Monday, February 18, 2013
30 HARI PENGAKUAN. DAY 5: TRAUMA
Pernahkah kau merasa begitu takut untuk melangkah maju? Kata hatimu menginginkan sesuatu, namun ada sesuatu yang menahanmu di tempat, atau justru menarikmu ke belakang?
Well, aku pernah, beberapa kali. Aku begitu merasa takut untuk mengambil keputusan dan berpikir seribu kali. Semua diakibatkan oleh satu rasa yang bernama trauma.
Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para psikolog menyatakan trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. (sumber)
Kejadian yang dialami dan bekas yang ditinggalkan bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga psikis. Trauma psikis inilah yang merupakan bahaya laten dalam perkembangan kepribadian seseorang.
Tidak semua orang memiliki trauma spesisfik, namun aku memilikinya. Inilah pengakuanku mengenai trauma.
Aku trauma pada pernikahan.
Banyaknya pertengkaran diantara kedua orangtuaku sejak aku masih teramat kecil, sedikit demi sedikit mengendap dalam alam bawah sadarku. Sampai-sampai aku pernah menganggap bahwa pernikahan identik dengan pertengkaran. Waktu aku kecil, aku pernah berkata bahwa aku mungkin tak akan pernah ingin menikah. Hidup selibat bagiku cukup. Aku tak tau bagaimana aku yang sekarang, apakah ucapanku itu masih berlaku atau tidak. Di satu sisi, aku tau bahwa menikah adalah setengah dari agama. Aku pahambahwa menikah adalah ibadah. Tapi tau dan paham tidak sama dengan merasakan. Trauma itu masih ada, walau sedikit, bahwa aku takut akan pertengkaran dalam rumah tangga. Aku takut anak-anakku kelak akan mengalami hal yang sama dengan yang kualami, yaitu merasakan ketakutan yang sama setiap hari. Merasa tidak aman hampir setiap hari. Merasa khawatir hampir setiap hari, apakah sepulang sekolah akan ada piring yang terlempar pecah ataupun koper yang dipak dan siap diangkut pergi.
Aku pernah berpendapat bahwa pernikahan itu sangat menakutkan dan aku tidak akan pernah siap menghadapinya suatu saat nanti. Kurasa, sampai saat ini, pendapat tersebut sebagian masih bertahan. Aku masih menganggap bahwa pernikahan itu bukan hal main-main dan membutuhkan bukan hanya sekedar cinta, tapi juga kedewasaan dan komitmen penuh.
Dulu, trauma ini menjadi hal yang sangat negatif buatku. Aku menjadi seperti orang yang sangat anti membicarakan pernikahan. Pokoknya aku benci setiap ada orang yang membicarakannya. Namun, sejak aku membaca sebuah hadist berikut:
Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).
Aku tidak lagi membenci pernikahan, aku tidak lagi anti terhadapnya. Aku justru semakin mempelajari mengenai pernikahan. Bagaimana agar kelak jika aku menikah, aku tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan orang tuaku. Aku bahkan mempelajari sampai bagaimana mendidik anak, agar tidak sampai melukai perkembangan psikologi anak. Walaupun demikian, aku tetap merasakan kekhawatiran akan pernikahan x_x
Aku trauma pada persahabatan
Sebuah hal yang miris adalah ketika kau memiliki begitu banyak teman, namun kau masih merasa kesepian. Saat teman hanyalah sebuah status sosial yang ditempelkan satu manusia ke manusia lainnya. Yah, begitulah yang kurasakan. Aku seringkali merasa sendirian, padahal aku tak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada manusia-manusia yang bernama teman di sekelilingku. Namun entah mengapa, seperti ada tabir antara aku dan mereka. Tabir yang semakin lama semakin tebal dan akhirnya mengasingkanku dari mereka.
Dulu, aku begitu mudah bergaul, mudah menemukan teman. Bagiku sangat mudah untuk menyayangi sosok yang disebut teman. Namun, selalu dan selalu, sosok yang disebut teman itu mengecewakanku dan menyakitiku. Apa kau tau bagaimana rasanya difitnah oleh teman dekatmu? Apa kau tau bagaimana rasanya jika rahasia terdalammu dibeberkan didepan publik lalu ditertawakan oleh seorang yang kau sebut teman sejati?? Apakah kau pernah merasakan bagaimana sakitnya saat kau dan keberadaanmu hanya dimanfaatkan oleh temanmu hanya untuk keuntungannya semata??
Percayalah, aku sudah pernah mengalami itu semua. Ironis memang, ketika aku dengan tulus ingin berteman dengan seseorang, lalu kau harus mengalami hal-hal yang menyakitkan tersebut dengan tiba-tiba dan tak menduga. Aku memang tak pernah mengharap bahwa semua ketulusanku itu berbalas dengan kebaikan. Namun, aku lebih tidak mengharap bahwa mereka akan menyakitiku. Itu terlalu pahit buatku. Disakiti oleh orang yang sudah kau anggap sahabat sendiri jauh lebih menyakitkan dibandingkan dicaci oleh orang yang membencimu.
Oleh karenanya, pernah ada masa dimana aku bersikap sangat dingin kepada semua orang. Bersikap menjauh dari semuanya. Terlalu lelah untuk percaya bahwa yang namanya sahabat itu memang ada. Menganggap bahwa berjuang sendiri dalam kerasnya dunia itu jauh lebih baik daripada memiliki resiko untuk kembali sakit hati karena sahabat. Hatiku sudah separah itu kerusakannya.
Lalu aku bertemu seseorang. Yah, kau sudah tau Jay (baca postingan sebelumnya). Lalu dia pergi.. bertahun-tahun aku tak memiliki sahabat lagi. Sampai aku bertemu seorang pria. Pria yang entahlah, selalu ada disaat susah dan senangku. Selalu bisa berbagi beban kehidupan denganku layaknya sahabat. Mendampingi layaknya seorang kakak, dan membimbing layaknya seorang bapak. Mungkin dia lah orang pertama yang mengembalikanku pada 'kehidupan'. Kehidupan yang membuatku kembali hidup normal dan mulai percaya bahwa ketulusan itu memang benar ada. Lalu, dia pergi lagi.. sungguh naas hidupku T.T Namun, pada akhirnya, saat ini jalan kehidupan yang berliku ini mempertemukanku pada 2 orang manusia yang baik. Kisah mengenai keduanya bisa dibaca di postinganku mengenai Sahabat.
Walaupun aku saat ini sudah menemukan mereka, yang mulai kuberanikan diri untuk kupanggil sahabat, ketakutan dan trauma itu masih tetap menghantuiku. Entah mereka akan pergi dari hidupku atau mereka akan menyakitiku, itulah ketakutanku. Aku memang mulai menterapi diri sendiri dengan sugesti bahwa mereka tidak akan menyakitiku, dan kalaupun suatu saat itu akan terjadi, aku akan berusaha tetap mempertahankan mereka. Namun, bayangan perpisahan masih menghantui. Mengingat aku selalu harus berpisah dengan orang-orang kesukaanku sebelumnya. Sampai saat ini aku pun masih bertanya-tanya, apakah ini mimpi, bahwa aku akhirnya bertemu lagi dengan sahabat. Lalu kapankah aku bangun dan menemukan realita?
Aku juga trauma pada kegagalan.
Aneh, bukan? mengingat bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan dan itu adalah hal yang biasa. Namun yaaah, bagiku gagal adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Sejak kecil, orang tuaku mendidik aku dengan cara yang sangat perfeksionis sehingga aku terbiasa merasa takut untuk gagal. Gagal adalah seburuk-buruknya hal. Ayahku selalu mengharapkan agar aku berhasil di bidang akademik. Berprestasi pun aku jarang dipuji, malah cenderung dievaluasi. Lalu apalah yang terjadi jika aku gagal? Ibuku pun sama, mengharapkan aku agar bisa menjadi wanita yang tangguh, tiada pernah menangis cengeng. Lalu, apakah yang terjadi jika aku lemah dan menangis? Hal itu mengendap dalam diriku: aku tak boleh gagal. Aku harus berprestasi, kuat dan tegar.
Namun, inilah hidup. Dan akupun gagal suatu hari. Dan itu sangat memukulku. Melihat sosok ayahku yang terluka, walau beliau berusaha menyembunyikannya, harus kuakui lebih membuatku terluka. Gagal itu sangat menyakitkan! Sampai tiada sanggup rasanya melanjutkan hidup. Aku selalu memikirkan dampak kegagalan dalam hidupku bagi hati kedua orang tuaku yang memang penuh ekspektasi. Rasanya tiada pernah sanggup lagi aku lihat sorot terluka pada kedua mata mereka. Itu sangat menyakitkan.
Oleh karenanya aku sangat trauma pada kegagalan. Aku mulai memasang standar yang lebih tinggi pada diriku dalam setiap hal. Yak, aku telah sukses menjadi seorang perfeksionis. Jika kau tanya padaku apakah menjadi seorang perfeksionis merupakan sebuah hal positif atau negatif, aku akan menjawab keduanya.
Menjadi perfeksionis merupakan hal positif karena kau tidak akan melakukan suatu hal apapun tanpa bekerja dengan sangat keras. Kau akan menjadi sangat total terhadap apa yang kau kerjakan. Ini berarti dedikasi dan loyalitas. Sisi buruk dari menjadi seorang perfeksionis adalah kau menjadi mudah down. Sedikit kegagalan akan membuatmu larut dalam penyesalan dan penghakiman yang kadang tidak masuk akal pada dirimu sendiri. Lalu, kau akan menjadi semakin tidak menyukai kegagalan.
Aku trauma curhat.
Yang ini lebih aneh lagi. Curhat saja bisa menimbulkan trauma?? lebay! :p Tapi ya memang, aku kurang berbakat dalam bidang yang satu ini. Sejak dulu aku memang sering menjadi tempat curhat bagi teman-temanku. Baik perempuan maupun laki-laki. Namun entah mengapa, aku tak pernah bisa curhat kepada orang yang pernah curhat padaku tanpa berpikir panjang dan berulang-ulang.
Menurutku, yang namanya curhat itu merupakan fungsi dari minimal 3 hal:
1. Kepercayaan
Apakah kau mau curhat sama orang yang tidak kau percayai bahwa dia dapat menjaga rahasiamu atau menjaga perasaanmu?
2. Kenyamanan
Ataukah kau mau curhat sama orang yang tidak nyaman kau ajak bicara, yang kau tau dia hanya akan memandangmu rendah setelah kau bercerita atau justru sama sekali tidak mendengarkan?
3. Keadaan
Terkadang, ada sebuah situasi dimana kau hanya membutuhkan orang lain untuk berbagi. Situasi dimana kau baru saja mengalami hal yang bisa jadi itu mengejutkan, membahagiakan, menyedihkan atau bahkan menakutkan!
Begitulah menurutku, seseorang akan memutuskan untuk curhat kepada orang lain jika dia merasa beberapa dari fungsi tersebut diatas terpenuhi. Untuk kasusku yang perfeksionis ini, ketiga hal tersebut harus terpenuhi semua.
Terakhir, dan ini merupakan pengakuanku yang terdalam. Aku trauma jatuh cinta.
Pengalaman jatuh cinta merupakan pengalaman yang sangat menakutkan! Seperti jatuh dalam goa yang sangat dalam, gelap dan belum pernah terjelajahi sebelumnya (halah! Sanctum syndrome! :p). Jatuh cinta adalah sebuah pengalaman yang membingungkan. Ia tak memiliki formula yang pasti dan teruji secara scientific, variabelnya tak tentu, probabilitasnya tak terukur, resiko tidak selalu bisa dicegah, dan kebenarannya tidak mutlak.
Saat seseorang jatuh cinta, semua sistem nalar dan logika seperti lumpuh sementara dan hanya hati dan perasaannya yang menguasainya. Hal ini sudah tentu menjadi hal yang paling beresiko. Bagaimana mungkin seseorang mempertaruhkan sebuah hati yang tiada gantinya hanya demi makhluk bernama cinta? Apakah resikonya sebanding dengan hasil yang (mungkin) akan didapatnya?
Andaikan saja ada suatu sistem, suatu formula, suatu resep obat, atau apapun dimana seseorang bisa jatuh cinta tanpa merasakan resiko sakit hati. Tentu jatuh cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Tapi ternyata hal tersebut belum ada, dan jatuh cinta masih menjadi momok yang menakutkan bagiku.
Aku pernah jatuh cinta, beberapa kali. Namun aku selalu berusaha menguntai benang merah dari setiap pengalaman aku terjatuh untuk mencinta.
There's no such thing as love at first sight. Karena sejatinya, cinta adalah perasaan yang bertumbuh seiring dengan waktu dan dipupuk oleh pengetahuan saling menemukan kenyamanan antara satu sama lain. Jatuh cinta bukanlah sebuah proses instan seperti mi instan (halah). Ketika perasaan itu muncul seiring berjalannya waktu dan didasari bukan hanya perasaan kagum belaka yang sementara, ia akan bertahan lama.
Bagiku, cinta tanpa logika adalah cinta yang bukan saja buta, tetapi membutakan dan membahayakan. Walau bagaimanapun segala sesuatu butuh logika, butuh pemikiran mendalam. Makhluk yang bernama cinta lahir dari hati dan logika dengan takaran yang pas dapat menjaga hati agar tidak terluka. Hati hanya ada satu, kau tak ingin kehilangannya tanpa punya pertahanan sama sekali, bukan?
Yah, aku memang tipe yang sulit untuk jatuh cinta. Butuh banyak pertimbangan, pemikiran yang mendalam dan kenyamanan sampai tiba saatnya aku jatuh cinta. Namun, saat aku jatuh cinta, aku memang tidak pernah mudah bangkit darinya. Pengalaman berbicara bahwa aku selalu membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk bangkit kembali dari pengalaman 'jatuh' yang satu ke pengalaman 'jatuh' yang lainnya. Itulah mengapa aku selalu trauma saat tanda-tanda jatuh cinta menyerangku.
Well, begitulah penuturanku yang teramat panjang mengenai trauma. Bukan topik yang mudah bagiku, dan membutuhkan penuturan yang sangat jujur dari hatiku. Dan, beginilah aku. Ini pengakuanku mengenai trauma.
(16 Mei 2011)
30 HARI PENGAKUAN. DAY 4: HIGH SCHOOL
Malam ini hujan kembali turun, dan aroma Petrichor pun menguar bak candu bagi ingatanku. Menuntunku kembali ke masa-masa itu, saat dunia masih berwarna putih dan abu-abu.
Kubuka gerbang waktu, saat mentari bersinar terik dan bulir-bulir peluh pun meluruh. Hari belum juga siang, namun udara sudah menyengat kulitku dan aku harus beranjak pergi menembus keramaian kota Bekasi menuju suatu tempat. Sesampainya di sana, kulihat sebuah tulisan di dindingnya "SMAN 2 Bekasi". Disinilah aku mencoba merajut benang-benang ilmu dan masa depan. Suatu tempat yang disebut Sekolah :) Lokasinya bisa dibilang terletak di pusat kota, berjarak sekitar 7 Km dari rumahku dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam. Itu juga kalau tidak macet, hehehe..
Di Sekolahku, murid yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA mendapatkan shift belajar siang. Mulai sekitar pukul 12.30 hingga kira-kira pukul 17.30. Dapat kau bayangkan bersekolah di jam-jam segitu? Mengantuk, tentu! dan panas juga.. benar-benar ujian bagi kesungguhan kami, para pelajar :p
Bagiku, masa SMA merupakan masa dimana aku menemukan aktualisasi diri. Dari aku yang sangat pendiam dan pemalu saat SMP, lalu menjadi lebihoutgoing. Banyak kejadian yang kualami di SMA, masing-masing memiliki kesan sendiri.
Apakah kau percaya jika kukatakan bahwa aku termasuk anak yang badung saat aku duduk di kelas 1? hahaha.. Hal itu benar. Saat itu aku memiliki seorang sahabat, dia berasal dari Bali. Namanya Ni Komang Triana Dewi Wulandari. Di rumahnya, dia biasa dipanggil Ana. Namun aku memanggilnya Jay, yang merupakan singakatan dari "Jayus". Dulu, kami memang terkenal sebagai Duo Jayus =)) Pada dirinya, aku seperti menemukan seorang Partner In Crime. Dulu, kami sering membolos pada saat upacara penurunan bendera di hari sabtu, lalu kami melarikan diri ke Mall. Maklum lah, sekolahku berada di kawasan Mall Metropolitan Bekasi, jadi sebenarnya sudah menguntungkan secara geografis x)
Aku dan Jay bersahabat akrab, kami selalu bersama. Walaupun kami berbeda agama (Aku seorang muslim, dan dia Hindu), namun kami tetap kompak. Saat jam istirahat sore, aku sholat ashar di masjid sekolah dan dia tetap menungguku di latar masjid. Sungguh, kami seperti dua sejoli (yihaaa) xD
Bersama Jay juga, aku seperti merasa lepas dari semua beban. Aku tak perlu berpura-pura menjadi siapapun, pun aku tak perlu repot menjelaskan apapun padanya. Kadang, aku merasa seperti ada koneksi bantin antara kami, bahwa kami dapat berkomunikasi tanpa saling mengutarakan isi hati. Sungguh aneh dan baru kali itu aku menemukan sahabat sepertinya.
Namun, seperti biasa, nasib malang (selalu) menimpaku, karena dia ternyata harus pindah sekolah (hell yeah) ke Jakarta disaat kenaikan kelas 2. Aku sungguh merasa kehilangan dia.
Seperti yang bisa ditebak, kehidupanku di SMA selanjutnya tanpa Jay benar-benar berbeda. Setelah Jay, memang aku tak bisa lagi menemukan sahabat. Aku memang punya banyak teman, dan aku bisa bergaul dengan orang-orang dari 'kalangan' apapun. Tapi tak ada diantara mereka yang benar-benar bisa seperti Jay. Untuk mengatasi kehilanganku, aku mulai aktif di organisasi. Awalnya aku hanya ikut-ikutan di ekskul keagamaan (namanya Ikrema) namun lama kelamaan, akupun mulai aktif. Aku juga aktif di ekskul jurnalistik dan menadapat banyak sekali ilmu disana.
Di sekolahku, memang pergaulannya seperti terbagi dalam kubu-kubu. Ngegenk lah istilahnya. Tiap genk biasanya terbentuk berdasarkan kesamaan minatnya, misalnya ekskul yang dipilihnya. Ada Genk Basket, Genk OSIS, Genk KIR, Genk Pramuka, Genk Rohis, Genk Cheers, dan lain-lain. Sejujurnya aku tak pernah menemukan kesulitan untuk berteman dengan teman-teman lintas genk (apeu??), namun memang ada beberapa genk yang sangat eksklusif hingga tak mau berteman dengan siapapun selain anggotanya. Yah, itulah kehidupan SMA, yang kurasa kebanyakan orang juga mengalaminya :)
Di kelas 2, aku pun mengalami banyak hal baru. Salah satunya adalah memiliki teman istimewa (halah). Bahasanya apa ya? Pacar? :p
Aku akan bercerita sedikit mengenai dia. Bisa dibilang dia penggemar rahasiaku, sementara aku menjadi penggemar rahasia temannya. Lalu, suatu saat entah mengapa kami bisa menjalin hubungan. yah yah yah.. walaupun tidak lama, tapi dia pernah menjadi bagian dari hidupku. lebih lengkap mengenai dia mungkin akan kubahas di pengakuan tersendiri yah :p Dan begitulah masa-masa kelas 2 SMA berlangsung, lebih banyak soal organisasi dan menjadi penggemar rahasia seseorang (hahaha)
Ada satu pengakuan menarik, bahwa sebenarnya, aku sudah merasakan ketertarikan yang sangat besar terhadap dunia jurnalistik dan tulis menulis sejak aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Dan aku sudah punya keinginan untuk menjadi seorang penulis. Namun apa daya, ayahku menginginkanku untuk konsentrasi di dunia engineering dan itu mengharuskanku memilih jurusan IPA di penjurusan kelas 3.
Dan seterusnya begitulah masa SMA ku berakhir, dengan kesibukanku sebagai siswi jurusan IPA, kebanyakan berkutat dengan praktikum dan belajar menjelang Ujian Nasional. Aku akhirnya bisa bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan SMA, walaupun diawal aku badung, toh diakhir aku dapat menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah hehe
Salah satu keindahan masa SMA adalah bahwa banyak sekali ruang belajar yang bisa dimanfaatkan dan seseorang bisa menemukan aktualisasi dirinya melalui berbagai kegiatan intra/ekstrakurikuler yang ada. Aku menemukan seorang sahabat yang baik, banyak ilmu yang bermanfaat, dan aktualisasi diriku saat SMA.
Banyak memori yang tersimpan dalam arsip kenangan SMA, beberapa benar-benar layak untuk mendapat apresiasi untuk dipertahankan sampai nanti, saat kita tidak mampu lagi mengingat semuanya dan kenangan hanya berupa gambaran buram sebuah fase dalam kehidupan
We all have our time machines. Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams. ~ Jeremy Irons
(15 Mei 2011)
30 HARI PENGAKUAN. DAY 3: FAMILY
You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them. ~Desmond Tutu
Ketika aku menuliskan ini, aku sedang berada jauh dari mereka, keluargaku. Ini adalah pengakuanku tentang sebuah Keluarga.
Aku lahir dan tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga kecil. Di rumah kami hanya ada kami berempat: Ayah, Ibu, Aku dan Adikku. Yah, keluargaku seperti potret Keluarga Berencana: 2 anak cukup! :))
Ayahku, beliau keturunan Ternate, namun dibesarkan di tanah Papua. Orang bilang bahwa 'orang timur' umumnya berwatak kasar dan 'keras'. Tapi tidak dengan Ayahku. Sebagai orang 'timur', beliau sangat lembut dan bisa dibilang pendiam. Aku sangat jarang melihat Ayahku marah. Beliau sangat sabar.
Ayahku bekerja di salah satu perusahaan yang dulunya BUMN, namun sekarang sudah menjadi perusahaan swasta. Pekerjaannya menuntutnya untuk selalu berada jauh dari keluarga. Kerapkali, aku, adik dan Ibuku ditinggal pergi untuk waktu yang sangat lama, bisa berbulan-bulan lamanya. Bahkan konon menurut cerita Ibuku, waktu aku lahir, Ayahku masih berada di pulau seberang (entah Batam atau Bontang, aku lupa :p). Sehingga, orang pertama yang meng-adzankanku bukanlah Ayahku, tapi pamanku. Namun itu tak mengapa :)
Walaupun Ayah sering tidak berada di rumah, hal tersebut tidak mengurangi kedekatan kami, anak-anaknya dengannya. Terutama aku, aku sangat dekat dengan Ayahku. Konsekuensi dari jarangnya Ayah berada dirumah, kami sekeluarga menjadi manusia-manusia "rumahan", yang merasa bahwa tempat yang paling nyaman di bumi ini adalah di rumah. Kami jarang sekali bepergian, kami lebih suka berada di rumah. Saat Ayahku akhirnya pulang ke rumah, kami cukup merasa tau diri dan tidak membebani beliau untuk pergi keluar dan berlibur. Kami paham bahwa Ayah lelah bekerja dan tentunya ingin beristirahat di rumah. Itulah sebabnya hingga saat ini, aku kurang suka yang namanya travelling atau rekreasi atau apalah. Kalaupun ada waktu luangku, aku hanya ingin menghabiskannya bersama orang terdekatku di tempat yang nyaman, bernama rumah :)
Latar belakang pendidikan Ayahku cukup tinggi, sampai saat ini, beliau sudah mengoleksi beberapa gelar dari berbagai bidang studi. Beliau seorang Sarjana Teknik Mesin, Magister Teknik Industri, Magister Manajemen dan kabarnya masih akan mengambil program doktor di Bidang Teknik Informasi.
Jujur, aku tak tau otak Ayahku seperti apa, namun beliau orang yang sangat menyukai pendidikan. Itu pula sebabnya walaupun pekerjaannya sekarang tetap menuntutnya selalu bolak-balik Jakarta-Kaltim, namun di akhir pekan, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta. Pekerjaan sampingan ayahku adalah seorang Dosen.
Lain halnya dengan Ayahku yang super sibuk, Ibuku adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Pekerjaan sehari-harinya adalah mendedikasikan dirinya untuk Ayah, aku, dan adikku. Ibuku lah yang menjaga kami ketika Ayah tak ada di rumah. Ibuku wanita yang hebat, karena tidak pernah mengeluh lelah atau susah saat Ayah tak ada. Beliau yang menggantikan peran ayahku, melewati berbagai hal sulit seorang diri :)
Jika Ayahku berasal dari Indonesia bagian timur, ibuku justru berasal dari Jawa bagian timur. Kadang aku heran, mengapa mereka berjodoh.. Karena banyak hal dari mereka yang sangat berbeda, sehingga sulit menemukan dimana letak kecocokannya. Secara sifat, Ibuku lebih outgoing, lebih extrovert sedangkan Ayahku introvert dan pemalu. Ibuku juga lebih sering berbicara, sedangkan Ayahku lebih suka diam dan kalem. Ayahku orang sains dan sangat lemah dalam bahasa asing, sedang ibuku sangat menyukai bahasa asing. Lalu, mengapa mereka menemukan satu sama lain dan jatuh cinta? Sungguh merupakan sebuah misteri bagiku.
Kurasa, cinta memang merupakan sebuah misteri sejak dulu :)
Aku dan Ibuku tak terlalu dekat, beliau lebih dekat dengan adikku. Entah mengapa mereka seolah memiliki ikatan yang lebih kuat. Saat adikku sakit, pasti Ibuku ikut sakit. Begitupun sebaliknya. Kedekatanku dengan Ibu mulai terasa justru sejak aku pergi dari rumah dan memilih untuk merantau untuk kuliah. Kalau dulu, aku sering merasa bahwa Ibuku hanya memperhatikan adikku, memenuhi semua keinginan adikku, sejak aku merantau, barulah terasa bahwa Ibuku juga begitu memperhatikanku. Apalagi sejak aku dan Ibuku pergi Umroh bersama di tahun 2008, aku makin menyadari kedekatan kami.
Ibuku bukan tipe Ibu yang sangat keibuan. Beliau justru cenderung bertipe ibu yang tangguh. Aku ingat saat aku jatuh dan terluka saat aku kecil, beliau tidak pernah memelukku untuk menghilangkan rasa sakit itu atau menghapus airmataku. Beliau hanya memintaku membasuh lukaku sendiri dan menyodorkan obat antiseptik, agar aku merawat lukaku sendiri. Dulu, aku sangat merasa sakit hati.. Mengapa aku tak mendapat pelukan dari Ibu layaknya seorang anak? Begitu sullitnyakah bagi Ibu untuk mencintaiku? Belakangan, setelah aku dewasa, aku menyadari bahwa itulah cara Ibu untuk membentuk aku menjadi wanita yang mandiri dan tidak cengeng :)
Aku memiliki seorang Adik laki-laki yang usianya berbeda 3 tahun denganku. Sejak dulu, kami sangat akrab. Betapa tidak? Dialah satu-satunya saudara sedarah yang kumiliki. Entah mengapa dalam mindset-ku tertanam kuat pemikiran untuk selalu menjaganya. Sejak kecil, dia sangat lucu dan polos. Kegemarannya adalah bermain video games. Segala jenis games sangat pandai dimainkannya. Nintendo, Super Nintendo, Sega, PS1, PS2, bahkangames di Time Zone! Dia seperti seorang nerd hahaha. Kedekatan kami terus berlanjut seiring kami bertumbuh dewasa. Dia sering bertanya padaku mengenai hal-hal yang tidak dia ketahui, dan aku pun menikmati menceritakan semua pengalamanku kepadanya.
Namun, naas melanda kami saat aku harus meninggalkan rumah untuk Kuliah di saat dia justru harus masuk SMA. Saat dimana dia paling membutuhkan sosok kakak untuk berbagi kisah hidupnya, dia harus kehilangannya. Begitulah konsekuensi dari perbedaan umur kami yang 3 tahun itu. Kuakui jarak Bandung-Bekasi tidaklah terlalu jauh dan sebenarnya akupun tidak juga sama sekali tidak pulang ke rumah di saat liburku. Namun, diawal masa-masa kuliahku yang sangat berat (maklumlah mahasiswa jurusan Teknik), aku akui aku memang tidak lagi memperhatikan dia, seperti dulu. Aku lebih fokus pada hidupku yang sebagai perantau. Mungkin kami tidak siap dengan perubahan yang tiba-tiba ini, sehingga kami merasakan seperti ada jarak yang semakin lama semakin memisahkan kami.
Hingga akhirnya, kami sama-sama dipertemukan kembali di Jogja, Kota pelajar :)
Walaupun akhirnya kami sama-sama tinggal seatap, tetaplah hubungan kami tidak seperti dulu. Kami tumbuh dewasa. Aku memiliki masalah sendiri dalam hidupku yang ruwet dan diapun demikian. Kami tidaklah sedekat yang dulu. Namun, aku tetap menyayangi adik kandungku itu. Inilah proses menjadi dewasa.
Banyak hal yang terjadi pada keluargaku, dan tidak semuanya menyenangkan. Justru lebih banyak menyakitkan. Ada masa-masa sulit saat keluarga kami diambang kehancuran. Pertengkaran selalu mewarnai kehidupan keluarga ini. Ayah bertengkar dengan Ibu atau Aku bertengkar dengan Ibu. Selalu pertengkaran demi pertengkaran, sampai rasanya tiada lagi kedamaian di rumah.
Aku tak tau mengapa begitu banyak pertengkaran di keluarga kami. Padahal kebanyakan penyebabnya hanyalah hal-hal sepele, yang kalau kuingat saat ini, semuanya sangat konyol. Aku masih ingat, betapa seringnya aku dan Ibu bertengkar hanya karena hal sepele, hanya karena aku begitu egois untuk setuju mengalah dalam berpendapat saat bersama Ibu.
Belakangan, aku menyadari bahwa semua pertengkaran dan keributan itu pasti sangat meninggalkan bekas di hati adikku. Makhluk yang tak berdosa yang harus hidup dan menyaksikan semuanya.
Mungkin kami semua lelah dengan semua yang terjadi pada keluarga ini. Mungkin sudah terlalu lama berada dalam situasi negatif. Namun, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan takdir-Nya mengubah itu sedikit demi sedikit. Perubahan di keluarga kami mulai terjadi sejak kedua orang tua kami pergi untuk menunaikan rukun islam yang ke-5, yaitu naik Haji di tahun 2003. Sejak itulah, aku merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam keluarga dan semua itu dimulai dari kedua orang tua ku. Kesabaran, bersyukur, dan saling menghargai mulai lebih terasa dominan di keluarga kami. Itulah awal dimana aku dan keluarga memulai sebuah kehidupan baru. Hingga saat ini, kami berusaha untuk mempertahankan itu.
Segala kesulitan yang pernah kualami bersama keluarga ini pernah membuatku harus membuat pilihan sulit: lari dan hidup sendiri atau bertahan demi keluargaku (terutama adikku). Berkali-kalipun aku semakin ingin menyerah. Namun pada akhirnya, aku selalu membuat keputusan itu: aku memilih bertahan demi keluargaku. Dan aku takkan pernah menyesali keputusan itu.
Yah, beginilah keluargaku. Tidak sempurna. Ketidaksempurnaan yang membuat kami merasa semakin memiliki keluarga ini. Pernah aku melihat potret keluarga lain, yang (mungkin) lebih bahagia dari keluargaku dan aku merasa iri. Betapa mahalnya sebuah kebahagiaan dalam sebuah keluarga dan aku ingin memilikinya. Namun, saat ini aku kembali berpikir, benarkah potret keluarga yang kulihat itu benar-benar bahagia? atau justru mereka lebih pandai menyembunyikan kesulitannya?
Aku memang tidak dapat memilih keluargaku, memilih Ayah yang selalu ada di rumah dan berada bersama keluarganya setiap saat, memilih Ibu yang lebih keibuan dan penuh kasih sayang yang dapat memelukku setiap saat aku merasa sedih dan sendiri, atau memilih seorang kakak dibanding adik, yang jauh bisa diandalkan. Namun, aku beryukur ada di keluarga ini, karena setiap detik bersamanya telah membentuk diriku apa adanya seperti saat ini. Semua kesulitan telah membuatku kuat, dan setiap kesedihan telah membuatku menghargai kebahagiaan.
Keluarga ini lebih penting daripada eksistensi diriku.
(14 Mei 2011)
30 HARI PENGAKUAN. DAY 2: AKU SUKA
Aku bertemu dengannya saat aku duduk di kelas 1 SMP. Dia teman sekelasku.
Dia jangkung. Aku bahkan harus mendongak saat menatapnya. Dia berjalan layaknya seorang yang arogan, dia berbicara dengan suara yang lantang, dia tidak pernah bisa diam dan selalu ingin bergerak dan melakukan sesuatu.
Kesan pertamaku terhadapnya sangat tidak menyenangkan. Dia sangat menyebalkan! Dia bahkan melontarkan ejekan-ejekan khas cowok kepada cewek padaku di perkenalan pertama kami. Aku tidak suka padanya! Aku ingin menghindar darinya!
Sialnya, kami duduk di barisan yang bersebelahan. Aku duduk di bangku paling depan (ya! Aku selalu suka duduk di bangku terdepan. Kebiasaan yang bertahan hingga saat ini :D ) dan dia duduk di bangku kedua dari belakang.
Saat itu, aku memang menjadi sekretaris kelas dan kerap ditugasi menghadap guru atau mencatat di kelas. Yah, aku memang tidak pintar, tapi aku termasuk siswi yang cukup rajin (wahihi).
Aku dan dia sangat jauh berbeda. Aku sangat suka Fisika dan membenci Sejarah. Sedangkan dia sangat menyukai Sejarah dan membenci Fisika. Kami tidak pernah berbincang-bincang sebelumnya.
Sampai suatu saat. Dia dan teman-temannya, sesama genk cuek dan badung sedang bermain lempar-lemparan kertas di kelas. Entah mengapa kertas-kertas itu selalu mendarat di kepalaku! Arrrggghh!
Lama kelamaan aku yang sedang ditugasi oleh guru mencatat di depan kelas pun merasa terganggu. Sikapnya sangat menyebalkan. Lalu akupun memutuskan untuk 'melawannya'. Sikap dia tidak bisa terus-terusan diabaikan!
Akupun memungut kertas-kertas itu dan menimpuknya balik. Yang mengherankan adalah bahwa dia menangkapnya dan merasa bahwa akhirnya aku menanggapinya untuk 'bermain'. Saat itu aku akhirnya tak jadi marah, justru tertawa melihat tingkahnya :)
Keesokan harinya, berjalan normal. Sampai dia meminjam Tip-Ex padaku. Entah memang sifatnya yang jail tiada tertahan atau apa, dia tak mau mengambil tip-ex itu dari mejaku dan memintaku berjalan ke mejanya dan mengantarkannya! Menyebalkan! Aku yang memang keras kepala, tak mau kalah dari 'permainan'nya dan akhirnya melemparkan tip-ex itu padanya. Dia menangkap dengan sigap (dia punya refleks yang bagus).
Lalu dia (akhirnya) untuk pertama kalinya memanggil namaku "Rin!" dan melempar tip-exku untuk mengembalikannya. Untungnya (benar-benar beruntung) aku juga punya refleks yang bagus (saat itu) dan menangkap tip-ex yang melayang itu sebelum mengenai jidatku. Tadinya aku ingin marah, namun melihat dia nyengir begitu lebar, ditambah keterkejutan dia memanggil namaku, akhirnya aku hanya bisa tersenyum pasrah.
Hari-haripun berlalu, kami semakin sering saling melempar. Entah itu kertas, tip-ex, atau bahkan kapur! Ya, dia memang sangat jahil! Aku ingin sekali menjewernya, tapi lagi-lagi kalah saat melihatnya nyengir :D
Tak terasa, aku dan dia semakin dekat. Dia semakin sering memanggilku "Rin!" dan aku semakin sering tersenyum saat mendengarnya memanggilku. Dia juga ternyata seorang yang sangat menyenangkan, lucu. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya :)
Akhirnya, aku tau, sesuatu terjadi diantara kami. Kami merasa semakin 'rikuh' saat berdekatan. Semakin sering bertemu pandang dan selalu saling menghindari pandang setelahnya. Teman-teman sekelasku pun banyak yang sadar akan 'perubahan' ini, dan mereka pun melancarkan aksi "cieeee cieeee" saat kami berdekatan.
Aku pun bingung dengan semua hal baru ini.. Aku tak mengerti mengapa lelaki yang awalnya tidak aku sukai, malah semakin membuat jantungku berdebar tidak karuan. Akupun jadi rajin membaca majalah remaja dan akhirnya aku tahu bahwa aku sedang jatuh cinta :">
Sejujurnya, aku tak tau bagaimana perasaannya padaku. Tapi aku merasakan betapa berbedanya tatapannya padaku, perlakuannya.
Ada satu kejadian yang sangat kuingat sampai saat ini. Saat itu aku sedang mengalami suatu kejadian memalukan yang dialami oleh hampir semua remaja putri dimasa pubernya, yaitu "tembus". Akupun hanya diam di kelas,duduk di kursiku sementara seisi kelas keluar dan bermain. Dan, disanalah dia, duduk disampingku, menemaniku berbincang dan tertawa. Dia seperti sahabatku :) dan aku merasa nyaman bersamanya :)
Hubungan kami tetap baik.. Sampai saat itu tiba. Kejadiannya di masjid sekolah kami, selepas ashar (saat itu aku masuk shift siang). Kami berkumpul di latar masjid saat tiba-tiba teman-temannya meledek aku dan dia habis-habisan. Awalnya aku tak paham, mengapa mereka itu jahil sekali! x_x
Akupun mulai salah tingkah, mukaku memerah karena dia bersikap sangat aneh. Lalu akupun akhirnya lari ke kelas, mendahului mereka! Aku malu! x_x
Sejak kejadian itu, hubunganku dengannya menjadi renggang. Aku masih ingat sorot terluka di matanya saat menatapku di kelas selepas kejadian di masjid sekolah itu. Aku sebenarnya bingung, ada apa dengan kami! Ini hal baru bagiku, aku tak berpengalaman! x_x
Lama setelahnya, aku tau bahwa saat itu di masjid lepas ashar, dia ingin menyatakan perasaannya padaku. Namun dengan sikapku yang tiba-tiba berlari menjauh, dia menganggap bahwa aku menolaknya! :((
Akupun hanya bisa bersedih, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua masih baru diduniaku.
Kami menjadi jauh, dan dia akhirnya menjalin hubungan dengan salah satu temanku. Akupun hanya bisa menangis :((
Namun, hubungan mereka ternyata tidak lama. Aku tidak tau mengapa.
Waktu berlalu, dan tiba saatnya libur kenaikan kelas. Aku ingat, saat itu tanggal 29 Agustus 1999.
Aku sedang berjalan-jalan bersama keluarga ke ITC mangga dua. Tiba-tiba aku merasa diperhatikan oleh seorang lelaki di belakangku. Saat itu, aku memang sangat cuek sehingga mengabaikannya. Sampai ketika lelaki yang kurasa memperhatikanku sejak tadi, berjalan di depanku. Akupun memandangnya. Sepertinya aku mengenali sosok tubuhnya. Dia jangkung dan rambutnya jabrik! (Hell yeah!)
Lelaki itupun berpaling dan ternyata itu adalah dia! Jantungku pun berpacu sangat kencang, selalu seperti saat aku bersamanya! Aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri! Jantungku serasa ingin melompat keluar dari dadaku dan melarikan diri!
Lalu, akupun melakukan kesalahan bodoh yang kedua di dalam hidupku! Aku berlari! Aku berlari menghindarinya! Aku terus berlari, menaiki eskalator sampai aku menemukan tembok dan bisa bersembunyi. Aku tak tau apa alasan utamaku selalu berlari darinya. Saat itu aku hanya ingin menenangkan detak jantungku. Itu saja.
Saat aku mulai tenang, aku memberanikan diri melihat ke belakang.. Dan akupun melihat hal yang sangat mengejutkan! Dia mengejarku! Dia terlihat sedang berlari dan mencari-cari. Sampai akhirnya pandangan mata kami bertemu.
Dia melihatku dengan begitu intens.. Dia berjalan sambil menatapku, kami seolah tak dapat memalingkan pandangan dari satu sama lain. Lalu akhirnya dia sampai di tempatku berada. Kami masih saling menatap. Lidahku beku, aku tak sanggup berkata-kata, sungguh. Hal aneh yang terjadi, karena dulu, saat dikelas, kami hampir selalu mengobrol dan tak pernah kehabisan bahan pembicaraan! Namun saat itu, kami seolah bisu! x_x
Waktupun berlalu, akhirnya keluarga kami datang menghampiri kami dan kami harus berpisah jalan. Dia harus lurus, dan aku harus belok ke kiri. Namun, kami tetap saling memandang dan tak berbicara. Saat itulah aku kembali menangkap pandangan matanya yang terluka. Aku tak tau mengapa!
Aku begitu menantikan saatnya masuk sekolah, agar aku bisa kembali berbincang dengannya, menertawakan kebodohan kami di hari itu. Aku ingin bertemu dengannya!
Namun, apa yang terjadi sungguh diluar perkiraanku. Karena saat aku mencarinya, dia tidak ditemukan di kelas manapun. Aku mencari info kian kemari dan mendapatkan sebuah kenyataan bahwa ternyata ia telah pindah sekolah!
Kau tau apa yang terjadi? Aku seperti orang linglung. Seperti orang yang otaknya mati sementara. Seharian itu aku tidak terhubung dengan lingkungan sekitarku. Aku hanya memikirkan dia. Semua memori itu membanjiri pikiranku bagaikan air bah. Bagaimana sorot terluka di matanya saat terakhir kali kami berjumpa! Ternyata.......
Aku tidak pernah menyangka bahwa 29 Agustus 1999 adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya. Dan saat itu aku memilih berlari darinya dan kehilangan kata??? Aku bodoh. Bodoh. BODOH!!
Jikalau aku tau bahwa itu adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya, aku pasti akan memberanikan diri untuk menegurnya, bertanya akan pindah kemana dia, mungkin malah akan bertanya nomer teleponnya. Namun apa yang terjadi? Aku harus merasakan penyesalan yang begitu dalam karena menyia-nyiakan kesempatan.
Sampai saat ini, aku masih mengingat dengan jelas tentang dia. Juga penyesalan itu.
Dia adalah lelaki pertama yang pernah menggetarkan hatiku, juga membuatku mengerti isi hatiku. Dia juga yang membuatku belajar dari pengalaman, bagaimana saat hati tersentuh dan bagaimana bertanggung jawab atasnya.
Ya, dulu aku memang sangat pemalu. Aku malu mengakui bahwa aku menyukainya. Aku bahkan malu memikirkan bahwa mungkin saja dia juga merasakan hal yang sama. Aku bersikap tidak bertanggung jawab dengan lari dari semua perasaan itu. Perasaan yang indah.
Dan akupun membayarnya. Aku kehilangan cinta pertamaku.
Dia, yang bernama Dewanto Galih Pratama. Anak seorang Pilot dari sebuah maskapai yang tak kuketahui namanya. Dia anak satu-satunya. Dan ibunya sangat menyayanginya.
Aku harus berpisah dengannya tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal.
Inilah pengakuanku tentang First Love.
(12 Mei 2011. 30 hari pengakuan)
30 HARI PENGAKUAN. DAY 1: FIRST LOVE
Aku bertemu dengannya saat aku duduk di kelas 1 SMP. Dia teman sekelasku.
Dia jangkung. Aku bahkan harus mendongak saat menatapnya. Dia berjalan layaknya seorang yang arogan, dia berbicara dengan suara yang lantang, dia tidak pernah bisa diam dan selalu ingin bergerak dan melakukan sesuatu.
Kesan pertamaku terhadapnya sangat tidak menyenangkan. Dia sangat menyebalkan! Dia bahkan melontarkan ejekan-ejekan khas cowok kepada cewek padaku di perkenalan pertama kami. Aku tidak suka padanya! Aku ingin menghindar darinya!
Sialnya, kami duduk di barisan yang bersebelahan. Aku duduk di bangku paling depan (ya! Aku selalu suka duduk di bangku terdepan. Kebiasaan yang bertahan hingga saat ini :D ) dan dia duduk di bangku kedua dari belakang.
Saat itu, aku memang menjadi sekretaris kelas dan kerap ditugasi menghadap guru atau mencatat di kelas. Yah, aku memang tidak pintar, tapi aku termasuk siswi yang cukup rajin (wahihi).
Aku dan dia sangat jauh berbeda. Aku sangat suka Fisika dan membenci Sejarah. Sedangkan dia sangat menyukai Sejarah dan membenci Fisika. Kami tidak pernah berbincang-bincang sebelumnya.
Sampai suatu saat. Dia dan teman-temannya, sesama genk cuek dan badung sedang bermain lempar-lemparan kertas di kelas. Entah mengapa kertas-kertas itu selalu mendarat di kepalaku! Arrrggghh!
Lama kelamaan aku yang sedang ditugasi oleh guru mencatat di depan kelas pun merasa terganggu. Sikapnya sangat menyebalkan. Lalu akupun memutuskan untuk 'melawannya'. Sikap dia tidak bisa terus-terusan diabaikan!
Akupun memungut kertas-kertas itu dan menimpuknya balik. Yang mengherankan adalah bahwa dia menangkapnya dan merasa bahwa akhirnya aku menanggapinya untuk 'bermain'. Saat itu aku akhirnya tak jadi marah, justru tertawa melihat tingkahnya :)
Keesokan harinya, berjalan normal. Sampai dia meminjam Tip-Ex padaku. Entah memang sifatnya yang jail tiada tertahan atau apa, dia tak mau mengambil tip-ex itu dari mejaku dan memintaku berjalan ke mejanya dan mengantarkannya! Menyebalkan! Aku yang memang keras kepala, tak mau kalah dari 'permainan'nya dan akhirnya melemparkan tip-ex itu padanya. Dia menangkap dengan sigap (dia punya refleks yang bagus).
Lalu dia (akhirnya) untuk pertama kalinya memanggil namaku "Rin!" dan melempar tip-exku untuk mengembalikannya. Untungnya (benar-benar beruntung) aku juga punya refleks yang bagus (saat itu) dan menangkap tip-ex yang melayang itu sebelum mengenai jidatku. Tadinya aku ingin marah, namun melihat dia nyengir begitu lebar, ditambah keterkejutan dia memanggil namaku, akhirnya aku hanya bisa tersenyum pasrah.
Hari-haripun berlalu, kami semakin sering saling melempar. Entah itu kertas, tip-ex, atau bahkan kapur! Ya, dia memang sangat jahil! Aku ingin sekali menjewernya, tapi lagi-lagi kalah saat melihatnya nyengir :D
Tak terasa, aku dan dia semakin dekat. Dia semakin sering memanggilku "Rin!" dan aku semakin sering tersenyum saat mendengarnya memanggilku. Dia juga ternyata seorang yang sangat menyenangkan, lucu. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya :)
Akhirnya, aku tau, sesuatu terjadi diantara kami. Kami merasa semakin 'rikuh' saat berdekatan. Semakin sering bertemu pandang dan selalu saling menghindari pandang setelahnya. Teman-teman sekelasku pun banyak yang sadar akan 'perubahan' ini, dan mereka pun melancarkan aksi "cieeee cieeee" saat kami berdekatan.
Aku pun bingung dengan semua hal baru ini.. Aku tak mengerti mengapa lelaki yang awalnya tidak aku sukai, malah semakin membuat jantungku berdebar tidak karuan. Akupun jadi rajin membaca majalah remaja dan akhirnya aku tahu bahwa aku sedang jatuh cinta :">
Sejujurnya, aku tak tau bagaimana perasaannya padaku. Tapi aku merasakan betapa berbedanya tatapannya padaku, perlakuannya.
Ada satu kejadian yang sangat kuingat sampai saat ini. Saat itu aku sedang mengalami suatu kejadian memalukan yang dialami oleh hampir semua remaja putri dimasa pubernya, yaitu "tembus". Akupun hanya diam di kelas,duduk di kursiku sementara seisi kelas keluar dan bermain. Dan, disanalah dia, duduk disampingku, menemaniku berbincang dan tertawa. Dia seperti sahabatku :) dan aku merasa nyaman bersamanya :)
Hubungan kami tetap baik.. Sampai saat itu tiba. Kejadiannya di masjid sekolah kami, selepas ashar (saat itu aku masuk shift siang). Kami berkumpul di latar masjid saat tiba-tiba teman-temannya meledek aku dan dia habis-habisan. Awalnya aku tak paham, mengapa mereka itu jahil sekali! x_x
Akupun mulai salah tingkah, mukaku memerah karena dia bersikap sangat aneh. Lalu akupun akhirnya lari ke kelas, mendahului mereka! Aku malu! x_x
Sejak kejadian itu, hubunganku dengannya menjadi renggang. Aku masih ingat sorot terluka di matanya saat menatapku di kelas selepas kejadian di masjid sekolah itu. Aku sebenarnya bingung, ada apa dengan kami! Ini hal baru bagiku, aku tak berpengalaman! x_x
Lama setelahnya, aku tau bahwa saat itu di masjid lepas ashar, dia ingin menyatakan perasaannya padaku. Namun dengan sikapku yang tiba-tiba berlari menjauh, dia menganggap bahwa aku menolaknya! :((
Akupun hanya bisa bersedih, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua masih baru diduniaku.
Kami menjadi jauh, dan dia akhirnya menjalin hubungan dengan salah satu temanku. Akupun hanya bisa menangis :((
Namun, hubungan mereka ternyata tidak lama. Aku tidak tau mengapa.
Waktu berlalu, dan tiba saatnya libur kenaikan kelas. Aku ingat, saat itu tanggal 29 Agustus 1999.
Aku sedang berjalan-jalan bersama keluarga ke ITC mangga dua. Tiba-tiba aku merasa diperhatikan oleh seorang lelaki di belakangku. Saat itu, aku memang sangat cuek sehingga mengabaikannya. Sampai ketika lelaki yang kurasa memperhatikanku sejak tadi, berjalan di depanku. Akupun memandangnya. Sepertinya aku mengenali sosok tubuhnya. Dia jangkung dan rambutnya jabrik! (Hell yeah!)
Lelaki itupun berpaling dan ternyata itu adalah dia! Jantungku pun berpacu sangat kencang, selalu seperti saat aku bersamanya! Aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri! Jantungku serasa ingin melompat keluar dari dadaku dan melarikan diri!
Lalu, akupun melakukan kesalahan bodoh yang kedua di dalam hidupku! Aku berlari! Aku berlari menghindarinya! Aku terus berlari, menaiki eskalator sampai aku menemukan tembok dan bisa bersembunyi. Aku tak tau apa alasan utamaku selalu berlari darinya. Saat itu aku hanya ingin menenangkan detak jantungku. Itu saja.
Saat aku mulai tenang, aku memberanikan diri melihat ke belakang.. Dan akupun melihat hal yang sangat mengejutkan! Dia mengejarku! Dia terlihat sedang berlari dan mencari-cari. Sampai akhirnya pandangan mata kami bertemu.
Dia melihatku dengan begitu intens.. Dia berjalan sambil menatapku, kami seolah tak dapat memalingkan pandangan dari satu sama lain. Lalu akhirnya dia sampai di tempatku berada. Kami masih saling menatap. Lidahku beku, aku tak sanggup berkata-kata, sungguh. Hal aneh yang terjadi, karena dulu, saat dikelas, kami hampir selalu mengobrol dan tak pernah kehabisan bahan pembicaraan! Namun saat itu, kami seolah bisu! x_x
Waktupun berlalu, akhirnya keluarga kami datang menghampiri kami dan kami harus berpisah jalan. Dia harus lurus, dan aku harus belok ke kiri. Namun, kami tetap saling memandang dan tak berbicara. Saat itulah aku kembali menangkap pandangan matanya yang terluka. Aku tak tau mengapa!
Aku begitu menantikan saatnya masuk sekolah, agar aku bisa kembali berbincang dengannya, menertawakan kebodohan kami di hari itu. Aku ingin bertemu dengannya!
Namun, apa yang terjadi sungguh diluar perkiraanku. Karena saat aku mencarinya, dia tidak ditemukan di kelas manapun. Aku mencari info kian kemari dan mendapatkan sebuah kenyataan bahwa ternyata ia telah pindah sekolah!
Kau tau apa yang terjadi? Aku seperti orang linglung. Seperti orang yang otaknya mati sementara. Seharian itu aku tidak terhubung dengan lingkungan sekitarku. Aku hanya memikirkan dia. Semua memori itu membanjiri pikiranku bagaikan air bah. Bagaimana sorot terluka di matanya saat terakhir kali kami berjumpa! Ternyata.......
Aku tidak pernah menyangka bahwa 29 Agustus 1999 adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya. Dan saat itu aku memilih berlari darinya dan kehilangan kata??? Aku bodoh. Bodoh. BODOH!!
Jikalau aku tau bahwa itu adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya, aku pasti akan memberanikan diri untuk menegurnya, bertanya akan pindah kemana dia, mungkin malah akan bertanya nomer teleponnya. Namun apa yang terjadi? Aku harus merasakan penyesalan yang begitu dalam karena menyia-nyiakan kesempatan.
Sampai saat ini, aku masih mengingat dengan jelas tentang dia. Juga penyesalan itu.
Dia adalah lelaki pertama yang pernah menggetarkan hatiku, juga membuatku mengerti isi hatiku. Dia juga yang membuatku belajar dari pengalaman, bagaimana saat hati tersentuh dan bagaimana bertanggung jawab atasnya.
Ya, dulu aku memang sangat pemalu. Aku malu mengakui bahwa aku menyukainya. Aku bahkan malu memikirkan bahwa mungkin saja dia juga merasakan hal yang sama. Aku bersikap tidak bertanggung jawab dengan lari dari semua perasaan itu. Perasaan yang indah.
Dan akupun membayarnya. Aku kehilangan cinta pertamaku.
Dia, yang bernama Dewanto Galih Pratama. Anak seorang Pilot dari sebuah maskapai yang tak kuketahui namanya. Dia anak satu-satunya. Dan ibunya sangat menyayanginya.
Aku harus berpisah dengannya tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal.
Inilah pengakuanku tentang First Love.
(12 Mei 2011. 30 hari pengakuan)
Tentang Syukur
Pernah melihat saudara-saudara di pinggir jalan? Sobat-sobat kecil pengembara jalanan?
Apakah dirimu tak merasa malu kepada mereka?
Banyak diantara mereka masih anak-anak
Beberapa diantara mereka bahkan sudah tua renta..
Beberapa diantara mereka bahkan cacat..
Pakaian mereka compang camping..
Mereka tidur beralaskan aspal, beratapkan langit..
Mereka tak mengenyam pendidikan setinggi dirimu
Mereka tak memiliki fasilitas selengkap dirimu
Tetapi....
Keinginan bertahan hidupmu tak setinggi mereka!
Kemampuan bersyukurmu tak sehebat mereka..
Kerja kerasmu tak sebanding dengan kerja keras mereka!
Harapan atas hidupmu tak sebaik mereka!
Ketika kau tertidur, mereka sedang bekerja, mencucurkan keringat..
Ketika kau menonton TV, mereka sedang berusaha bertahan hidup..
Ketika kau selalu menuntut sesuatu dari orang lain, mereka sedang berusaha mencari dan mendapatkannya sendiri, dengan tenaga sendiri..
Tanpa pernah sedikitpun keluh kesah terlontar dari mulut mereka.
Padahal, bukan salah mereka untuk hidup dengan cara seperti itu..
Berefleksilah pada mereka, contoh pejuang hidup yang tangguh, yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Betapapun sulitnya kondisimu, ingatlah bahwa masih banyak pihak yang kondisinya lebih sulit darimu
Dan BERSYUKURLAH.
Pencuri!
Alkisah ada dua orang sahabat, lelaki dan perempuan. Mereka sudah bersahabat cukup lama. Namun suatu saat, sang lelaki bingung, karena sudah lama sahabatnya tidak menghubunginya. Ia pun bertanya-tanya, kemana perginya sang sahabat??
Ia pun mencari tahu kesana kemari tentang sahabatnya, namun ia tidak kunjung mendapatkan informasi yang diinginkannya. Sang sahabat seolah lenyap begitu saja dari muka bumi.
Ia kemudian menjadi seperti orang gila, terjaga saat orang lain tertidur dan tertidur saat orang lain terjaga. Ia lupa makan, lupa mandi, lupa segalanya, kecuali sahabatnya. Ada yang hilang dalam hidupnya!
Setelah sekian lama, sang lelaki pun hampir menyerah dan ia pergi ke pusat kota untuk menyegarkan diri dari kepenatan, saat tiba-tiba ia melihat sesosok gadis yang sangat mirip dengan sahabatnya yang hilang!
Jantungnya pun berdegup kencang, adrenalin berpacu dengan waktu seraya ia menghampiri gadis itu. Gadis itu menoleh ke arahnya, dan ia terbelalak! "Itu memang dia! Itu memang sahabatku!"
Hal aneh yang tidak ia sangka adalah gadis itu berlari! Ia berlari setelah melihatnya! Mengapa gadis itu berlari? Tidakkah ia mengenalinya sebagai sahabat dekatnya?
Sang lelaki berlari mengejar sang gadis, mereka seperti polisi dan buronannya. Sampai akhirnya tangan sang gadis tertangkap dan mereka terjatuh. Lalu sang gadis berteriak
"Pencuri!! Toloooong!! Orang ini pencuri! Lepaskan aku!!"
Sang lelaki pun terkejut, mengapa sang gadis mengatakan bahwa ia pencuri? Apa yang terjadi?
Akhirnya, orang-orang di sekitar mulai berkerumun, menyaksikan kejadian itu. Namun sang lelaki tetap memegang tangan sang gadis.
"Tenang, ini aku. Aku, sahabatmu. Tidakkah kau mengenali aku? Kita dulu bersahabat sangat dekat?" Tanya sang lelaki
"Tidak, kau bukan sahabatku. Sahabatku bukan seseorang seperti kamu. Kamu pencuri!! Tolooong!!" Sang gadis masih histeris sambil mulai terisak.
"Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kau tiba-tiba menghilang? Aku mencarimu kemana-mana sampai seperti orang gila. Kau sahabatku! Aku sahabatmu! Mengapa kau bertingkah seperti ini? Mengapa kau sebut aku sebagai pencuri. Aku bukan pencuri!"
Lalu sang gadis tiba-tiba berhenti meronta dan dia terisak, "Kau bukan sahabatku. Kau adalah pencuri. Kau mencuri sesuatu yang paling berharga dariku dan kau merahasiakannya dariku sampai-sampai aku tidak sadar. Aku tidak pernah sadar kau seorang pencuri karena kau berkedok sebagai sahabatku! Namun, ketika aku sadar, semuanya sudah terlambat! Aku sudah jatuh miskin. Aku tak punya apa-apa lagi sekarang"
"Jelaskan padaku, apa yang kucuri?" Tanya sang lelaki
Air mata membanjiri pipi sang gadis, seraya menutup mata dan menggigit perih bibirnya sendiri, ia pun berkata, "Kau telah mencuri hatiku. Aku hanya punya satu hati. Dan hatiku ini telah kau curi sekian lama. Namun kita sama-sama bodoh untuk menyadarinya. Aku yang terlampau bodoh untuk menyadari bahwa hatiku bukan milikku lagi, tapi telah berpindah ke hatimu."
Sang lelaki hanya terdiam, kehilangan kata-kata. Perlahan ia lemas dan mengendurkan pegangannya pada tangan si gadis. Dengan lirih ia pun berkata, "Aku tak tau kau tega sampai berkata demikian. Setelah sekian lama? Kupikir diantara kita selama ini sudah jelas. Apakah kau tau kenapa aku menjadi sahabatmu? Aku menjadi sahabatmu agar aku bisa menjadi satu-satunya orang yang bisa tetap berada di dekatmu setiap saat. Aku ingin menikmati setiap momen dalam hidupku bersamamu. Aku ingin menjadi yang pertama ada di sisimu saat kau jatuh dan terluka, lalu kita bergandengan tangan bersama dan mencoba bangkit kembali. Kau bilang aku pencuri? Tak sadarkah kau bahwa aku telah menjadikanmu bagian dari diriku selama ini? Aku bahkan tidak punya bagian diriku sendiri. Selama ini hanya dirimu yang menjadi pusat kehidupanku. Jika dengan demikian aku telah menjadi seorang pencuri, maka kau apa?"
Sang gadis hanya terdiam dalam tangis. Mereka berdua tidak sanggup lagi berkata-kata. Pandangan mereka kabur oleh air mata.
Hujan pun turun perlahan.
Mereka berjalan berdampingan.
Merasa begitu dekat.
Lebih dari yang pernah mereka rasakan selama ini
Ibu
Untuk ibuku tercinta,
Inilah aku, anakmu, menyampaikan kata-kata yang bertahun-tahun kupendam dan tak sanggup kuungkapkan padamu.
Ibu,
Aku selalu diam. Aku tak pernah pandai mengungkapkan perasaanku pada siapapun. Tidak juga padamu, pada ayah, pada adik, juga pada teman2ku.
Aku selalu diam, ibu.. Aku anakmu yang selalu memendam semuanya sendirian.
Namun hari ini, aku ingin mengungkapkan semuanya padamu. Walau mungkin kaupun tidak membacanya. Namun aku berharap entah bagaimana caranya kau bisa mengetahui ini.
Wahai Ibu,
Aku sangat menyayangimu.
Kau mungkin tidak pernah mendengarku mengatakan ini. Tapi aku menyayangimu sepenuh hati. Tiada wanita lain di dunia ini yang lebih kucintai selain dirimu.
Ibuku yang mulia,
Aku tau beratnya perjuanganmu membesarkanku. Sebagian besar kau merawat kami sendirian, tanpa ayah, sejak kami kecil. Aku tau betapa kau berjuang menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami, anakmu. Itu tidak mudah. Kadang airmata pun kau sembunyikan, agar kami tidak bertanya mengapa kau menangis.
Tapi aku tau, ibu..
Aku tau tangismu dalam diam. Aku tau saat kau sedang sedih. Aku merasakannya dalam diam pula. Terkadang, aku masuk ke kamar dan pura2 tertidur, hanya agar kau tak tau bahwa aku tau kau menangis. Airmata mu telah menjadi airmataku selama bertahun-tahun..
Ibu,
Telah banyak masa sulit yang kita lalui sejak aku kecil dahulu, namun kau tetap tegar. Hingga kini kau tetap setegar dahulu. Walau aku tau kau tiada sempurna, walau aku tau betapa seringnya kau ingin menyerah dari semuanya.
Taukah kau, ibu?
Bahwa aku sangat berterima kasih dan bersyukur bahwa kau akhirnya tidak pernah menyerah. Bahwa kau memilih untuk bertahan. Setelah sekian kali kau memikirkan kami, anakmu, dan kau memilih bertahan.
Terima kasih, ibu...
Berkali-kali, akupun ingin menyerah. Aku ingin meninggalkan semua luka di saat itu dan pergi. Namun aku pun bertahan, sama sepertimu. Demi adikku.
Kita sama-sama bertahan, semua demi keluarga kita. Keluarga yang kuanggap bahkan lebih penting daripada eksistensiku di dunia ini.
Aku senang, ibu....
Berbagai masa sulit kita lewati bersama, walau kadang kita pun tak akur. Kau keras, aku pun keras. Ayah tak ada. Dan kita berselisih.
Lalu aku akhirnya menyerah, dan aku bersimpuh di kakimu, ibu..
Semua demi cinta.....
Entah sudah seberapa sakit yang telah kutorehkan begitu dalam di hatimu, sampai engkau menangis karena kesal bahkan marah padaku?
Lalu, kepada siapa kau mengadu,bu? Mungkin hanya Tuhan Yang selalu mendengar semua curahan hatimu.. Saat kau bersedih karena perlakuanku yang salah terhadapmu. Saat aku begitu egois hanya untuk mengalah darimu saat kita beradu argumen atas sesuatu yang tak penting. Atau saat aku begitu membanggakan segala ilmu pengetahuanku yang kudapat selama aku bersekolah sampai setinggi ini, bahkan lebih tinggi darimu. Lalu akupun merendahkanmu, lalu hatimu pun terluka. Padahal, aku tidak sadar bahwa aku bisa sampai seperti sekarang ini karena seluruh dedikasi dan pengorbananmu.
Ibu, maafkan aku.........
Hanya maaf darimu yang bisa menyelamatkanku dari api neraka.
Sungguh, ibu.. Maafkan aku...
Semua hal di masa lalu telah membentuk diriku. Aku yang sekarang, lebih rapuh dari apapun. Setiap luka di masa lalu telah membentuk diriku yang ini. Diri yang terbentuk atas sekian banyak luka. Setiap luka yang masih basah namun harus ditambal oleh luka lainnya.
Inilah aku, ibu..
Anak gadismu yang penuh luka. Namun kau masih mencintaiku.
Aku tau, walau kau tak pernah berkata kau menyayangiku...
Jikalau ada satu cinta yang paling murni di dunia ini yang bisa kupercaya, cinta itu adalah cintamu, ibu...
Ibu..
Untukmu, wanita yang paling mulia yang pernah ada.
Cintaku, selamanya untukmu...
(11 April 2011. I love you, mama)
Nasihat DR 'Aidh Al-Qarni
Pertama: Jadilah seperti lebah, hinggap di bunga yang bermekaran tanpa mematahkan rantingnya.
Kedua: kau tak punya waktu untuk menyingkap aib dan mengumpulkan kesalahan orang lain.
Ketiga: Jika kau yakin اللّهُ bersamamu, dari siapa lagi kau masih merasa takut?
Keempat: Api kedengkian memakan jasad dan cemburu berlebihan adalah 'neraka' yang berkobar-kobar
Kelima: Apabila engkau merasa tidak siap hari ini, maka hari esok bukan milikmu.
Keenam: Keluarlah dengan perasaan tenang dari majelis yang sia-sia dan penuh pertengkaran
Ketujuh: Dengan akhlak, jadikanlah dirimu lebih indah dari indahnya taman.
Kedelapan: Perjuangkan kebaikan, hanyalah kebahagiaan yang akan kau raih dari memperjuangkannya.
Kesembilan: Serahkan urusan makhluk kepada Penciptanya, urusan pendengki kepada kematiannya, urusan musuh kepada kealpaannya.
Kesepuluh: Kenikmatan yang haram pasti melahirkan penyesalan, kerugian, dan hukuman sesudahnya.
------------------------------------------
Dari buku Tips Menjadi Muslimah Paling Bahagia di Dunia
------------------------------------------
Masa lalu
Teringat beberapa saat yang silam, waktu saya berulang-tahun yang ke-19 kalo nggak salah, hihihi..
Seorang teteh yang sangat baik hati memberi saya hadiah. Namun bukan hadiahnya yang saya ingat. Karena bersamaan dengan hadiah tersebut, terseliplah sepucuk surat yang sangat menyentuh. Begini isinya
Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa? Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nantinya
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa tidak dinikmati saja? Sedang ratap tangis tidak akan mengubah apa-apa.
Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa?
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama
Jikalah benci dan marah akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti diumbar sepuas rasa? Sedang menahan diri adalah lebih berpahala
Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti tenggelam didalamnya? Sedang taubat itu lebih utama
Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti ingin dinikmati sendiri saja? Sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya.
Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti membusung dada? Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia
Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama? Sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti
Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dirasakan sendiri saja? Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna
Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka? Sedang begitu banyak kebaikan yang bisa dicipta.
Apapun masa lalu, kita tegak masa depan.
^_^
(10 April 2011. masih kontemplasi di hari jadi)
Subscribe to:
Posts (Atom)