jaminan. Maka kewajiban cicak hanya diam-diam merayap. Bukan cicak yang harus datang menerjang. Bukan cicak yang harus mencari dengan garang. Bukan cicak yang harus mengejar dengan terbang. 

'Datang seekor nyamuk'

Allah Yang Maha Mencipta, tiada cacat dalam penciptaanNya. Allah Yang Maha Kaya, atas-Nya, tanggungan hidup untuk semua yang telah dijadikan-Nya. Allah Yang Maha Memberi rizqi, sungguh lenyapnya seisi langit dan bumi tak mengurangi kekayaanNya sama sekali. Allah Yang Maha Adil, takkan mungkin Dia bebani hamba-Nya melampaui kesanggupannya. Allah Yang Maha Pemurah, maka Dia jadikan jalan karunia bagi makhluq-Nya amatlah mudah.

'Datang seekor nyamuk'


Allah yang mendatangkan rizqi itu. Betapa dibanding ikhtiyar cicak yang diam-diam merayap, perjalanan nyamuk untuk mendatangi sang cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku, dan lebih dahsyat. Jarak dan waktu memisahkan keduanya, dan Allah dekatkan sedekat-dekatnya. Bebas si nyamuk terbang ke mana jua, tapi Allah bimbing ia supaya menuju pada sang cicak yang melangkah bersahaja. Ia tertakdir dengan bahagia, menjadi rizqi bagi sesama makhluqNya, sesudah juga menikmati rizqi selama waktu yang ditentukanNya.


'Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah lah rizqinya. Dia Maha Mengetahui di mana tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata.' (QS Huud [11]: 6)


'Daabbah', demikian menurut sebagian Mufassir, 'Adalah kata untuk mewakili binatang-binatang yang hina bersebab rendahnya sifat mereka, terbelakang cara bergeraknya, kotor keadaannya, liar hidupnya, dan bahkan bahaya dapat ditimbulkannya.' Allah menyebut daabbah di ayat ini, seakan-akan untuk menegaskan; jika binatang-binatang rendahan, terbelakang, kotor, liar, dan berbahaya saja Dia jamin rizqinya, apatah lagi manusia.


'Sesungguhnya rizqi memburu hamba', demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana dicatat oleh Imam Ath Thabrani, 'Lebih banyak dari kejaran ajal terhadapnya.'


Ini kisah sebutir garam. Titah Ar Rahman kepadanya adalah untuk mengasinkan lidah dan mengisi darah seorang hamba hina bernama Salim, yang tinggal di Yogyakarta. Betapa jauh baginya, sebab ia masih terjebak di dalam ombak, di Laut Jawa yang bergolak.

 Setelah terombang-ambing bersama penantian yang panjang, angin musim bergerak ke timur, menggesernya pelan-pelan menuju pesisir Madura. Dan petani-petani garam di Bangkalan, membelokkan arus air ke tambak-tambak mereka. Betapa bersyukur sebutir garam itu saat ia mengalir bersama air memasuki lahan penguapan. Penunaian tugasnya kian dekat.
 Tiap kali terik mentari menyinari, giat para petambak itu menggaru ke sana kemari, agar bebutir yang jutaan jumlahnya kian kering dan mengkristal. Sebutir garam yang kita tokohkan dalam cerita ini, harap-harap cemas semoga ia beruntung dimasukkan ke dalam karung goni. Sebab sungguh, ada bebutir yang memang tugasnya berakhir di sini. Tertepikan bersama becekan lumpur di sudut-sudut ladang garam.
Dan dia terpilih, terbawa oleh para pengangkut ke pabrik pemurnian di Pamekasan. Sebakda melalui serangkaian pembasuhan dan pengisian zat-zat yang konon mendukung kesehatan, dia dikemas rapi, digudangkan untuk menunggu pengepakan dan pengiriman. Betapa masih panjang jalannya, betapa masih lama berjumpa dengan sosok yang ia dijatahkan sebagai rizqi baginya.
Ringkasnya, setelah berbulan, ia malang melintang menuju Jakarta, lalu Semarang, sebelum akhirnya tiba di Yogyakarta. Dari pasar induknya, terlempar ia ke pasar kota, baru diambil pedagang pasar kecamatan akhirnya. Lalu terkulaklah ia oleh pemilik warung kecil, yang rumahnya sebelah-menyebelah dengan makhluq yang ditujunya. Kian dekat, makin rapat.
 Ketika seorang wanita, istri dari lelaki yang akan ia tuju dalam amanah yang diembannya, membeli dan menentengnya pulang, betapa haru rasanya. Masuklah ia ke dalam masakan lezatnya, berenang dan melarutkan dirinya. Lalu terdengar suara, “Sayang, silakan sarapan. Masakannya sudah siap.” Dan lelaki itu, bergerak pelan dari kamarnya, menjemputnya dengan sebuah suapan yang didahului doa.
Segala puji bagi Allah, yang memberi titah untuk mengasinkan lidah dan mengisi darah. Segala puji bagi Allah, yang mengatur perjumpaannya dengan makhluq ini sesudah perjalanan yang tak henti-henti. Segala puji bagi Allah, yang menyambutkan doa bagi tunainya tugas yang diembannya.

***

Betapa jarang kita mentafakkuri rizqi. Seakan semua yang kita terima setiap hari adalah hak diri yang tak boleh dikurangi. Seakan semua yang kita nikmati setiap hari adalah jatah rutin yang murni dan tak boleh berhenti. Seakan semua yang kita asup setiap hari adalah memang begitulah adanya lagi tak boleh diganggu gugat.

Padahal, hatta sebutir garampun adalah rizqi Allah yang menuntut disyukuri.

Hatta sebutir garam, menempuh perjalanan yang tak mudah lagi berbulan, untuk menemui pengasupnya yang hanya berpindah dari kamar tidur ke ruang makan. Betapa kecil upaya kita, dibandingkan cara Allah mengirimkan rizqiNya. Kita baru merenungkan sebutir garam, bagaimanakah bebijian, sayur, ikan, dan buahnya? Bagaimanakah katun, wol, dan sutranya? Bagaimanakah batu, kayu, pasir, dan gentingnya? Bagaimanakah besi, kaca, dan karet rodanya?

Maka seorang ‘Alim di Damaskus suatu hari berkata tentang sarapannya yang amat bersahaja, 'Gandum dari Najd, garam dari Marw, minyak dari Gaza, dan air Sungai Yordan. Betapa hamba adalah makhluqMu yang paling kaya wahai Rabbana!'

Dia mengingatkan kita pada sabda Rasulullah. 'Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya bebarang harta”, demikian yang direkam Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, “Kekayaan sesungguhnya adalah kayanya jiwa.'

Akhirnya, mari kita dengarkan sang Hujjatul Islam. 'Boleh jadi kau tak tahu di mana rizqimu', demikian Imam Al Ghazali berpesan, 'Tetapi rizqimu tahu di manakah engkau. Jika ia ada di langit, Allah akan memerintahkannya turun untuk mencurahimu. Jika ia ada di bumi, Allah akan menyuruhnya muncul untuk menjumpaimu. Dan jika ia berada di lautan, Allah akan menitahkannya timbul untuk menemuimu.'

Di lapis-lapis keberkahan, ada keyakinan utuh yang harus ditanamkan, bahwa Allah Yang Mencipta, menjamin rizqi bagi ciptaanNya. "

(Dari buku Lapis Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah)



Betapa malunya sang pengusaha tersebut setelah membaca buku tersebut. Baru saja ia galau, gundah karena khawatir kehilangan rizqi. Baru saja ia sibuk berpikir bagaimana caranya meningkatkan pendapatan, atau berhemat. Sebegitu khawatirnya ia jika nanti usahanya mengalami kesulitan sedangkan ia tidak memiliki dana cadangan yang cukup. Begitu banyak kekhawatiran, juga termasuk kekhawatiran bahwa ia tidak bisa memenuhi targetan pribadinya. Tahun 2015 harus begini, tahun 2016 harus begitu. Terus khawatir.

Dan Allah menunjukkan kuasa-Nya, memberi petunjuk-Nya, melalui sebuah buku.
Bahwa Allah telah menjamin rizqi setiap makhluq-Nya, tidak akan berkurang sedikitpun dari jatahnya masing-masing. Bahwa sebagaimana pun kerasnya seorang manusia berjuang mencari rizqi, tidak akan berlebih dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya.

Yang berbeda hanyalah rasanya. Rasa syukur akan membuat setiap rizqi yang Allah titipkan kepada manusia menjadi nikmat. Walaupun target barisan angka nol tidak terpenuhi, Allah sanggup untuk mengkaruniakan rasa nikmat yang sama jika kita bersyukur. Pun sebaliknya, walau rekening menggemuk, angka nol berbaris-baris di cetakan buku tabungan, tidak akan terasa nikmatnya, tidak akan ada habisnya rasa tidak puas.

Inilah rizqi. Ust.Salim di bukunya menyebutkan bahwa soal rizqi itu soal rasa. Jika suatu saat nanti sang pengusaha berpenghasilan 20 juta rupiah sebulan, belum tentu itulah rizqinya. Bisa jadi 20 juta rupiah perbulan itu terasa bagaikan hanya 2 juta rupiah baginya. Karena telah hilang padanya rasa syukur.

Begitulah kisah sang pengusaha galau dari negeri tetangga. Semoga kita senantiasa kuat mengupayakan rasa syukur dalam setiap usaha. Sesungguhnya apa yang telah kita dapat, hasil dari usaha kita, berapapun nominalnya adalah yang terbaik dari apa yang baik yang telah Allah pilihkan untuk kita. 


"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibraahiim[14] : 7)

Friday, December 5, 2014

Do'a khusus

Akhir akhir ini saya memiliki doa yang khusus.

Saya sadar bahwa saya orang yang ceroboh, sering tergesa-gesa, dan kurang bijaksana. Terutama mengenai satu hal; hubungan saya dengan manusia lainnya.

Berkaca dan belajar dari pengalaman di masa lalu, lingkungan pergaulan dan pertemanan sedikit banyak memberi warna di hidup saya. Warna yang tak selalu cerah, namun juga ada kelabu.

Saya yakin ini ada tujuannya, ada ibrahnya, bahwa saya dipertemukan dengan berbagai jenis manusia. Salah satunya mungkin adalah saat ini, saat saya sampai pada titik di mana saya sudah tidak bisa atau tidak mau atau tidak tau apakah saya harus kembali mempercayai orang lain.

Maka dengan kondisi seperti sekarang ini, saya hanya memiliki satu tali pegangan. Yaitu do'a.
Jadi inilah do'a khusus saya.

Saya memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang baik, memiliki niat dan tujuan yg baik, dengan cara yang baik.
Saya meminta agar saya diberi kebijaksanaan, pengetahuan, dan petunjuk agar bisa mengetahui mana orang yang baik, yang memberi manfaat baik pada saya dan pada keluarga saya. Saya memohon agar jikalau ada orang-orang seperti itu di sekitar hidup saya saat ini, untuk didekatkan pada saya. Saya memohon kepada Allah untuk menguatkan hubungan kami, hingga kami bisa menjadi manusia yang sama-sama baik, saling memberi pengaruh baik, dan mampu menebar kebaikan bagi lingkungan.

Adapun terhadap orang-orang yang belum baik, masih memiliki niat dan pengaruh kurang baik, serta bisa berakibat kurang baik di masa depan bagi saya dan keluarga, saya memohon kepada Allah untuk dijauhkan darinya. Saya tidak ingin tersesat lagi, sudah cukup episode ketersesatan saya di masa lalu.
Jikalau saat ini di sekitar hidup saya ada orang yang walaupun saya anggap baik namun ternyata memiliki niat,pengaruh serta potensi kurang baik bagi masa depan saya, saya memohon untuk dijauhkan sejauh-jauhnya.

Hanya Allah yang paling mengetahui apa yang baik dan buruk bagi tiap hambaNya.

Adapun hati manusia, memang dalam genggamanNya. Bisa jadi hati ini cenderung merasa cocok pada seseorang, namun orang itu bukan yang baik untuk saya. Sedangkan ada orang-orang yang baik yang sedang Allah persiapkan untuk saya, jika saya juga giat, tekun, dan sabar dalam memperbaiki diri.
Tak lupa pula saya memohon kepada Allah untuk membantu saya dalam merapikan, menata, dan menjaga hati ini. Hingga pada saatnya tiba, datang masa ketetapanNya, Allah pertemukan saya dengan orang-orang baik yang akan mengisi hidup saya dengan penuh kebaikan. Sampai di penutup usia, berakhir dengan kebaikan. Allahumma aamiin.

Tuesday, December 2, 2014

Jatinegara oh Jatinegara

Satu hal yang saya sadari saat ini bahwa saya sukaaaa sekali menjadi seorang pengusaha. Siapa yang akan pernah menyangka saya bisa jatuh cinta pada profesi ini. Satu tahun yang lalu saya hanyalah seorang penyendiri, tidak suka keluar rumah dan bertemu orang lain dan merasa aman ada di zona nyaman. Siapa pun yang mengenal saya satu tahun yang lalu, akan terpana bahkan mungkin tidak percaya bahwa saya telah mantap menjalani profesi sebagai seorang pengusaha.

Salah satu hal yang paling saya sukai dari pekerjaan ini adalah selalu ada cerita. Di balik semua kesulitan, tantangan, terselip sebongkah kebahagiaan yang besar di balik setiap kejadian. Kejadian yang kebanyakan bikin geleng-geleng kepala dan melelahkan, terkadang, tapi selalu bisa membuat saya tersenyum bahkan tertawa di ujung hari. Membuat saya makin mencintai setiap momen bersamanya.

Seperti hari ini. Di kawasan Jatinegara.

Hari ini saya berencana pergi ke kawasan Jatinegara, ada keperluan di sana. Menjelang keberangkatan, saya mendapat telpon dari salah satu mentor saya. Beliau mau bertemu, dan saya tawarkan untuk bertemu di kantor Gedung Global TV, Rasuna Said, Kuningan. Ok, kita ketemu di sana.

Di separuh perjalanan ke Jatinegara dari Bekasi, Ibu Mentor telpon lagi.
"Rin, di mana?"
"Masih di jalan, bu. Macet." Yaiyalaaaah. BEKASI, GITU LOH  lonely onion head
"Oke nanti calling-calling lagi ya kalau udah mau ke kantor"

Sekitar jam 1-an saya di Pasar Jatinegara, keliling-keliling. Urusan saya belum selesai. Ibu mentor telpon lagi. Dan diputuskan untuk ketemuan di Jatinegara saja, saya tak usah ke kantor. Dasar saya yang oneng, saya iya-iya aja. Saya nggak nanya lokasi ketemuan di mana.

Sekitar jam setengah 3, urusan saya di pasar sudah selesai, saya menghubungi Ibu Mentor lagi.
Kata beliau, "Setelah pom bensin Jatinegara, ada mall, nanti ada kentaki, kita ketemu di sana"
Pikiran saya yang lugu dan polos, seberapa susah sih mencari mall di Jatinegara, yang lokasinya setelah pom bensin dan ada kentaki nya?? Perkara keciiil itu. Seharusnya.

Tapi apa yang terjadi, saudara-saudara? Setelah keluar pasar Jatinegara, saya muter muter, mungkin ada sekitar 5 kali di jalan yang sama, melewati pom bensin yang sama, mall PGJ yang sama, dan saya belum menemukan satu batang hidung pun kentaki.

Kemudian timbul pertanyaan, apa yang sebenarnya dimaksud dengan kentaki?  KFC? Atau McD?
Saya berhenti di pom bensin (untuk yang keberapa kali, hanya Tuhan yang tau), bertanya pada petugasnya. Kira-kira kentaki yang dimaksud itu apa, yang lokasinya terdekat dengan pom bensin.
Sang petugas kemudian mengarahkan saya ke McD di dekat sana, dan saya harus putar balik melewati kantor polisi Jatinegara untuk yang kesekian kalinya.

Sampai di sana, ternyata belum selesai. Kentaki yang dimaksud Ibu Mentor saya ini bukan McD, tapi KFC yang di dekat pom bensin. Pertanyaan selanjutnya, pom bensin mana?? Saya bahkan sudah balik ke pom bensin yang tadi (iya, yang tadi lagi crying2 onion head) dan celingukan, tapi tak ada KFC sama sekali.

Sedikit penjelasan mengenai background kejadian ini:
1. Ibu Mentor saya orang Makassar, walaupun sudah lumayan lama di Jakarta namun masih agak susah mengenali lokasi-lokasi di Jakarta.
2. Saya walaupun dari kecil sudah hidup di Bekasi, tapi 8 tahun terakhir ini saya hidup di Jogja. Saya baru pulang kampung sekitar 2 bulan ini, dan jangankan Jakarta, Bekasi saja sudah membuat saya pangling.
3. Sedari dulu saya memang jarang bepergian ke sekitar Jakarta menggunakan kendaraan pribadi. Kalau saya pergi sehari-hari, biasanya saya naik commuter. Daerah jajahan saya tidak pernah begitu jauh dari stasiun setempat.
4. Ini pertama kalinya dalam seumur hidup saya ke Jatinegara (bukan stasiun), dan menggunakan kendaraan pribadi. Jadi, saya sama sekali buta jalan.

Itulah mengapa saya tersasar. Walaupun Ibu Mentor menjelaskan arah jalan ke saya via telpon, saya tetap tidak mengerti. Hingga akhirnya ada satu ancer-ancer yang paling mudah: Rumah Sakit Premier Jatinegara. Dari lokasi saya berhenti saat itu, akhirnya saya melihat gedung yang bercahaya itu wow1 onion head dan mengikuti petunjuk Ibu Mentor hingga sampai selamat sehat sentosa ke KFC Jatinegara.

Hingga siang tadi, saya tidak tau bahwa Jatinegara bisa bikin stress. Kawasan itu macet luar biasa, dan saya berhasil survive dalam 6-7 siklus kemacetan itu. Entah saya harus tepuk tangan atau tepok jidat. 18 Tahun saya hidup di area ibukota, tapi bahkan keluar Bekasi saja saya masih tersasar. hell yes onion head


Tapi malam ini, saat saya mengingat semua kekacauan siang tadi, sungguh saya bisa tertawa sangat lepas. Kekonyolan yang luar biasa yang hanya bisa dialami oleh orang yang jarang keluar goa macam saya. Semua mental breakdown dan frustrasi hanya karena masalah kentaki berganti menjadi tawa dan bahan bercanda antara saya dan keluarga berserta teman-teman. Pengalaman orang Bekasi yang keluar dari planetnya dan menemukan planet baru. " 'Ada Alien Nyasar di Jatinegara', Headline Poskota besok" begitu komentar salah seorang teman saya. Hahahaha.

Begitulah setiap hari, selalu ada cerita. Selalu ada tawa. Hidup itu adalah ruang belajar yang teramat luas. Ilmunya tiada pernah surut, gurunya selalu berganti.

Friday, November 28, 2014

Loneliness

Menjadi seorang pengusaha itu memang menyisakan banyak cerita.

Sebagai seorang nubie di dunia bisnis, langkah saya pun masih tertatih tatih. Kadang saya bingung harus bagaimana, kadang saya punya ide dan rencana yang bagus, tapi berantakan dalam mengeksekusinya. Salah satu hal yang sampai saat ini masih saya pelajari dengan teramat dalam adalah bagaimana berhubungan dengan manusia.

Manusia yang telah Allah SWT ciptakan beraneka ragam rupanya, wataknya, gaya bicaranya, latar belakang pendidikan dan lingkungan sosialnya. Namun di setiap interaksi dengan orang lain, saya selalu menemukan sesuatu, belajar sesuatu yang baru.

Misal, saat salah satu customer menghubungi saya via telepon. Awalnya memang pembicaraan kami seputar bisnis, dan saya pun menanggapinya secara profesional. Namun tak jarang yang kemudian menjadi merasa akrab lalu kemudian memuntahkan isi hatinya kepada saya. Iya, via telepon.

Saya selalu menganggap bahwa setiap interaksi yang saya lakukan bersama customer saya, itu adalah bagian dari pekerjaan. Bahwa menyimak dan menanggapi, bahkan mencoba memberi solusi atas persoalan pribadinya adalah bagian dari pekerjaan saya. Dan ketika saya bekerja, saya melakukannya dengan sungguh-sungguh. Saya tidak suka main-main.

Dan ketika ada customer yang menjadi merasa begitu akrab kepada saya, dia sering curhat, bahkan hampir setiap saat, saya menjadi tertegun sesaat. Apa yang sedang terjadi di sini?

Disadari atau tidak, sesungguhnya, setiap manusia itu kesepian. Ada orang yang mudah menyadarinya, tapi tidak memiliki solusi atasnya, kemudian menjadi depresi. Ada juga yang seperti saya (mungkin) yang belum kunjung menyadarinya, atau hidup di dalam penyangkalan dan berusaha membenamkan diri dalam berbagai macam kegiatan untuk membunuh rasa kesepian itu.

Kadang kala rasa kesepian itu memang tidak dirasakan, sampai kita menemukan orang yang bisa membuat kita tidak lagi kesepian.

Barusan saya menyadarinya. Saat salah seorang customer mengirim sms kepada saya, "Teh, masa beras banyak semutnya sih"
Saya spontan membalas, "Maksudnya?"
Sms balasan darinya masuk dengan cepat, isinya "Iya, kok bisa sih beras disemutin? Ini berasku disemutin"

Saya pun termenung dengan lama. Apakah itu tanda-tanda kesepian?
Hati saya begitu tersentuh. Kalau ia benar-benar sedang kesepian dan sama sekali tidak memiliki solusi atasnya, dan meng-sms saya hanya untuk berbicara masalah beras dan semut adalah salah satu cara yang bisa ia pikirkan untuk membunuh rasa kesepian itu, solusi apa yang bisa saya berikan?
Saat itulah saya melepaskan 'pakaian pekerjaan' saya, dan berusaha untuk menjadi temannya. Hanya temannya. Karena mungkin itulah yang paling dia butuhkan saat ini.

Kami berbincang lama, tidak ada urusannya dengan pekerjaan. Hingga barusan, sms terakhir saya tidak lagi dibalas olehnya. Mungkin dia sudah tertidur.

Saya tidak tau mengapa saya mengalami kejadian seperti ini. Mungkin ini teguran Allah kepada saya. Selama ini saya jarang merasa kesepian, bahkan saat saya sendirian dan dalam "pengasingan" dulu itu. Kalau berbicara soal kesepian, saya tidak terlalu mengerti.
Tapi malam ini, saya sedikit mengerti. Saya tiba-tiba menjadi lebih mengerti.

Saya bersyukur atas pelajaran yang Allah berikan pada saya melalui kejadian malam ini. Tiada tersia satu episode pun dalam drama kehidupan manusia. Allah selalu memberikan petunjukNya, hanya tergantung pada manusia, mau belajar dan bersyukur atau tidak.


Wednesday, November 26, 2014

Seorang lelaki dan seorang kakek

Terkisah, ada seorang lelaki yang buta aksara.
Karena keinginannya yang kuat untuk terbebas dari kebodohan, dia pergi menuntut ilmu. Dengan giat dan sabar, dia belajar dan belajar hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang kakek.

Mereka berbincang-bincang santai. Sang kakek pun menemukan bahwa lelaki tersebut sedang dalam proses menimba ilmu. Sang kakek merasa tertarik, kemudian bertanya mengenai ilmu yang baru saja dipelajari oleh sang lelaki. Sang lelaki pun menjelaskan, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya mengenai ilmunya. Dia bercerita dengan hati yang tulus dan antusias dalam membagi ilmunya, walau masih sedikit dan tak seberapa nilainya.

Setelah sang lelaki selesai bercerita, sang kakek memberikan komentarnya. Betapa ilmu yang baru saja dipelajari oleh sang lelaki bertentangan dengan apa yang diketahuinya. Sang kakek juga sempat menyebutkan beberapa ilmu lain yang mendukung pendapatnya.

Sesaat, sang lelaki tertegun. Ia pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah kakek yang baru ditemuinya? Mengapa kakek tersebut justru mengetahui lebih banyak daripada dirinya sendiri?

Saat itulah kemudian sang kakek mengaku bahwa dulunya ia adalah seorang ilmuwan. Dari obrolan selanjutnya, sang lelaki menemukan bahwa sang kakek sangat pandai dan berwawasan luas. Ia pun merasa semakin malu, ia baru saja menjelaskan ilmu dan pemahamannya yang sederhana pada orang yang ternyata lebih berilmu, seolah menebar garam di lautan.

Sang lelaki terdiam. Ia tidak pernah bermaksud untuk merasa lebih pintar lalu untuk kemudian membagikan ilmunya yang sederhana kepada siapapun. Terlebih lagi, kepada seorang ilmuwan yang ilmunya telah melebihi dirinya. Tetapi sang kakek ilmuwan telah membuatnya seolah menjadi seperti itu.

Andaikan saja sang kakek mau jujur dan terbuka sejak awal bahwa ia adalah seorang ilmuwan yang telah mengetahui ilmu sederhana yang dimiliki oleh sang lelaki, mungkin mereka justru akan saling mengerti. Sang lelaki tidak akan menuai rasa malu, bahkan justru bisa belajar dari sang kakek.

Dan sang kakek, mungkin tidak akan kehilangan banyak waktu hanya untuk mendengarkan sang lelaki menjelaskan ilmu yang telah diketahuinya sejak lama.

Sunday, November 9, 2014

Tersesat

Hidup di dunia itu tidak sendirian, dan tidak terlepas dari konflik antar sesama manusia. Saat terjadi konflik, terkadang saya masih tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Masih mengingat-ingatnya, menyimpannya teramat dalam di hati saya, membuatnya semakin busuk seiring berjalannya waktu.
Saya masih enggan menyapa orang yang pernah menyakiti saya, tidak mau berkomunikasi dengannya, membuang muka saat bertemu dengannya, tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan, atau meminta maaf.

Padahal Allah Maha Pengampun.
Jikalau Allah itu mendendam, Dia tidak akan memaafkan dan mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu. Terus-menerus mengingatnya, menghitung-hitungnya, menantikan saat yang tepat untuk membalas segala perbuatan buruk saya di masa lalu.
Tetapi tidak, Allah memaafkan dan mengampuni dosa setiap makhlukNya, asalkan bukan dosa karena menyekutukanNya. Ia menerima taubat, tetap mengasihi dan menyayangi makhlukNya, mengabulkan do'a yang tulus dipanjatkan. Dia tidak pernah perhitungan dalam memberikan kasih sayangNya.

Jikalau Allah mau, Dia bisa membuka seluruh aib saya, menyebarkannya kepada jin dan manusia. Membuat saya bagaikan kotoran yang berjalan, menebarkan bau yang tak sedap.
Tetapi Allah menyimpannya, menyembunyikannya dengan amat rapi. Bahkan Allah masih memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri, memulai hidup yang baru, menjadi lebih baik, sampai akhirnya diri yang penuh aib ini menuai banyak pujian, kekaguman.

Lalu mengapa hati saya bisa sampai ingin menyebar aib dan keburukan orang lain? Menambah-nambahkannya dengan tujuan ingin seseorang dicap buruk oleh orang-orang lainnya. Lisan ini mudah memutar-balikkan fakta, menyebar hasut dan fitnah, semata ingin agar orang lain membenci seseorang?

Seringkali saya tidak sadar, bahwa saya sebagai manusia telah berperilaku berlebihan. Merasa diri yang paling baik, merasa memiliki hak untuk menghakimi orang lain. Merasa memiliki hak untuk membalas perlakuan buruk orang lain dengan perlakuan yang sama buruknya, bahkan lebih buruk.

Padahal Allah tidak pernah demikian.
Seburuk-buruknya saya, Allah tidak pernah menyulitkan hidup saya. Allah tidak pernah memberi apapun kepada saya kecuali yang terbaik. Bukan hanya itu, Dia juga masih mau mendengarkan do'a-do'a saya di saat saya putus asa, jeritan kesedihan terdalam saya yang tidak pernah sanggup saya ungkapkan kepada siapapun.
Ada trilyunan makhluk-Nya, masing-masing memohon untuk didengar dan ditanggapi. Tetapi Allah masih bisa berlaku adil, Dia mendengar setiap panjatan do'a, tidak pernah bosan mendengar do'a yang diucap berulang-ulang. Mengabulkan permohonan do'a yang sama.

Jikalau Allah itu pencemburu berat,
Sudah berapa kali Ia akan ngambek karena saya jarang menemuiNya saat senang dan hanya ingat padaNya saat saya sulit? Bahkan, di saat sholat, ruku', dan sujud pun saya tidak selalu mengingatNya. Terkadang dikalahkan oleh hal-hal sepele, seperti es krim, atau dering telpon, atau pekerjaan yang belum selesai.

Tetapi tidak, berapa kali pun ruku' dan sujud kita, walaupun seringnya dilakukan dengan kurang sempurna, Dia tetap bergembira menyambut kita.

Berapa kali pun ibadah lainnya yang saya lakukan hanya sebagai penggugur kewajiban dan terkadang bercampur riya', Allah tetap menganggap saya adalah hambaNya. Allah tetap mengharapkan kedatangan hambaNya kepadaNya dalam kondisi terbaik, dengan usaha yang terus menerus lebih baik.

Lalu mengapa saya mudah putus asa? Saat datang ujian Allah yang sedikit saja bertambah tingkat kesulitannya, saya mudah untuk merasa down, patah semangat, kebingungan mengatasi persoalan.

Padahal Allah tidak pernah satu kali pun membiarkan saya sendirian. Saat saya merasa jauh dariNya, bukan Dia yang menjauh, tetapi saya yang menjauh.
Harapan saya bukan lagi hanya padaNya, padahal Dia Yang Maha Menentukan.
Saat beban terasa semakin berat, saya malah memohon untuk diringankan beban tersebut, bukan memohon untuk diberikan diri yang semakin kuat.

Tetapi itu semua tidak membuat Dia membenci saya, atau makhluk lainnya yang mengalami hal seperti yang saya alami.
Allah tetap menyayangi setiap makhlukNya, tidak berkurang sedikitpun kasih sayangNya setiap saat.

Tanpa saya sadari, saya memang kufur nikmat selama ini. Selalu merasa kurang. Kurang cantik, kurang pintar, kurang sejahtera, kurang bahagia, terlalu banyak memiliki masalah.
Tapi, sesungguhnya Allah telah memberikan saya banyak hal, hanya saja saya yang amat sangat kurang bersyukur.
Kalau saya merasa kurang bahagia, itu bukan karena saya tidak memiliki sesuatu, tetapi karena saya tidak mensyukuri apa yang saya miliki.

Ah, sekarang saya tersadar bahwa selama ini saya sudah tersesat. Tersesat dalam labirin kenegatifan. Dan saat ini Allah telah menunjukkan secercah cahaya sebagai pedoman bagi saya dalam ketersesatan. Cahaya tersebut bernama hidayah.
Tugas saya saat ini adalah menjaga agar supaya cahaya tersebut tidak padam. Syukur-syukur jika menjadi semakin terang dan menerangi jalan di sekitar saya, membantu yang lain yang mungkin juga sedang tersesat.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".
(Q.S. Ali Imraan: 8)

Friday, October 31, 2014

Syukur

Saya bersyukur.

Saya bersyukur atas apa yang saya miliki hari ini. Hal-hal yang belum tentu semua orang miliki. Yang terasa remeh temeh bagi saya, namun mahal bagi sebagian orang lain.
Kesehatan.
Hal yang seringkali terlupakan untuk disyukuri. Seperti keleluasaan untuk menghirup nafas kehidupan, kekuatan untuk tetap dapat beraktifitas, menjemput rizqi yang telah dijatahkan oleh Allah SWT.

Saya juga bersyukur atas rasa aman dan nyaman di rumah, tempat tinggal saya, yang walaupun bukan milik saya, tapi sanggup menjaga dan melindungi diri saya.
Betapa banyak orang yang memiliki tempat tinggal yang lebih baik namun tidak merasa cukup.

Saya amat bersyukur atas keluarga ini. Keluarga yang walaupun jauh dari kesempurnaan, namun tetap saling menjaga. Saya tidak menuntut keluarga ini menjadi sempurna, cukup bagi saya bahwa mereka ada dan selamanya mereka akan menjadi sumber motivasi bagi saya.
Betapa banyak keluarga lainnya yang terlihat sempurna dari luar, namun ternyata juga memiliki masalah yang lebih berat.
Setiap keluarga memiliki permasalahannya masing-masing.

Saya bersyukur, amat sangat bersyukur atas kecukupan rizqi yang Allah berikan kepada kami selama ini. Tiada pernah kekurangan satu rupiahpun, walaupun juga tidak berlebihan. Rizqi yang amat sangat cukup untuk menjaga kami tetap bertahan hidup, yang berusaha kami dapatkan dan keluarkan dengan cara yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Adil kepada setiap makhluknya. Tiada pernah tertukar rizqi setiap makhlukNya, walau satu sen pun.

Saya bersyukur atas nikmat iman, yang berfungsi sebagai benteng pertahanan diri saya diantara gempuran ujian, cobaan, dan godaan. Tiada pernah berkurang sedikitpun keyakinan saya, bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah mendzolimi makhluknya, sesulit apa pun keadaan yang pernah terjalani.
Iman yang membawa saya kembali ke jalur yang benar setelah saya berkali-kali tersesat. Iman yang bagaikan cahaya di masa-masa kegelapan yang berulang kali terjadi.
Inilah nikmat yang paling saya syukuri. Tanpa pertolongan Allah, sesungguhnya saya tidak bisa apa-apa. Sesungguhnya saya hanyalah makhluk yang seringkali bodoh, ceroboh, tergesa-gesa, mudah putus asa. Namun berkali-kali, keimanan membawa saya pada keyakinan bahwa Ada Yang Menjaga saya. Dan selama saya percaya pada-Nya, semua tiada akan pernah tersia. Kesulitan, ujian, hambatan, kesedihan, kebahagiaan, semuanya pasti ada maksud dan tujuannya. Yaitu yang terbaik untuk saya.

Saya bersyukur atas semuanya. Saya bersyukur atas rasa syukur ini. Sesungguhnya saya telah merasa cukup, lebih daripada cukup. Allah telah memberikan semuanya pada saya. Apa lagi yang kurang?
Cara terbaik untuk mensyukuri rasa syukur ini adalah dengan berusaha yang terbaik. Apa pun yang saya lakukan dalam sisa hidup ini, saya berusaha untuk memberikan yang terbaik dari seluruh kemampuan saya.

Innasholaati wanusukii wamahyaaya wamamaatii lilLaahi Rabbil 'aalamiin..
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, tuhan seluruh alam.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" - Q.S. Ali Imraan:8

Tuesday, October 28, 2014

Agen Biro Jodoh

Bergabung di sebuah komunitas memang membuahkan banyak cerita.
Sebenarnya saya bukan orang yang suka bergaul ke sana kemari. Berkenalan dengan orang-orang baru pun masih terasa kurang nyaman bagi saya. Namun, akhir-akhir ini saya mencoba untuk memberi challenge pada diri sendiri. Sejauh apa saya bisa melangkah, setinggi apa saya bisa melompat, sebesar apa kekuatan diri saya sendiri.

Challenge tersebut pun melibatkan sesuatu yang sama sekali bukan zona nyaman saya. Kalau zona nyaman saya adalah berada di ruangan tertutup, di depan buku, komputer, atau spesimen, apa yang akan terjadi saat saya harus berkenalan dengan orang-orang baru setiap saat? Saya harus berbincang, membangun pertemanan dengan mereka.

Yang unik adalah saya bertemu dengan berbagai kalangan. Mulai dari para pebisnis papan atas yang kebanyakan adalah para chinese (tanpa bermaksud rasis sama sekali, justru saya sangat kagum dengan mereka, senior-senior saya); kalangan Ibu-Ibu rumah tangga yang rempong dan tak pernah kehabisan bahan pembicaraan; kalangan socialita arisan elit, yang jadwal arisannya dalam sehari melebihi jadwal makan saya; kalangan on-liners yang punya akun di setiap social media yang ada, yang bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya; dan lain-lain.

Seringnya, saya menjadi penghuni termuda diantara kalangan tersebut. Dan menjadi penghuni termuda itu memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah ketika perbincangan mengarah-arah ke topik yang agak "dewasa". Orang-orang di sekitar saya dengan asyiknya tertawa, menikmati pembicaraan atau lelucon tertentu sementara saya mateng(??) di dalem dan awkward di luar. Berusaha mempertahankan antara ekspresi poker face dan pura-pura(??) lugu. Keadaan seperti ini tak terelakkan terjadi, dan berada di tengah-tengahnya pun menjadi sebuah pengalaman tersendiri bagi saya.
Pengalaman tak terelakkan yang terjadi adalah urusan jodoh perjodohan yang rauwis-uwis. Selain penghuni termuda, saya pun kebetulan juga menjadi penghuni terngenes(??) karena belum berkeluarga, masih single kinyis kinyis pula.
Ibuk-ibuk, bapak-bapak pun berebut(??) ingin menorehkan prestasi(?)nya agar bisa menjodohkan saya. Ini yang repot. Karena saat terjadi transaksi pertukaran nomer kontak, saya pun berusaha untuk berpikir positif bahwa transaksi yang terjadi hanyalah pertukaran nomer kontak. Bukan pertukaran jodoh, atau pertukaran takdir.

Sebenarnya saya merasa kurang nyaman, dengan urusan perjodohan yang rauwisuwis ini. Bukan apa-apa sih, karena sebenarnya saya memang tidak menyengajakan diri untuk menceburkan diri di komunitas ini dalam rangka mencari jodoh atau apa. Saya memang murni ingin memberi challenge kepada diri sendiri. Bonusnya ya semacam pengalaman hidup, yang memang juga sedang saya cari. Masalah perjodohan itu memang sengaja tidak sedang saya pikirkan sementara ini.

Orang-orang mungkin merasa semacam kasihan(?) pada saya karena pada usia saat ini belum juga berkeluarga, dan sebagainya. Banyak juga yang bertanya "mengapa?".
Kalau dihadapkan pada pertanyaan yang seperti itu, saya kadang menjawabnya dengan asal-asalan. Kadang dengan bercanda, kadang cuma cengengesan, kadang pura-pura budeg, kadang budeg beneran hehehe.
Sebenarnya itu alasan yang sangat pribadi, dan alasannya bisa bermacam-macam. Yang paling gampang saya kemukakan adalah bahwa saya sedang memproses diri saya sendiri. Saya sedang dalam proses menjalani mimpi saya. Saya sedang sangat mensyukuri hidup yang saya jalani saat ini. Alasan yang ketika saya kemukakan ke orang lain (yang iseng/kepo bertanya), kemudian membuat mereka berpikir, "kasihan mungkin dia kurang bahagia, makanya fokus ke mimpi, karir, atau apalah." Sehingga membuat mereka memiliki semacam ambisi(?) untuk menyelenggarakan kontes perjodohan.

Sehingga terjadilah kontes yang demikian. Duh.
Sebagai jomblo ngenes tapi kinyis kinyis yang sedang dalam perjalanan ke barat mencari kitab suci (halah), saya merasa berkewajiban untuk "meneruskan" wahyu(?) perjodohan ini kepada teman saya yang kebetulan sedang membutuhkan jodoh.

Mungkin ke depannya jika lancar dan berkah, bisnis saya akan merambah ke bidang pertukaran jodoh :')
Mungkin malah saya berbakat di sana, dan bisa membantu banyak orang, kan? Siapa tau.. 

Friday, October 24, 2014

Curhat

Curhat merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia modern.
Mungkin.

Seolah menjawab kebutuhan tersebut, saat ini tersedia beragam media untuk menyalurkan curhat. Ada yang sukanya curhat di Facebook, Twitter, atau Path. Ada pula yang sukanya curhat di blog. Seperti saya 😛
Walaupun masih banyak juga yang memilih untuk curhat langsung kepada manusia lainnya, baik itu kepada teman, kerabat, maupun pasangan.

Orang bilang bahwa curhat walaupun belum tentu bisa menyelesaikan masalah, namun setidaknya sanggup untuk meringankan beban pikiran.

Ya, itu kan pendapat orang ya.
Berdasarkan pengalaman saya, curhat itu tidak selalu bisa membantu saya. Tidak selalu meringankan beban pikiran, dan tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Bahkan, curhat justru memiliki potensi lebih besar untuk menambah masalah.

Kenapa?
Pertama, tidak selamanya orang yang saya curhati itu bisa dipercaya. Terkadang bahan curhatan saya bocor ke mana-mana. Terkadang, orang yang saya curhati juga memutar balikkan omongan, sehingga muncul dusta, atau fitnah, bahkan bisa menjadi bahan hasut untuk mengadu domba.
Yang kedua, tak selamanya orang yang saya curhati itu memiliki kapasitas diri yang baik. Apakah dia merupakan pendengar yang baik, atau minimal dia bukan hakim yang gemar memberi justifikasi atas situasi atau kondisi saya. Sehingga, curhat selalu gagal memberikan rasa ringan di diri saya. Yang ada malah semakin berat, akibat beban penghakiman orang lain.

Makanya, sebagai seorang makluk sosial yang jarang bersosialisasi, saya sangat jarang curhat pada orang lain. Bahkan pun kepada teman yang selama ini dekat dengan saya, saya seringkali berpikir berulang kali untuk curhat.

Akibatnya, saya sering sekali merasa kesepian saat bersama teman-teman. Seringnya saya memendam sendiri masalah yang sedang saya hadapi, berusaha menutupi dari orang-orang terdekat. Dan semakin besar keinginan saya untuk sendirian. Karena saat saya sendirian, saya tidak perlu memendam apa-apa.

Sejak dulu, saya lebih suka menulis saat saya ingin curhat. Medianya bisa berupa diary, jurnal, puisi, dan hingga saat ini, blog. ☺

Saat saya menulis, saya bisa menjadi sangat lepas. Saya bisa membuka apa saja, yang tidak bisa saya buka kepada manusia lainnya. Saya merasa seperti tidak memiliki batasan psikologis. Saya bebas menyalurkan perasaan, pemikiran, atau apapun, tanpa khawatir akan dihakimi.
Melalui tulisan pun saya tidak khawatir mengenai masalah privasi, karena saya sendiri yang memfilter mana yang mau saya bagi dan mana yang harusnya saya simpan, tanpa harus mengurangi nilai curhat itu sendiri.
Saya bisa saja melindungi privasi saya hanya dengan menceritakan sedikit hal lewat tulisan, tapi merasa sangat lega seolah telah membagi semua hal. Itulah mengapa saya sangat menyukai curhat dengan cara menulis di blog. ☺

Namun, curhat lewat blog tidak pernah berhasil menyelesaikan masalah atau memberi masukan solusi. Walaupun ada feedback melalui comment atau apa, tetap saja tidak cukup.

Dulu saya sering merasa kesepian dan hampa, karena teman-teman yang saya miliki tidak sanggup menjadi teman berbagi. Menulis blog bisa membuat saya seolah memiliki teman berbagi, tapi tidak memberi solusi.

Saya telah menemukan solusinya. Saya telah menemukan Tempat Berbagi Yang Selalu Mendengarkan, Selalu Mengerti, Selalu Mengasihi Tanpa Terlalu Cepat Menghakimi, Selalu Memberi Solusi, Dapat Menenangkan Hati.

Media curhat yang terbukti sangat tepat, cepat, akurat, adalah do'a.
Do'a adalah bentuk komunikasi curhat saya kepada Dzat Yang Maha Mendengar. Ia bukan saja mendengar, tapi juga menyimak isi setiap curahan hati saya, tiada satu pun yang terlewat.
Melalui do'a, tidak pernah ada batasan waktu untuk curhat. Karena melalui do'a, saya curhat kepada Dia Yang Bisa Diakses Setiap Saat, Tidak Pernah Merasa Terganggu.
Curhat melalui do'a memberikan saya kekuatan yang teramat sangat luar biasa. Saya merasa sangat lemah di hadapanNya saat berdo'a , namun setelahnya saya merasa sangat kuat. Seolah tidak pernah lemah sebelumnya.
Setelah curhat melalui do'a, saya selalu mendapat solusi. Terkadang solusinya seketika, terkadang pula agak lama. Namun, selalu ada solusi. Saya pun merasa jauh dari sikap putus asa, berburuk sangka, hampa, dan sebagainya. Karena melalui do'a, saya curhat kepada Sang Penguasa, Yang Maha Berkehendak atas segalanya. Apa yang dapat menghalangi sesuatu untuk terjadi jika Dia sudah berkehendak?

Jikalau sekarang saya masih suka curhat melalui tulisan di blog ini, itu semata karena saya ingin mengabadikannya saja, menjadikannya pelajaran. Supaya suatu saat nanti, jikalau saya lupa, atau angot, atau kumat, saya bisa kembali ingat bahwa saya pernah mengalami kejadian demikian.

Saat ada kesulitan, di sana pasti ada kemudahan. Karena itu adalah perkataanNya, janjiNya. Kemudahan yang berdampingan dengan kesulitan itu bisa saya lihat setelah saya curhat melalui do'a. Tiba-tiba ada jawaban dari masalah yang sedang saya hadapi, yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya.

Karena saya orangnya melankolis-romantis (😛), saya mudah menangis saat curhat. Tapi seringnya saya gengsi dan malu untuk menangis di depan orang lain, apalagi di depan orang tua saya.
Dengan memaksimalkan waktu berdo'a, si melankolis-romantis dalam diri saya itu menjadi terpuaskan. Saya bisa punya banyak waktu privat untuk menangis saat curhat, tidak ada yang tahu kecuali Dia. Setelahnya, saya terpuaskan dan bisa kembali menjadi normal(??)

Do'a adalah terapi khusus bagi jiwa.
Do'a bisa menjadi sarana curhat yang amat efektif, menyehatkan jiwa yang sakit, menenangkan pikiran-pikiran yang resah, menyingkirkan segala keraguan dan rasa putus asa.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.S. Al Baqarah: 186)

Do'a adalah kekuatan 😊

Sunday, October 12, 2014

Masalah

Masalah.
Dalam hidup pasti ada masalah. Namanya juga hidup, banyak dinamika. Kalau banyak cucian namanya laundry. Kalau banyak anak namanya nggak KB. Kalau banyak ingus namanya pilek, iya nggak?
Kadangkala, masalah datang ke hidup saya dibawa oleh orang lain. Saya sudah berjuang mati matian menata rapi sana sini, sebagai upaya pencegahan terjadinya masalah yang diakibatkan oleh kesalahan saya sendiri. Eh, tiba-tiba karena kehadiran satu orang saja, semua yang sudah terbangun dengan baik langsung hancur. Bagaikan efek domino.

Kalau sudah begini, biasanya saya gampang stress.
Lha kok enak banget, orang datang hanya untuk bikin masalah. Setelah itu ditinggalkan. Saya deh yang kebagian bersih-bersih.
Pait. Pait.

Kejadian seperti ini tidak terjadi sekali atau dua kali dalam hidup. Melainkan berkali-kali, hampir selalu terjadi, dan polanya hampir sama. Ini entah saya harus tepuk tangan apa tepuk pundak sendiri ya..

Saya pernah berpikir kalau terus-terusan begitu, seumur hidup saya bisa-bisa hanya sibuk mengurusi orang lain. Saya tidak akan pernah punya kehidupan. Kalau saya hidup dengan cara memfungsikan diri sendiri sebagai tempat sampah, atau pengki, atau kemoceng, atau apalah, selamanya saya hanya akan menjadi itu semua. Berakhir dengan penuh debu.

Maka pada suatu ketika, saya mulai menjauh dari peradaban. Pelan-pelan saya mulai menjauh dari semua orang. Semua. Kecuali hanya 3 orang anggota keluarga saya saja. Sehari-hari saya benar-benar tidak berkomunikasi dengan siapapun. Kecuali memang benar-benar terpaksa, ya hanya sekedar "iya", "tidak", "Terima kasih". Atau gabungan dari ketiganya, "iya. Nggak, terima kasih"

Orang-orang mungkin menganggap saya aneh, mungkin sudah separuh gila, karena menjalani hidup yang seperti itu. Tapi -demi jenggot Merlin- saya belum pernah merasakan ketenangan dan kebahagiaan hidup yang lebih daripada saat-saat pengasingan saya itu.

Di awal-awal masa pengasingan tersebut, hidup terasa serupa bulan madunya para pengantin baru (walaupun yang seperti apa pun saya belum tau, karena saya belum pernah mengalami juga sih). Semuanya terasa sangaaat indah. Hidup terasa lebih indah, hati terasa begitu tenang, pikiran jernih, suasana hati senantiasa riang, matahari bersinar cerah, bunga-bunga bermekaran di taman, pelangi bermunculan, unicorn berdatangan.

Lama kelamaan, masa pengasingan menjadi zona nyaman saya. Saya enggan sekali keluar dari sana. Saya merasa bahwa di luar sana (di luar zona pengasingan), bertemu dengan orang-orang itu begitu menakutkan, teramat sangat mengerikan. Kemudian saya menjadi sangat defensif kepada orang lain. Manusia telah berubah menjadi serupa dementor bagi saya.

Setiap kali ada kondisi yang mengharuskan saya berkomunikasi dengan orang (siapa pun selain keluarga saya), saya sebegitu ketakutannya sehingga saya akan memikirkan 1000 atau lebih cara agar saya tidak perlu banyak berkomunikasi lebih dari sekedar 3 kata ajaib: ya, tidak, terima kasih.

Periode kegelapan ini berlangsung cukup lama. Dan saya berkubang dalam lubang kenikmatan itu seperti kuda nil di kubangan lumpur. Alam bawah sadar saya berkata itu tidak benar, namun terasa sangat nikmat hingga terasa benar.

Apakah itu semua gejala depresi? Mungkin saja. Ada delusional, denial, misanthrophy. Tapi, dibalik semua gejala depresi tersebut, anehnya saya benar-benar merasa bahagia. Masalah kebahagiaan ini bukan denial.

Entahlah, saya tidak ingin menganalisa atau membahas dari sudut pandang medis-psikiatris. Percuma lah, saya juga nggak ngerti -___-"

Saat ini, saya masih merasa kurang nyaman saat berada di dekat orang lain, terutama banyak orang. Saya masih menghemat bahan pembicaraan. Masih merasa agak defensif terhadap topik pembicaraan yang sedikit pribadi.
Namun, ajaibnya, saya juga menjadi jauh lebih baik. Saya bisa bergaul kembali dengan manusia! Saya bisa menghadiri acara yang amat sangat meriah dan penuh orang. Saya bisa bercanda, tertawa dan berbicara lebih dari 3 kata ajaib. Bahkan, saya bisa kembali menanggapi/merespon pembicaraan orang lain. Saya bisa berdialog. Bukan dialog yang sama seperti dulu, di mana orang lain nyerocos dan saya kejepit cuma angguk angguk, senyum kecut, menahan sendawa, dan sebagainya. Tetapi dialog yang melibatkan dinamika topik pembicaraan. Orang lain bertanya, saya menjawab, lalu saya bertanya balik, dst.

Ini sebuah pencapaian dalam hidup.
Ya, menurut saya ini sebuah pencapaian yang cukup membanggakan. Karena untuk bisa sampai ke sini, saya harus sanggup berdiri, melangkah kemudian berjalan dari sana. Terus melangkah dan tidak menyerah saat jatuh kembali. Perjalanan dari sana ke sini itu adalah sebuah pengalaman.

Satu hal yang saya temukan sangat berharga dalam hidup ini adalah pengalaman.
Pengalaman itu bukanlah sesuatu yang bisa didefinisikan, digeneralisasi, diseragamkan. Pengalaman itu sifatnya personal, nilainya tidak bisa terukur. Bisa jadi bagi seseorang pengalaman mengendarai sepeda motor itu sangat biasa saja nilainya. Tapi bagi orang lain (yang memiliki kondisi fisik/psikis/ekonomi/lingkungan yang berbeda), bisa mengendarai motor adalah pengalaman yang paling menarik dalam hidupnya.
Pengalaman-pengalaman dalam hidup itu sesungguhnya merupakan proses-proses yang pada akhirnya menjadikan kita manusia yang memiliki added value. Diibaratkan dalam sebuah reaksi kimia, Masalah (m) adalah reaktan, bereaksi menghasilkan Pengalaman(p) sebagai produk dan Kebijaksanaan (w) sebagai produk sampingan dan dengan bantuan Pengetahuan (t) sebagai katalis.
Pada orang introvert, reaksi bersifat eksotermik. Sedangkan pada orang ekstrovert, reaksi bersifat endotermik.

*Sungkem ke guru kimia sambil buru-buru ngacir*

Dalam membagi semua ini, saya tidak sedikitpun merasa malu karena membuka aib diri sendiri. Saya sudah melangkah melampaui semua rasa malu, kecewa, minder, bahkan putus asa. Jikalau ada omongan yang kurang enak, kalimat-kalimat penjatuh semangat, cibiran, hinaan, cercaan, makian, bahkan sumpah serapah pun, itu semua hanyalah rangkaian kata. Words are only words. Even if it's an insult, they're nothing but mere words.
Sekuat apapun tekad sang pemilik kata-kata untuk memberikan jatah kata kata jahatnya kepada saya, semua itu tidak akan sanggup menyakiti saya, karena saya tidak membiarkan kata-kata tersebut memiliki kekuatan. They're just a bunch of harmless, innocent words, used frivolously by some random person.

Dengan mental seperti itulah saya bisa bangkit dari segala macam masalah. Masalah hanyalah sebuah reaktan, dan omongan orang hanyalah kata-kata.
Saat ada masalah (yang pastinya akan terus ada) yang dibawa oleh orang lain kembali ke hidup saya yang sedang mulai saya atur kembali, saya tau bahwa masalah itu hanya akan berlangsung sementara. Seperti layaknya semua hal yang ada di dunia ini, tiada yang abadi. Saya juga paham bahwa sebenarnya masalah itu hadir PASTI beserta solusinya. Jodoh dari masalah adalah solusi. (Lalu jodoh saya siapa??)
Kalau solusi dari masalah tersebut belum sanggup saya lihat, bukan berarti solusinya tidak ada, atau sangat jauh. Bahkan mungkin solusi dari masalah tersebut lebih dekat daripada jodoh saya (hiks...). Yang saya perlukan hanyalah Katalisnya, pengetahuannya. Daripada stress sendiri berkutat dengan worry worry worry worry, endless worry tentang apa yang mungkin akan terjadi, worst case scenario, dsb, fokus saja kepada apa yang dapat saya lakukan dengan amat sangat maksimal hari ini. Maksimalkan ikhtiar saat ini.

Mengutip wejangan seseorang, "jangan benturkan idealisme dengan realita. Itu hanya akan menciptakan ruang kegelisahan"

Terakhir, wejangan buat diri sendiri,

"Dan, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (Q.S. Ali Imraan :159)

Friday, October 10, 2014

Hilang

Hilang. v.

Menurut KBBI, artinya adalah tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan.

Jadi, sesuatu dikatakan sudah hilang apabila sesuatu itu pernah ada. Jika sesuatu itu belum pernah ada, maka sesuatu itu dikatakan tidak hilang.

Begitu logikanya.

Pada kenyataannya, saya sering sekali merasakan kehilangan.
Kehilangan kesempatan.
Kehilangan momentum.
Bahkan kehilangan rizqi.
Mungkin.

Jikalau saya renungkan berdasarkan definisi KBBI, maka sebenarnya selama ini hal-hal yang menurut saya telah hilang, tidaklah hilang.
Yang hilang mungkin hanya potensi untuk mendapatkannya.

Pada saat saya merasa kehilangan rizqi, misalnya, sebenarnya saya tidak kehilangan apa-apa. Karena sejak awal, rizqi itu bukan menjadi milik saya. Begitu kan? Yang hilang adalah potensi untuk mendapatkan rizqi tersebut.
Hanya POTENSInya.

Namun, benak saya, yang dipenuhi dengan berbagai macam hal. Salah satunya, yang paling besar adalah ambisi, merasakan kehilangan yang teramat besar. Seolah-olah saya telah mengalami kerugian yang tidak dapat tergantikan.
Di saat yang bersamaan, saya juga lupa bahwa ketika satu pintu tertutup, maka 1000 pintu lain akan terbuka.
Hanya SATU pintu yang tertutup, tapi rasa beban kehilangan di hati teramatlah besar.

Astaghfirullahal'adziim..

Memang, iya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkan potensi itu. Dan iya, saya juga memiliki ekspektasi yang tidak rendah terhadapnya.
Tetapi takdir Allah SWT berkata lain. Rizqi itu bukan ditakdirkan untuk saya. Lalu saya bisa apa? Allah-lah yang mengatur pembagian rizqi kepada setiap makhlukNya.
Kalau saya bilang, "sudah, ikhlaskan saja", tentu saja menjadi sangat rancu. Ikhlaskan bagaimana, lha wong sejak awal memang saya tidak punya apa-apa. Melainkan hanya sebuah potensi.

Yang perlu saya katakan, seharusnya, adalah, "Sudah, tingkatkan saja usahamu". Begitu baru terasa pas.
Akan ada banyak potensi lainnya yang mungkin akan hilang lagi kalau hanya terpaku di sana.

Rizqi setiap makhluk Allah itu masing-masing sudah didepositokan. Dan akan cair pada waktunya.
Halah.

Wednesday, October 8, 2014

Tidak tertukar

Tuhanku adalah Tuhan Yang Maha Adil.

Kepada setiap makhluk ciptaanNya, Ia menyediakan bagian-bagian yang tidak akan pernah tertukar.

Ada ratusan juta jiwa manusia, dan ada ratusan juta atau bahkan milyaran makhluk hidup di muka bumi ini. Setiap makhluk bertahan hidup dengan caranya, atau berusaha dengan giat untuk mengubah takdirnya. Namun takdir satu jiwa dan yang lainnya tak akan pernah tertukar.

Tuhanku sudah mengaturnya.

Setiap saat, setiap detik, makhluk hidup keluar dan mencari rizqi. Mulai dari semut, unta, hingga manusia. Namun rizqi makhluk yang satu tidak akan tertukar dengan yang lainnya. Begitu pula jatah usianya, waktu kembalinya.

Tuhanku tidak pernah ingkar. KetetapanNya adalah pasti.

Ada begitu banyak hal baik dan buruk yang menimpa setiap jiwa di muka bumi ini setiap saat. Ada kalanya saat makhlukNya mengalami hal baik dan lupa pada-Nya. Namun sering adanya saat mereka ditimpa kemalangan, mereka menyalahkan Tuhanku.

Tetapi Tuhanku sungguh Maha Pengasih dan Penyayang.

Ia berjanji bahwa sesungguhnya di dalam setiap kesulitan, akan ada kemudahan. Dan Ia juga berjanji bahwa Ia tidak akan pernah membebani makhlukNya dengan beban yang tidak sanggup mereka pikul.

Tuhanku Maha Sempurna.

Ia menciptakan masalah satu paket beserta solusinya. Hanya aku yang seringkali terlalu dangkal, hingga solusi pun jauh dari jangkauan pandangku.

Tuhanku Maha Bijaksana.

Diantara banyak makhlukNya yang berebut tahta kemuliaan, Ia hanya memuliakan siapa-siapa yang pantas untuk dimuliakan. Ia akan memberikan ujian kepada makhlukNya sebagai seleksi untuk mendapatkan tahta kemuliaan di hadapanNya. Dan sesungguhnya kemuliaan di hadapanNya sajalah sebenar-benarnya kemuliaan.

Tuhanku Maha Mengetahui.

Dosa-dosa dan aib-aib makhlukNya yang senantiasa berusaha untuk disembunyikan. Betapa rapinya dosa dan aib itu tertutup rapat. Disimpan di tempat-tempat yang bahkan sesama makhlukNya pun tidak mengetahui. Tuhanku Tahu.
Setiap emosi, memori, bahkan mimpi yang terpendam dalam setiap hati makhluknya. Tiada yang luput dari penglihatanNya.

Jika Ia ingin membuka satu saja diantara aib yang kumiliki kepada seisi dunia, maka tiada satu hal pun yang bisa menyelamatkanku dari kehinaan. Tak ada.


Hari ini, saat ini, banyak yang sudah terjadi dalam hidup kita. Setiap yang terjadi, itu adalah kehendakNya. Dan aku yakin dengan rencana dan ketetapan Tuhanku. Semua ada maksudnya, semua ada tujuannya. Apa yang tampak atau terasa kurang baik, mungkin sebenarnya adalah bagian dari rencana besar yang telah Tuhanku tetapkan untuk makhlukNya. Aku yakin bahwa Tuhan yang selama ini kuimani, adalah Tuhan yang telah Memberikan banyak nikmat kepada milyaran, bahkan trilyunan makhlukNya. Tuhan yang tidak pernah mendzholimi makhlukNya, seingkar apapun mereka kepadanya.

Karena Tuhanku, Ia Maha Memelihara.



Friday, June 6, 2014

Diantara euforia itu..

Ada sebuah fenomena yang menarik yang saya temui akhir-akhir ini. Bukan hanya saya saja yang mengalami rasanya, tapi sepertinya kita semua mengalami.

Jokowi dan Prabowo.

Itulah fenomenanya. Mereka seolah berada di mana-mana. Televisi, media sosial, bahkan obrolan sehari-hari pun seputar mereka.

Wajar ya, mengingat jadwal Pilpres yang semakin dekat. Dan dengan ramainya pembicaraan seputar kedua orang tersebut membuktikan bahwa animo masyarakat Indonesia terhadap politik (??) masih besar. Setidaknya, mungkin ini bisa jadi pertanda bahwa golongan apatis (?) politik semakin berkurang. Mungkin.

Sebelum saya lanjutkan menulis, saya ingin menyatakan bahwa tulisan ini tidak ada tendensi apapun dan tidak disponsori oleh golongan manapun. Saya sendiri pun bukan bagian dari golongan atau partai apapun. Bahkan, sampai saat ini pun saya belum tau akan memilih siapa pada Pilpres 9 Juli mendatang.

Kembali ke bahasan utama.

Saya sudah mengikuti 3 kali pemilu sejak 2004. Dan rasanya, belum pernah ajang Pilpres seramai kali ini. Atau hanya perasaan saya saja?
Setiap pemilu memang wajar menjadi pembicaraan sehari-hari. Pemilu yang sudah-sudah pun demikian, ramai menjadi bahan pemberitaan/pembicaraan.
Saya ingat ketika pemilu 2004 yang menghasilkan Pak SBY sebagai presiden. Atau pilpres 2009 yang bahkan lebih ramai karena pilpres dilaksanakan dalam 2 putaran, dengan hasil yang sepertinya pun sudah bisa ditebak.

Lalu, apa perbedaan pilpres yang dulu-dulu dan yang sekarang?

Harapan.

Mungkin itu sebabnya. Pada pilpres kali ini, masyarakat memiliki harapan yang sangat besar terhadap kedua calon pemimpin. Saya seperti bisa membaca harapan yang tersirat dalam setiap ulasan berita, tulisan di media sosial, atau bahkan obrolan sehari-hari. Harapan yang besar bahwa kelak, para calon pemimpin ini bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Mengenai harapan, saya sangat paham rasanya berharap. :)
Bagaimana rasanya seperti menemukan secercah cahaya dalam kegelapan. Perlahan, kita akan percaya bahwa mungkin saja hal baik akan terjadi esok hari. Bahwa mungkin saja cahaya yang hanya secercah itu akan bertambah intensitasnya. Ketika hal baik tidak juga kunjung terjadi, kita akan berusaha mempertahankan secercah cahaya tersebut, walaupun semakin redup. Bahkan, pada saat cahaya itu akan padam, kita akan mencari-cari alasan dan pembenaran bahwa cahaya itu akan hidup, bahkan akan bertambah terang.

Namun apa yang terjadi jika ternyata sang cahaya tersebut benar-benar padam? Mungkinkah kita justru akan sangat tidak suka kepada cahaya lagi di masa yang akan datang?

Saya menemukan banyak tulisan/berita yang isinya bukan hanya mendukung/memberikan opini kepada salah satu capres, tapi banyak pula yang isinya seolah mendukung salah satu capres dengan cara membeberkan prestasinya sekaligus membeberkan aib(?) capres lainnya. Terkadang pada intensitas yang amat...kuat. Seolah-olah calon yang didukungnya adalah yang terhebat, dan calon lainnya adalah.. penjahat.

Jarang saya menemukan tulisan/berita yang isinya hanya memberikan komentar simpatik kepada salah satu calon, tanpa sama sekali menyiratkan bahwa seolah-olah calon lainnya itu (minimal) bukan penjahat.

Saya sangat ingat pada suatu peristiwa di tahun 2009, menjelang Pilpres kala itu. Saat itu, saya masih sangat suka berada di tengah-tengah masyarakat. Bergaul ke sana kemari demi mendapatkan jawaban dari kehidupan, sesuatu yang saya cari mati-matian. Di suatu kesempatan, seorang bapak mengajak saya berbicara. Topik yang hangat adalah politik dan pilpres 2009. Beliau berbicara sangat banyak dan panjang lebar mengenai satu parpol, yang kebetulan mengusung capres dan lolos ke putaran kedua. Beliau berpendapat bahwa partai tersebut sangat baik, saya kutip, "terbaik". Dan sang bapak juga menyebutkan betapa parpol yang lain itu tidak baik, bahkan menyebutkan beberapa 'dosa' mereka.
Saat itu saya hanya menyimak, dan tidak banyak berkomentar. Karena saya tidak dimintai pendapat dan tidak berkapasitas untuk berpidato atau berdebat.
Tentu saja saya punya pendapat. Setiap orang pasti punya pendapat, tapi apakah pendapat tersebut harus selalu disuarakan dengan lantang dalam kondisi apapun dan bagaimana pun? Ada tempat dan waktu untuk setiap hal.
Saat ini, apa yang terjadi pada partai "terbaik" yang disebut oleh bapak itu? Atau capres yang didukungnya? Saat ini saya tidak yakin sang bapak tetap memiliki pendapat yang sama tentang apa yang dinilainya "terbaik" saat itu.

Sekali lagi, mungkin, MUNGKIN, bapak itu pernah memiliki sebuah harapan. Sama seperti masyarakat yang sekarang sedang menikmati ladang harapan utopis terhadap capres idamannya. Namun, harapan adalah.. harapan. Bisa menjadi kenyataan, bisa juga hanya harapan.
Memiliki harapan tidak pernah salah, tenggelam terlalu dalam di dalam harapan itu lah yang akan membunuh kita.

Dalam euforia pilpres dan gelombang dukungan kepada kedua capres, milikilah pelampung yang akan menyelamatkan kita agar tidak tenggelam atau hanyut.

Seperti kata bang Rhoma,
"begadang jangan begadang, kalau tiada artinya. Begadang boleh saja, asal ada perlunya"

Berharap jangan berharap, kalau tiada batasnya. Berharap boleh saja, asal ada batasnya.

:)

Tuesday, November 19, 2013

NORMAL 101: A GUIDE TO CONVERT YOUR HUMAN INTO SOCIALLY ACCEPTABLE DROID

Sometimes I feel like i want to be normal. Or I should be normal. But then i think, what is NORMAL?
It brings me into contemplation, deep, deep in the dark forest of the mind.

And i found, a light bulb inside my head. Normal is just another term of Acceptable. So, being normal means being accepted. When i want to be normal, i have to be accepted. Or acceptable. 

Why is it so important to be accepted?

People often try so hard so just the others can accept them. Sometimes it makes them suppress themselves, their opinions, just in order to be fit in the society. So that they guarantee that there's always a place for themselves among people.

But acceptance can not always be defined as good or bad, right or wrong, because it involves people and their perceptions. When people have the same or (agreeable) perception, they accept something. Otherwise, things are just unacceptable. YetWhat if some people have different perception? And what if their perception is good or right? Just because they are different, it makes them unacceptable and then considered as abnormal or freak?

It brings me into some kind of conclusion that being accepted (therefore considered as normal) is not always a good thing.

I often think that this world (or the people?) demands me to be normal. To be just like everyone else, to do and to think like everybody does. Sometimes it's just hard to be me, to have my own principles, to just be..different. Is this world that i live in a dystopian world? Like the one i read on the book.
Maybe it is, because sometimes it feels like there are invisible repressive hands that try to control people. Of how to socialize, to think, to behave, or even just to be...human.

That makes me shiver. I don't want to be socially accepted if i have to be some kind of droid, wandering around, run by some kind of program just in order to be normal. In a world where people have to and/or want to suppress themselves, alter themselves just to fit in, i want to run.

Tuesday, July 16, 2013

Doubt

Meragukan motif, sikap atau perilaku orang lain seringkali disalah-artikan sebagai negative thinking. Tetapi, bagaimana kita bisa benar-benar mengenal dan mengetahui seseorang jika kita tidak pernah meragukan mereka?

Ah, saya kembali teringat akan sebuah manga yang pernah saya baca. Judulnya 'Liar Game'. Ada sebuah pernyataan yang menarik bagi saya, dan tidak bisa saya lupakan.

"People should be doubted.

Many people misunderstand this concept. The truth is, doubting people is simply a part of trying to get to know them.

'Trust', that act is ,without a doubt, a very noble one.. but you know, what many people do, that they call 'trust' is actually giving up on trying to understand others. And that has nothing to do with 'trust', but is rather an APATHY. There are countless people out there who fail to realize that apathy is a far more devastating act than doubting others.

The worst of all people were the vast numbers who really believed they were doing good, when they were actually deceiving others. They didn't have the slightest clue what they were doing. Simply because they were trying to avoid picturing just how much pain they were inflicting on others by their actions. Not giving a single thought, is merely a state of complete APATHY.

The true evil is becoming apathetic about other people.

Doubt them, question them, suspect them, and take a good, long look into their hearts. Humans are the kind of beings that can't put their pain into words, after all."

Begitu ucapan Mr. Shinichi Akiyama kepada Nao Kanzaki. Mindblowing, memang. Tapi jika direnungkan dengan baik, memang benar adanya.

Rasa tidak percaya akan membawa kita pada sebuah pemahaman.

Saya juga belajar mengenai arti nilai sebuah hal justru dari rasa tidak percaya. Karena saya tidak percaya, maka saya menemukan sebuah pengetahuan baru. Karena saya tidak percaya, maka saya menemukan arti sahabat dan bertemu sahabat..

Jika Copernicus dan Galileo adalah orang-orang yang mudah percaya tanpa rasa ragu, maka hingga saat ini kita juga akan mempercayai bahwa bumi itu datar dan matahari berputar mengelilingi bumi. Karena mereka ragu, mereka skeptis, mereka terus bertanya dan bertanya, maka mereka menemukan. Begitulah banyaknya penemuan dan pengetahuan lain yang lahir justru dari rasa skeptis dan tidak percaya.

Begitu pula, jika kita mempercayai semua orang, tidak memiliki rasa ragu kepada mereka. Apa kita akan pernah memiliki beberapa orang teman dekat yang kita sebut sahabat?
Renungkan. Seorang sahabat adalah orang lain yang mulanya sama sekali tidak kita kenal, sama seperti orang lainnya. Tetapi karena kita pernah memiliki rasa tidak percaya padanya, pernah meragukan kapabilitasnya dalam memegang rahasia, pernah meragukan tingkat intelektualitasnya untuk membantu memecahkan masalah yang sedang kita hadapi, pernah meragukan ketulusannya, kejujurannya dalam berbicara, maka kita menemukan dia, sahabat kita. Dengan meragukannya, kita belajar untuk menemukannya. Sama halnya seperti ketika Copernicus meragukan teori geosentris, maka ia menemukan teori heliosentris.

Mengapa tidak percaya? Mengapa meragukan sesuatu? Karena kita peduli.
Rasa simpati. Itu dasarnya.

Mengapa harus susah memikirkan sesuatu? Kan tidak ada untungnya? Mengapa meragukan sesuatu? Bukankah itu sebuah kerugian?
Sekali lagi, karena rasa ragu dan tidak mudah percaya itu menunjukkan rasa ingin tahu, yang berasal dari rasa peduli.

Mudah saja untuk percaya. Sangat mudah. Toh tidak membuang banyak energi. Tetapi sekali lagi, renungkan. Saat kita memutuskan untuk percaya, untuk tidak meragukan sesuatu. Apakah karena kita sama sekali tidak peduli? Apakah kita telah bersikap apatis?

Ada benang yang sangat tipis yang memisahkan antara bersikap optimis dan bersikap apatis.

Meragukan sesuatu, bertanya-tanya, kembali ragu, bersikap skeptis memang seolah pesimis. Tapi setidaknya itu karena masih ada rasa simpati. Jikalau rasa simpati itu cukup besar, bisa bergerak menjadi sebuah empati.

Tetapi jika kita tidak pernah ragu, tidak pernah bertanya, bisa jadi sebenarnya kita tidak ingin terlibat, tidak ingin susah atau kita hanya tidak pernah cukup peduli. Dan jika kita tidak cukup peduli, maka kita telah menjadi seperti yang disebutkan oleh Mr. Shinichi Akiyama tadi, 'the true evil'.

Sunday, June 30, 2013

Nerd

The world will be a much better place to live if you're a nerd.

You may not be hanging out with the most popular dudes. And yes, you probably will have a fewer friends. But they'll probably be the best friends ever. They'll respect you and  be faithful to you.

Yes, you don't go to the cool party or cool events. But it doesn't mean that your life is no fun. You'll CREATE your own fun.

Instead of being engaged in a social approved activities, you'll be more attached to many activities of your own interest. Your definition of coolness isn't determined by other people, but yourself.

Your sense of fashion and clothing may be weird or old fashioned, and others may think that you're some kind of alien. But you'll find later, none of it will ever be related to who you are INSIDE.

Science, technology, computer, games, books will attract you more and you will find many remarkable things with them. You'll finally be able to understand the universe and how it works through the laws of physics. You'll see things other people can't see. You will live a wonderful life with knowledge.

Though there will be several times when other people look down on you, mock you, or even bully you just because you're different. But believe me, it won't matter, because what's more important is that you ARE yourself. You don't try to be someone else by copying anyone or doing anything just because you're told to.

You are a free human being.

Being a nerd means you enjoy being yourself and not be ashamed of it. Because being a nerd and different doesn't make you less a human.

Sunday, June 9, 2013

Unconditionally

To love unconditionally.

There's no such thing as it is. When people love, they ALWAYS expect something. One's ability to love has nothing to do with one's ability to ACCEPT.

Sebaliknya, mencintai membuat seseorang selalu ingin MENGUBAH orang yang dicintainya. Bahkan, orang tua yang mencintai anak-anaknya pun selalu ingin mengubah sesuatu dari diri anak-anaknya.

Berubah menjadi lebih baik itu bagus. Menginginkan orang tercinta untuk menjadi lebih baik itu niat yang bagus. Namun, sampai mana batas perubahan? Karena keinginan tidaklah akan pernah cukup. Hari ini berharap orang lain berubah, dari level 1 ke level 2. Esoknya pun akan tetap ingin ia berubah ke level selanjutnya. Bahkan ketika orang tersebut sudah susah payah berusaha berubah demi mencapai level 100, semua tidak akan pernah cukup.

Lalu kapan cinta akan datang dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu MENERIMA?

Ketika kita menginginkan perubahan, sudahkah kita menerima sebuah kenyataan yang sangat sederhana? Bahwa TIADA YANG SEMPURNA. Segala sesuatu memiliki kekurangan, sekecil bahkan sebesar apapun. Nampak ataupun tidak nampak. Sebelum seorang penguasa kecil yang liar dalam diri kita menginginkan lebih dan lebih, sudahkah kita memberi ruang bagi sebuah kesadaran tersebut?

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum ingin melakukan perubahan adalah menerima. Menerima kenyataan.

Sangat mencintai seseorang terkadang membuat kita lupa bahwa yang kita cintai adalah manusia. Manusia yang batasnya tidak sama dengan kita, situasinya tidak sama dengan kita, kemampuannya tidak sama. Manusia yang juga memiliki titik terlemah.
Sangat menyayangi seseorang juga membuat kita menjadi orang yang ambisius, lupa bahwa orang yang kita sayangi bukanlah objek sebuah ambisi pribadi kita. Ataupun sebuah proyek kerja dengan targetan tertentu.

Saya hanya berpikir bahwa seharusnya keinginan untuk mengubah orang yang kita sayangi juga diimbangi dengan kemampuan untuk menerimanya dengan segala kekurangannya.

Karena saya rasa, semua orang butuh diterima. Saat dunia dipenuhi dengan begitu banyak tuntutan, bukankah minimal SATU buah penerimaan dari orang tercinta akan sangat berarti?



I'm so not perfect, but i'm also a human. If you can't love me because of my imperfection, then at least please consider me as a HUMAN.

Tuesday, April 23, 2013

Virus pemusnah massal dan di balik rencana keji

Jauh sebelum Amerika Serikat terbentuk menjadi sebuah negara, kekuatan yang mengatur dan mengendalikan tanah yang baru tersebut adalah terorisme, pemusnahan masal, dan perang biologi melalui penyebaran kuman-kuman dan penyakit-penyakit terhadap penduduk aslinya. Salah satu penyerangan yang tercatat dalam sejarah adalah yang dilakukan oleh Jendral Jeffrey Amherst.

Beberapa data yang tertuang dalam The Atlas of the North American Indian, and the Conspiracy of Pontiac and the Indian War after the Conquest of Canada, menunjukkan bahwa pahlawan militer yang terkenal ini, telah “menyetujui” pendistribusian selimut dan sapu tangan yang telah terkontaminasi bibit cacar untuk digunakan sebagai alat perang wabah penyakit terhadap Indian Amerika. Bahkan ada bukti tertulis berupa surat yang ditulis sendiri oleh Jeffrey Amherst. Dalam suratnya kepada Kolonel Henry Bouquet, Komandan angkatan bersenjata Inggris, Jenderal Amherts bertanya :

“Tidak bisakah diatur suatu cara bagi pengiriman bibit campak kepada suku-suku Indian yang tidak menyenangkan itu? Dalam hal ini kita harus menggunakan berbagai strategi untuk dapat mengurangi jumlah mereka.”
Bouquet menjawab,
“Saya akan mencoba untuk menularkan penyakit tersebut kepada mereka melalui selimut-selimut yang akan jatuh ke tangan mereka dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak ikut tertular.”

Sangat jelas terdokumentasikan dalam catatan milik William Trent tertanggal 24 Mei 1763, seorang komandan militer lokal dari Pittsburgh.
“Kami memberi mereka dua selimut dan sebuah sapu tangan yang kami ambil dari Small Pox Hospital. Saya harap hal itu akan menimbulkan dampak yang diharapkan.”
Epidemi cacar secara cepat tersebar diantara lelaki, wanita dan anak-anak suku Pontiac (suku Indian).

Jenderal Amherst sangat terkesan atas hasil yang sangat efektif pada perang kuman tersebut, sehingga dalam suratnya kepada kolonel Henry Bouquet tertanggal 16 Juli 1763, dia mengesahkan PERANG BIOLOGI SEBAGAI KEBIJAKAN RESMI AMERIKA dan memerintahkan penyebaran selimut-selimut yang telah terinfeksi campak untuk “memusnahkan para Indian” dan menyarankan agar Bouquet mencoba metode-metode lain yang dapat memusnahkan ras yang buruk ini. Dalam suratnya tertanggal 26 Juli 1763, Bouquet menjawab surat Amherst dan mengkonfirmasikan bahwa.
“seluruh petunjuk anda akan kami perhatikan"
Seratus tahun kemudian, Secara berkala, penggunaan kuman sebagai senjata dalam peperangan telah menjadi kebijakan AS. Secara berkala, sepanjang abad ke 19, angkatan bersenjata AS menyebarkan selimut-selimut dan benda-benda lain yang telah terkontaminasi bibit penyakit kepada suku asli Amerika, termasuk mereka yang telah ditahan di kemp-kemp konsentrasi (Pemerintah secara resmi menyebut lokasi ini sebagai wilayah reservasi/ reservations. Tujuan dari serangan biologi ini adalah untuk memusnahkan dan membunuh sebanyak mungkin Indian Amerika, jika tidak menghancurkan mereka semua.

Pemerintahan awal Amerika, juga kemudian Pemerintahan Amerika Serikat yang berdiri secara sah, tidak pernah menganggap Suku asli Amerika sebagai manusia. (Mereka menganggap suku asli sebagai makhluk yang tidak diinginkan, dan berkualitas dibawah manusia).

Agen penyebar penyakit yang digunakan yang tercatat dalam sejarah bukan hanya cacar. Saat ini merekapun menggunakan Variola, yang dapat disimpan dalam kondisi kering, juga kolera dan cacar. Metoda penyebaran yang mereka pilih masih melalui penyebaran selimut-selimut dan alat-alat lain yang didistribusikan kepada para Indian.

Di tahun 1900, Angkatan bersenjata Amerika Serikat mulai bereksperimen dengan berbagai macam senjata biologi, sebagian diantaranya digunakan pada tahanan perang baik warga Amerika maupun asing. Para korban termasuk lima orang tahanan warga Filipina yang tercemar berbagai macam jenis penyakit, dan 29 tahanan yang secara sengaja ditularkan penyakit beri-beri.

Di tahun 1915, Agen-agen pemerintah mulai melakukan percobaan dengan racun-racun yang dapat menyerang dan menghancurkan otak dan sistem syaraf pusat. Dua belas orang Amerika yang ditahan di penjara Mississippi tercemar pellagra. (kekurangan Vitamin B3 atau niacin).

Warga Puerto Rico yang Malang

Pada tahun 1931, Dr. Cornellius Rhoads, seorang agen pemerintah yang dikontrak oleh Rockefeller Institute for Medical Investigation, mulai menginjeksi laki-laki, perempuan dan anak-anak dengan sel-sel kanker. Sebagai Ketua Divisi Senjata Biologi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, dan juga sebagai anggota komisi energi atom, Rhoads menjalankan radiasi rahasia yang dilakukan terhadap ribuan warga AS yang tidak dicurigai.

Dalam surat-suratnya untuk Departermen Pertahanan, Rhoads secara gambalang menyebutkan "pembasmian" para pemberontak dengan menggunakan "bom kuman". Pada saat ditanya mengenai penduduk Puerto Rico, Dr. Rhoads menulis

" Yang dibutuhkan kepulauan itu bukanlah pekerjaan bagi kesehatan umum, tetapi sebuah ombak pasang, yang dapat menghabiskan seluruh populasi."

Dr. Rhoads lebih lanjut mengatakan,

"Orang-orang Puerto Rico adalah ras manusia yang paling jorok, paling malas, paling berbahaya dan ras pencuri yang pernah hidup di bumi ini. Saya telah melakukan yang terbaik yang saya mampu untuk melakukan proses pemusnahan, dengan melakukan proses pembunuhan terhadap delapan dan mentransplantasi kanker ke beberapa lagi.... Semua ahli kesehatan menerimanya dengan senang hati dalam penyiksaan atas korban yang tak berdaya."

Dr. Rhoads mengklaim telah menginjeksi ratusan orang Puerto Rico dengan sel kanker.

Eksperimen Siphilis

Pada 1931, Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan eksperimen dengan siphilis. Korban pertama yang dikenal adalah seorang kulit hitam yang tinggal di Tuskegee, Alabama. Di tahun 1932, dokter-dokter pada Pelayanan Kesehatan Umum tidak melakukan pengobatan terhadap pasien yang terinfeksi dalam dalam rangka mempelajari perkembangan penyakit tersebut pada subjek hidup. Para pasien tidak mengetahui bahwa mereka dijadikan eksperimen pada studi yang diakui secara resmi oleh pemerintah itu. Mereka pikir mereka mendapatkan pengobatan untuk penyakitnya. Padahal, mereka diberi obat-obatan palsu.

Sepuluh tahun berikutnya, ribuan warga Amerika terekspos berbagai macam agen biologi dan kimia. Ini termasuk 400 tahanan di penjara Chicago pada tahun 1942. Mereka semua terinfeksi malaria dalam rangka memperoleh "profil dari penyakit tersebut".

Pemerintah Amerika Serikat juga memberika izin bagi Komisi Energi Amerika untuk secara rahasia menginjeksi pasien-pasien rumah sakit dengan Plutonium agar mendapatkan "Profil" efek jangka panjang. Sebagian besar individu ini menjadi sakit parah dan kemudian meninggal.

Anthtrax

Amerika Serikat dan Inggris mulai melakukan kerja sama dalam pengembangan "Bom Anthrax" yang mereka rencanakan untuk dijatuhkan di kota-kota di Jerman. Target potensial termasuk juga Berlin, Hamburg, Frankfurt, Aachen dan Wilhelmshafen.

Karena Jerman menyerah sebelum bom-bom Antrhax ini diuji pada penduduk Jerman, (target nonmiliter) bom biologis itu kemudian dijatuhkan di pedesaan Gurnard, sebuah pulau di sebelah barat laut Skotlandia. Sebagian besar sapi dan penduduk desa mengidap penyakit parah dan kemudian tewas, dan pulau tersebut tak berpenghuni hingga dari 45 tahun.

Begitupun dengan yang dikirimkan USA pada perang teluk yang mematikan ke militer Irak. Sebagian propaganda menyebutkan bahwa USA mengirim beberapa senjata biologi dan kimia untuk Saddam Husein, untuk memusnahkan suku Kurdi yang justru menjadi ujung tombak sendiri bagi Saddam Hussein. Hal ini juga diduga sebagai bahan laporan untuk penelitian ilmuwan mengenai efek-efek yang ditimbulkan dari bahan tersebut.
"FBI menutup-nutupi fakta karena mereka tahu bahwa serangan Anthrax itu adalah pekerjaan orang dalam" (Dr. Barbara Hatch R.)

OPERATION PAPERCLIP

Pada akhir masa Perang Dunia II, Amerika Serikat memperkerjakan ratusan dokter NAZI dan Jepang yang telah melakukan eksperimen-eksperimen yang sadis dan tidak manusiawi terhadap tahanan perang. Salah satu dokter sadis yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap manusia melalui

eksperimen-eksperimennya adalah Direktur Angkatan Kerajaan Jepang unit perang biologi, Dr. Ishii.

Ishii bereksperimen dengan shyphilis, typhoid-laced tomatoes, tetanus, plague-infected fleas, selain juga bom-bom bibit penyakit yang dijatuhkan ke penduduk sipil dan tahanan yang diikat telanjang di tiang kayu guna melakukan eksperimen.

Kelahiran HIV/AIDS

Hingga akhir 1960-an, Ilmuwan-ilmuwan di bawah pengawasan CIA, di Divisi Operasi khusus Fort Detrick, laboratorium dengan keamanan tingkat tinggi, mulai memperoleh kemajuan yang signifikan dalam pengembangan penyakit-penyakit yang menyerang sistem imun tubuh.

Pada tahun 1969, Dr. Robert MacMahan dari Departermen Pertahanan meminta dan menerima $ 10 juta dana dari kongres AS untuk mengembangkan agen Biologi buatan yang tidak ada imunitas alami yang dapat menahannya.

Dalam Kongres dia mengatakan :
"Ada dua hal tentang bidang agen biologi yang ingin saya sebutkan. Pertama adalah kemungkinan kejutan teknologi. Biologi molekuler adalah bidang yang berkembang sangat cepat dan ahli-ahli biologi terkenal percaya bahwa dalam periode waktu 5 hingga 10 tahun akan sangat mungkin diciptakan sebuah agen biologi buatan, suatu agen yang secara alami tidak ada, dan dimana imunitas alami pun tidak ada. Dalam 5 hingga 10 tahun, sangat mungkin untuk diciptakan mikroorganisme penyakit yang dapat dibedakan dalam aspek-aspek tertentu dari organisme-organisme penyakit lainnya. Yang terpenting dari semua ini adalah penyakit tersebut kebal terhadap proses imunisasi atau terapi apa pun di saat kita hendak melepaskan diri dari penyakit ini"

Jakob Segal, mengungkapkan bahwa USA telah berhasil menciptakan AIDS untuk disebarkan kepada manusia. Menurut Segal, HIV/ AIDS diciptakan di Fort Detrick, Maryland, dengan cara menggabungkan genom Viral dari Visna dan HTLV-1, karena keduanya hampir identik dengan HIV genome.

Pada 1957, saat melakukan eksperimen vaksin polio, Dr. Hillary Koprowski, menggunakan jaringan ginjal monyet yang telah dijangkiti virus yang dekat dengan AIDS, SV40, kemudian mengawasi proses injeksi vaksin yang telah terkontaminasi tersebut terhadap ratusan ribu orang negro Afrika. Anehnya mengapa percobaan itu tidak dilakukan saja kepada orang-orang Amerika sendiri. Meskipun begitu ia menolak bahwa ia ikut dalam penciptaan HIV/AIDS dan Koprowski juga menolak jika mereka menciptakan vaksin polio dengan gainjal monyet.

Pada 1978, Centers for Disease Control (CDC) mulai mengeluarkan advertensi bagi homoseksual yang ingin berpartisipasi dalam "Percobaan vaksin Hepatitis B". Percobaan pertama yang dilakukan oleh CDC adalah di New York, Los Angeles, San Fransisco, pada tahun yang sama. Pada tahun 1981 kasus AIDS pertama diketahui terjangkit pada laki-laki homoseksual di New York, Los Angeles, dan San Fransisco, membangkitkan spekulasi bahwa AIDS mungkin telah di tulari melalui vaksin hepatitis B.

Wangari Maathai mengungkapkan bahwa dia yakin AIDS adalah senjata biologi yang sengaja diciptkanan.

"Sebagian orang mengatakan bahwa Aids datang dari monyet, tapi saya meragukan hal itu, karena kami telah hidup bersama-sama monyet sejak dahulu kala, yang lain mengatakan bahwa hal itu merupakan kutukan tuhan, tapi saya katakan itu tidak mungkin"

"saya tidak memiliki gambaran siapa yang menciptakan AIDS dan apakah itu merupakan suatu agen Biologi atau buan. Tapi saya tahu pasti hal-hal seperti itu tidak akan begitu saja jatuh dari langit. Saya selalu berpikir bahwa sangat penting untuk menyampaikan kebenaran kepada setiap orang, tapi saya rasa ada beberapa kebenaran yang tidak boleh terlalu diekspos"

Flu Burung

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menuduh World Health Organization (WHO) dan USA melakukan konspirasi dalam pengumpulan sampel-sampel virus flu burung dan produksi-produksi vaksinnya. (The Jakarta Post/03/16/2008).
"Saya katakan kepada WHO bahwa mekanisme mereka dalam mengumpulkan virus-virus dari negara-negara berkembang sangat tidak adil. Cara yang sama sebuah negara imperialis memperlakukan koloninya"
Selanjutnya ibu Siti Fadilah Supari marah ketika mengetahui sampel H5N1 yang ia kirimkan ke WHO ternyata digunakan secara ekslusif oleh 15 orang ilmuwan di laboratorium Amerika Serikat di Los Alamos.

NAMRU

Siti Fadilah Supari pernah berkata dalam sebuah wawancara, bahwa laboratorium Media Angkatan Laut AS (NAMRU) yang berada di Indonesia untuk melakukan penelitian atas penyakit-penyakit tropis sama sekali tidak memberikan keuntungan apapun pada negara tuan rumah, dan tidak transparan dalam operasinya. Menteri mengatakan bahwa laboratorium Angkatan Laut AS di Jakarta telah menerima sampel virus dari seluruh bagian Indonesia, tetapi sekarang sudah dihentikan.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan virus-virus yang kami kirimkan itu."

Endang Rahayu Sedyaningsih adalah salah satu WNI yang berwenang atas keberadaan laboratorium Namru 2 (Naval Medical Research Unit/NAMRU-2), wanita yang pernah menjadi staf litbang Depkes ini, dituding oleh mantan Menkes sebelumnya, Siti Fadilah Supari, sebagai orang orang yang mengirimkan spesimen virus influenza A (H5N1) ke laboratorium NAMRU-2 saat Departemen Kesehatan yang saat itu dia pimpin memutuskan untuk menghentikan pengiriman spesimen guna memprotes mekanisme pertukaran virus WHO yang tidak adil.

Dia memiliki akses untuk keluar masuk dengan bebas di Namru. Aktivitasnya ini kemudian diketahui oleh Siti. Karena ketahuan itulah kemudian Endang dimutasi jabatannya dan diminta untuk minta maaf kepada Siti Fadilah.

Mengenai kedekatannya dengan orang-orang di laboratorium riset Angkatan Laut Amerika ini, Endang mengatakan sebagai peneliti dia sering berhubungan dengan lembaga-lembaga riset di dalam dan luar negeri termasuk Namru 2 dan mengenal orang-orang yang bekerja di sana.
"Jadi saya dekat dengan Namru, saya dekat dengan Belanda, saya dekat dengan NIID (National Institute of Infectious Diseases) di Jepang, saya dekat dengan China, ada penelitian malaria. Sebagai peneliti kita dekat dan bekerja sama. Jadi tidak ada saya dekat dengan ini, tidak dekat dengan itu. Itu semua berbasis profesional kerjasama," tegas Menkes Endang Rahayu ketika ditanya perihal kedekatannya dengan Namru, Kamis (22/10).

Kematian Para Ilmuwan

Lee Jong-woo (61)
Meninggal dunia pada 22 Mei 2006 , disebabkan oleh gumpalan darah pada otaknya. Dia memimpin perjuangan organisasinya untuk melawan ancaman global Flu Burung, AIDS, dll. Dirjen WHO sejak 2003, Lee adalah pejabat Internasional ternama yang tidak memiliki riwayat sakit.

Dr. Mario Alberto Vargas Olvera (52)
Meninggal dunia 6 Oktober 2007, karena beberapa luka benda-benda tumpul di kepala dan lehernya. Polisi mengkategorikannya sebagai pembunuhan. Ia adalah seorang ahli biologi yang terkenal secara nasional dan internasional.

Robert J. Lull
Meningggal 19 Mei 2005, meninggal karena motif perampokkan yang aneh. Inspektur bagian pembunuhan mengatakan :
"Seorang perampok pada umumnya akan mengambil lebih banyak benda-benda berharga korban ketimbang kartu kredit korban". Lull adalah mantan Kepala the American College of Nuclear Physicians, the San Fransisco Medical Society, dan juga bertindak sebagai editor jurnal San Fransisco Medicine."

Bagaimana Virus dan Bakteri Bisa Dikendalikan Sebagai Senjata Biologi

Sebetulnya saya belum begitu paham dengan mekanisme penciptaan virus. Namun dari sabuah buku pelajaran saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Virus atau Bakteri dapat di ciptakan dari Mutasi Biologis. Dalam komposisi mutagen yang memiliki kemampuan untuk mengubah kondisi DNA suatu sel, sehingga akan mengalami mutasi. Pada akhirnya bakteri atau virus dapat diciptakan sebagai vaksin ataupun senjata biologi.

"Perkembangan penduduk adalah isu yang sangat besar yang dihadapi dunia pada tahun-tahun mendatang, sebuah dunia pada tahun-tahun mendatang, sebuah dunia dengan penghuni 10 juta manusia bukanlah dunia yang ingin kita tinggali. Apakah kondisi dunia ini tidak dapat kita hindarkan? Ada dua cara yang memungkinkan kondisi dunia seperti itu dapat dicegah. Apakah dengan menurunkan jumlah kelahiran atau tingkat kematian meningkat. Tak ada cara lain."bld

sumber http://bldirgantara.blogspot.com/2013/04/virus-pemusnah-masal-dan-dibalik.html