Thursday, February 21, 2013

PROFESSOR BODOH YANG SOMBONG


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, ‘Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?’.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ‘Betul, Dia yang menciptakan semuanya’.
‘Tuhan menciptakan semuanya?’
Tanya professor sekali lagi.

‘Ya, Pak, semuanya’ kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, ‘Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.’

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ‘Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?’

‘Tentu saja,’ jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ‘Profesor, apakah dingin itu ada?’
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?’ Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, ‘Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, ‘Profesor, apakah gelap itu ada?’

Profesor itu menjawab, ‘Tentu saja itu ada.’

Mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi anda salah Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.

Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.’

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, ‘Profesor, apakah kejahatan itu ada?’

Dengan bimbang professor itu menjawab, ‘Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.’

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, ‘kejahatan’ adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.

Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.’

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

KECELAKAAN


Kecelakaan dapat terjadi karena 2 hal, yaitu unsafe acts atau unsafe conditions.

Hal inilah yang pertama kali melintas di otak saya sesaat setelah saya mengalami kecelakaan tadi pagi. Saya langsung mengevaluasi diri saya, apakah saya telah melakukan unsafe acts? Ataukah lingkungan sekitar saya yang menciptakan unsafe condition bagi saya, sehingga kecelakaan tersebut terjadi.

hmm...
Kecelakaan ini bukan yang pertama kali terjadi sih pada diri saya. Saya sudah pernah mengalami kejadian serupa. Memang tingkat kecelakaan bagi pengendara kendaraan roda dua itu lumayan tinggi. Sekitar 69% kecelakaan dialami kendaraan roda dua, dan kecelakaan saya tadi pagi akan menambah angka statistik tersebut.

Saya sering berpikir bahwa rata-rata pengendara kendaraan roda dua itu memiliki budaya keselamatan yang cukup rendah. Mereka sering tidak mengindahkan keselamatan dalam berkendara. Bukan saja tidak memedulikan keselamatan dirinya sendiri, tapi mereka juga tidak memedulikan keselamatan orang lain sesama pengguna jalan.

Berapa banyak pengendara motor yang mengendarai motornya sambil sms-an? Atau bahkan sambil menelpon?? Saya bahkan ragu apakah mereka paham akan rambu-rambu lalu lintas. Ada beberapa golongan pengendara motor :
1. Yang tahu dan paham rambu lalu lintas dan rambu keselamatan berkendara lalu melaksanakannya
2. Yang tidak tahu dan tidak paham rambu lalu lintas dan rambu keselamatan berkendara tapi memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap nyawanya dan nyawa orang lain sesama pengguna jalan sehingga mereka berkendara dengan mengutamakan keselamatan.
3. Yang tahu dan paham mengenai rambu lalu lintas dan rambu keselamatan namun memilih untuk mengacuhkannya dan ugal-ugalan di jalanan
4. yang tidak tahu, tidak paham mengenai semua rambu lalu lintas juga rambu keselamatan oleh karenanya mereka berkendara dengan tidak baik.

Sebaik-baiknya manusia pengendara kendaraan bermotor adalah mereka yang termasuk kepada golongan pertama, berkendara dengan didasari ilmu pengetahuan dan kesadaran. Orang-orang seperti inilah yang menjaga kita semua dari bahaya kecelakaan di jalan dengan menerapkan safety first. Mereka melakukan safety acts sehingga menjaga orang lain dari bahaya unsafe condition. Adapun mereka yang termasuk golongan kedua, walaupun sudah memiliki kesadaran untuk berkendara dengan hati-hati, tetaplah tidak cukup. Karena ketidak-tahuan mereka tentang keselamatan di jalan suatu saat akan dapat menimbulkan unsafe condition bagi pengguna jalan yang lain. Sedangkan golongan ketiga dan keempat, inilah mereka yang kerap kali menjadi penyebab banyaknya kecelakaan di jalan. Cara berkendara yang ugal-ugalan, egois, seenaknya sendiri salip sana sini, pepet sana sini, dan tidak sabaran seringkali merupakan hasil dari rendahnya pengetahuan yang mereka miliki. Tapi bisa jadi pula merupakan rendahnya kesadaran dari dalam diri mereka sendiri. Entah apa yang merasuki para manusia itu sehingga berkendara selayaknya binatang buas di hutan belantara sana, yang jika tidak berlari secepat kilat dan menerjang kesana kemari maka akan kehilangan buruannya.

pffffttt...
Saya rasa mungkin manusia sudah mulai berevolusi kembali menjadi binatang. Bukan begitu?

Ada satu hal menarik yang telah menjadi bahan kontemplasi saya setelah kecelakaan kecil tersebut terjadi. Hal itu adalah bagaimana dibutuhkannya sebuah sistem yang lebih mengakar rumput untuk (setidaknya) mencegah kecelakaan terus terjadi. Dibutuhkan lebih daripada hanya sekedar sebuah rambu pengingat di jalan, atau berbagai poster/spanduk pengimbau para pengendara agar berkendara dengan aman. Juga dibutuhkan lebih dari sekedar beberapa orang polisi yang berdiri di pinggir jalan seolah bertindak sebagai 'monumen' pengingat untuk berperilaku tertib di jalanan. Butuh lebih dari sekedar semua itu! Saya berbicara mengenai sebuah budaya yang berakar dari sebuah pengetahuan, kesadaran, kebiasaan, juga kepemimpinan terhadap diri sendiri agar bisa menerapkan keselamatan.

Rambu, poster, spanduk, marka, polisi, itu semua adalah faktor eksternal dalam upaya pencegahan kecelakaan. Tapi ada satu faktor yang paling penting dalam upaya ini, inilah faktor internal yang menentukan berhasil atau tidaknya upaya tersebut. Faktor itu adalah manusia itu sendiri, sebagai pelaku juga korban dari kecelakaan yang terjadi.

Manusia harus menjadikan keselamatan sebagai bagian dari budaya dalam kehidupan bermasyakarat. Itu maksud saya.

Sudah banyak penelitian yang berfokus pada faktor teknis dan juga sistem dalam penyebab terjadinya kecelakaan. Berbagai upaya pencegahan secara teknis pun dilakukan, seperti misalnya memperbaiki kondisi lingkungan agar tak terjadi kecelakaan. Juga pencegahan yang dilakukan secara sistemik, seperti membuat undang-undang tentang kecelakaan yang mengatur hukuman bagi pelanggarnya. Namun itu semua ternyata tidak menjawab inti permasalahan. Kecelakaan terus terjadi.

Lord Cullen, pada tahun 1990 mengatakan bahwa, "adalah penting untuk menciptakan suasana perusahaan atau budaya di mana keselamatan dipahami dan diterima sebagai, prioritas nomor satu oleh semua orang"

Ini maksudnya. Kecelakaan masih terjadi karena masih ada orang-orang yang meremehkan arti keselamatan. Sebagai contoh kecil yang kerap saya amati setiap kali saya duduk di kursi saya di pesawat terbang sesaat sebelum lepas landas. Ada saat dimana para awak kabin mendemonstrasikan prosedur keselamatan jika terjadi kecelakaan, bagaimana memasang sabuk pengaman, sampai prosedur evakuasi. Tidak semua orang memperhatikan, lho. Selalu ada orang yang asik ngobrol sendiri sampai ribut, atau ada yang sibuk membaca koran. Atau bahkan mulai tertidur! Yah, saya hanya berpikir sih.. iya, mungkin mereka begitu sering terbang, mungkin sehari bisa sampai dua kali hingga mereka pun sudah bosan bahkan hapal dengan prosedur tersebut. Tapi tetap saja, bagi saya apa sih susahnya memperhatikan prosedur tersebut? Tak sampai 5 menit kok, bahkan tak makan banyak energi. Hanya duduk dan memperhatikan. Well, siapa sih yang tau kapan pesawat kita akan mengalami kecelakaan? Kapan kita akan HARUS BISA menerapkan prosedur keselamatan tersebut? Bisa jadi saat kita tidak memperhatikan prosedur keselamatan itulah, pesawat kita mengalami kecelakaan dan kita mengalami serangan panik yang begitu hebatnya sehingga kita lupa harus berbuat apa.

Tapi sekali lagi, ini semua bukan mengenai bagaimana prosedurnya, atau apakah akan terjadi kecelakaan atau tidak. Ini masalah kesadaran akan keselamatan. Bagaimana jauh di dalam intisari jiwa kita, kita menghargai sebuah nyawa dan bagaimana hal tersebut kemudian mendorong kita untuk menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama kita.

Cerminan seorang itu berbudaya atau tidak sering terlihat pada perilaku kecil yang dilakukannya ketika di tempat umum. Salah satu cara melihat apakah budaya keselamatan sudah mengakar pada masyarakat adalah mengamati perilaku masyarakat tersebut dalam berkendara. Apakah masih ugal-ugalan seperti binatang buas? Ataukah sudah lebih menghargai nyawa (minimal nyawanya sendiri)?

Eniwei
Saya jadi melantur nih .__.

Saya bersyukur sih, kecelakaan yang saya alami tidak parah. Kulit saya bahkan tidak tergores, walaupun telah dicium aspal ha ha ha. Kadang menjadi manusia nerd yang suka memakai busana berbahan tebal bahkan di hari-hari panas sekalipun itu sangat berguna. Contohnya ya saya ini. Sudah beberapa kecelakaan yang memaksa saya berciuman dengan aspal namun baju, dan rok saya yang tebal ini melindungi kulit saya dari luka parah. Bahkan pernah di suatu kecelakaan, kaus kaki saya yang tebal itu benar-benar menjadi pelindung setia. Dia robek begitu parah tapi kulit kaki saya hanya memar saja dan perih sedikit saja. Alhamdulillah yah, sesuatuk banget :p

Sedikit mengenai kronologi kecelakaannya ya. Tadi itu saya berkendara dengan motor saya seperti biasa. Lalu sampai tiba saatnya saya harus belok kanan. Saya sudah berhati-hati, dari jarak sekitar 100 m sebelum belok, saya menyalakan lampu sen ke kanan. Saya pun melihat ke spion kanan, memang ramai pengendara motor di belakang saya. Lalu karena masih ramai di belakang dan depan (arah balik), saya berhenti sejenak di kanan jalan dan menunggu sepi agar saya bisa belok dengan anggun seperti biasa. Namun tiba-tiba saya ditabrak dari arah kanan belakang oleh sebuah sepeda motor. Saya terjatuh sih ya, terhimpit pula oleh sepeda motor saya. Namun saya baik-baik saja (karena posisi motor saya sudah berhenti) dan langsung berdiri karena khawatir akan terjadi tabrakan beruntun. Namun naas melanda dua perempuan yang menabrak saya karena motor mereka yang sedang melaju harus tiba-tiba berhenti dan menabrak, pasti menimbulkan momentum yang cukup besar. Setelah menepi, kami jadi mengetahui bahwa kaca spion motornya pecah, dan sang pengendara yang hanya memakai baju sampai siku, mengalami lecet di bagian siku.

Sudah dua kali ya saya hitung, saya ditabrak dari arah kanan belakang. Penyebabnya sama, sang penabrak tidak memperhatikan lampu sen saya dan asik mengobrol. Kebetulan dari dua kecelakaan itu, saya ditabrak oleh mereka yang berboncengan. Dan sekali lagi, alhamdulillah yah, saya sedang sendirian saat ditabrak. Tak terbayang jika saya juga sedang berboncengan.........

Itulah sebabnya ketika saya sedang berboncengan, saya tak terlalu suka mengobrol. Karena saya tau, konsentrasi sang pengendara akan berkurang minimal 50% jika diajak mengobrol dan akibatnya perhatiannya kepada jalanan akan berkurang pula. Ini merupakan sebuah unsafe act!

Alhamdulillah saya masih selamat, hanya memar di lutut saja. Motor saya juga tak apa-apa, hanya gores sedikit saja. Alhamdulillah yah :)
Yah, diambil pelajarannya saja ya. Bahwa keselamatan itu penting, berkendara dengan SADAR itu sangat penting. Dengan berkendara dengan sadar, kita bukan hanya menghargai nyawa diri sendiri, tapi juga nyawa orang lain.

Ingat, safety first! :)

8 KEBOHONGAN SEORANG IBU


Ibuku Seorang Pembohong ? Sukar untuk orang lain percaya, tapi itulah yang terjadi, ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.

Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan.

PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga.. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : “”Makanlah nak ibu tak lapar.”-

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA. Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi.Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.”

PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA. Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur.. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.”

PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT. Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada allah agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepatmenolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!!”

PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA. Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu… Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki.”

PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM. Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang.”

PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH. Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negeri. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang.”-

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN. Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerimaberita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya.

Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus.. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakitsekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetaptersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit.”

Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya. Anda beruntung karena masih mempunyai orangtua… Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau orangtua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, “Ibu/Ayah, saya sayang ibu/ayah.” Tapi tidak saya lakukan, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu…….

T_T
sumber

BATTLE HYMN OF THE TIGER MOTHER



Berawal dari kebosanan saya membaca buku fiksi akhir-akhir ini. Yah, buku fiksi akhir-akhir ini agak-agak membosankan. Buku fiksi bergenre fantasy seolah dominan memenuhi rak-rak di toko buku sejak Harry Potter, the Lord of The Rings, kemudian disusul oleh Twilight saga. Kemanapun saya pergi, di toko buku manapun, saya selalu menemukan buku-buku sejenis fantasy fiction. Awalnya saya menikmati saja sih.. tapi lama kelamaan saya bosan.
Karena saya suka sekali membaca, saya kemudian mulai mencari bacaan alternatif yang dapat memenuhi hasrat jiwa ini (halah). Pilihan saya jatuh (kembali) pada buku non-fiksi. Dan Buku Battle Hymn of the Tiger Mother (BHTM), adalah buku pilihan saya yang pertama. Sejujurnya, saya tertarik membaca buku ini sejak melihat banyaknya review buku ini di akun twitter Gramedia, dan karena dikatakan bahwa buku ini cukup kontroversial. Maka saya pun memutuskan untuk membacanya.

Saya membaca buku BHTM ini versi terjemahan dalam Bahasa Indonesia yang --dengan agak kurang pas menurut saya-- diterjemahkan menjadi "Cara Mendidik Anak Agar Sukses ala China". Kurang pas karena di dalam buku ini tidak seperti yang dicitrakan oleh judulnya, tidak berisi panduan mendidik anak ala China. Tapi lebih menyerupai sebuah kisah, sebuah memoar perjuangan seorang ibu dalam mendidik anaknya.

Saya membaca buku ini dalam 2 kali baca. Buku ini pun sebenarnya bukan termasuk buku berat, hanya 237 Halaman termasuk catatan dan sebagainya. Tetapi dapat saya katakan bahwa buku ini LUAR BIASA. Sampai detik ini, saya masih terkagum-kagum karena isi buku ini, yah, cukup mempengaruhi saya.

Setiap orang pasti memiliki sebuah prinsip dasar, seperti sebuah keyakinan yang dipegangnya dalam hidup. Prinsip ini, bukan melulu seperti sebuah prinsip yang mutlak juga sih.. tapi lebih menyerupai sesuatu yang diyakini sebagai hasil dari pengalaman hidup, pengetahuan dan wawasan, serta cita-cita dan impian seseorang dalam hidupnya. Begitu pun dengan saya. Sebelum membaca buku ini, saya pun sudah memiliki gambaran dasar mengenai bagaimana seharusnya seorang ibu membesarkan anaknya, bagaimana ibu mendidik anaknya, agar sukses. Karena saya belum berkeluarga, jadi yah.. saya hanya memiliki gambaran lah kira-kira bagaimana nantinya saya akan mendidik anak saya.

Tetapi, semua gambaran yang semula tersusun rapi dalam cita-cita saya tersebut seolah goyah dan hampir runtuh ketika saya mulai membaca buku ini. Saya rasa tidaklah berlebihan apabila buku ini dikatakan sebagai buku yang kontroversial.

Penulis (Amy Chua) dengan berani bahkan sejak di awal buku, bukan hanya memperbandingkan 2 metode mendidik anak (yang disebut ala Orangtua Barat dan ala Ibu China), tapi juga mengatakan bahwa metode Ibu China JAUH LEBIH UNGGUL dalam mendidik anak.

Well, disini masalahnya. Amy Chua dan keluarganya tinggal di Connecticut, Amerika Serikat. Suaminya, Jed Rubenfeld, adalah seorang Yahudi Amerika yang dibesarkan dengan metode Orangtua Barat. Jadi, ketika Amy Chua menuliskan buku ini, sebagian besar kaum Barat pun "menoleh".

Sebenarnya, bagi Orangtua China, metode Amy Chua dalam mendidik dan membesarkan anaknya bukan merupakan hal baru. Bisa dikatakan, hampir semua Orangtua China menerapkan metode pendidikan yang sama pada anaknya, hanya saja mereka tidak mengungkapkannya atau menuliskannya dalam bentuk buku yang menjadi NYT Best Seller.

Sering kita lihat anak Asia yang tinggal di Amerika, mereka menjadi anak yang lebih unggul dibandingkan dengan anak Amerika itu sendiri. Pada usia 10 tahun, seorang anak Asia bukan hanya sudah mampu menguasai Piano, tapi juga mampu menjadi Pianis Konser! Sementara anak Amerika sendiri, masih berkutat dengan entah apa. Disinilah Amy Chua membeberkan rahasia para Orangtua China dalam mendidik anaknya.

Anak tidak boleh mendapat nilai dibawah A dalam setiap pelajaran. A minus dianggap memalukan!
Anak harus menjadi sang nomor satu di setiap pelajaran, kecuali olahraga dan drama.
Anak harus patuh pada orang tua, apa pun yang terjadi.
Anak tidak boleh menginap di rumah teman, janjian bermain bersama teman-teman, menonton TV atau main game komputer.
Anak tidak boleh memilih kegiatan ekstrakurikuler sendiri.
Anak harus pintar bermain musik, alat musiknya harus merupakan alat musik klasik dan susah dimainkan seperti Piano dan Biola. Tidak boleh yang lain.
Anak harus berlatih keras bermain musik setiap hari, di luar jadwal kursus musik mereka, SETIAP HARI. Termasuk hari libur. Dimana pun.
Selama membaca buku ini, sebenarnya saya tercabik-cabik diantara perasaan kagum dan ragu. Saya kagum dengan hasil nyata atas metode Tiger Mother, hasil yang tidak akan didapatkan dengan menerapkan metode pendidikan ala barat. Namun saya juga ragu, apakah metode ini cukup manusiawi bagi anak-anak. Sepertinya keraguan saya juga menjadi keraguan banyak pembaca buku ini, bagaimana kerasnya Amy Chua mendidik 2 anak perempuannya (Sophia dan Louisa), apakah dengan kerasnya didikan Amy Chua, masa kanak-kanak kedua putrinya terenggut? Apakah Sophia dan Louisa menjadi anak-anak yang tidak menikmati masa kecilnya sendiri?

Semakin saya membaca buku ini, kedua hal tersebut semakin besar. Kekaguman saya kepada Amy Chua memuncak ketika pada akhirnya mengetahui bahwa Sophia memenangi kejuaraan piano setempat pada usia sembilan tahun dan pada usia 14 tahun, Sophia melakukan debutnya yang pertama di Carnegie Hall!

Keberhasilan Sophia menjadi Pianis Konser di usianya yang masih sangat muda tidak terlepas dari kerasnya didikan Amy Chua sebagai seorang Tiger Mother. Sophia berlatih piano bisa sampai 90 menit sehari, itu pun tidak termasuk jam belajarnya pada saat kursus. Bagaimana Amy memaksanya untuk tetap latihan sesuai jadwal, bahkan menambah jam latihannya menjelang konser. Ada saat ketika mereka sedang liburan di luar negeri, sang Tiger Mother pun tetap bersikeras bahwa anak-anaknya harus tetap berlatih musik. Bahkan sampai menyewa piano di sebuah toko musik untuk berlatih minimal selama 2 jam setiap hari!

Disinilah saya belajar mengenai kesungguhan dan kerja keras dari sang Tiger Mother. "Berlatih, berlatih, dan berlatih dengan tekun berperan sangat penting dalam menghasilkan kehebatan" adalah salah satu ungkapan sang Tiger Mother.

Anak kedua Amy Chua bernama Louisa atau biasa dipanggil Lulu. Sama seperti Sophia, Lulu juga dididik untuk menjadi seorang musisi pada usianya yang masih sangat muda. Amy Chua memilihkan Biola sebagai alat musik tambahan kepada Lulu, disamping Piano. Jadi sebenarnya Lulu juga dapat memainkan Piano, tapi kemudian dia diarahkan untuk lebih menguasai Biola.

Saya melihat bahwa Lulu berbeda dengan Sophia, Lulu lebih kritis. Sehingga Lulu dan Ibunya sering melewatkan waktu dengan bertengkar dan bertengkar selama masa latihan Biolanya. Sang Tiger Mother pun tidak sungkan untuk memaki jika anaknya tidak menaatinya. Disinilah sebenarnya konflik terjadi. Konflik batin sang Tiger Mother yang mulai meragukan metodenya sendiri.

Selama membaca buku ini, saya juga mengalami konflik batin (halah), apakah benar selama ini sang Tiger Mother benar-benar melakukan metodenya demi kebaikan anak-anaknya? apakah bukan demi dirinya sendiri? Berkali-kali sang Tiger Mother berkata bahwa anak-anak belum mengetahui apa yang baik bagi dirinya sendiri dan oleh karenanya, sudah kewajiban orang tua untuk menunjukkan apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Walaupun demikian, sulit untuk tidak berprasangka bahwa sang Tiger Mother adalah jenis ibu ambisius yang rela mengorbankan kebahagiaan anaknya demi membuatnya bangga.

Disinilah letak kontroversialnya buku ini.

Banyak kalangan barat yang kemudian melayangkan protes kepada Amy Chua, bahwa sebagai seorang ibu, dia telah merampas hak asasi anak-anaknya sendiri dengan memaksanya terus berlatih musik dan merampas jam-jam bermain anaknya. Begitulah, karena mereka hidup di Amerika Serikat, dimana hak-hak asasi begitu dijunjung tinggi.

Tapi banyak pula kalangan yang terkagum-kagum dengan hasil nyata pendidikannya. Walau bagaimana pun, anak-anaknya terbukti menjadi anak yang sukses secara akademis sekaligus menjadi musisi cemerlang di usia mereka yang masih sangat belia.

Bagi saya pribadi, setelah membaca buku ini, saya mendapatkan banyak wawasan dan hal-hal baru. Kekaguman saya terhadap bangsa Asia Timur semakin menjadi-jadi. Saya menjadi sangat paham mengapa orang China (atau Korea atau Jepang) bisa begitu luar biasa! Metode Tiger Mother telah mengakar dalam kebudayaan mereka. Setiap kali melihat orang China memainkan Piano/Biola dengan piawainya, saya menjadi semakin kagum karena mengetahui betapa banyaknya mereka berlatih, bagaimana kerasnya disiplin mereka dalam belajar, betapa mereka dididik untuk menjadi pribadi yang kompetitif. Saya juga semakin banyak mengamati, betapa semakin banyaknya musisi yang berasal dari Asia Timur. Mengagumkan!

Saya jadi berpikir ulang mengenai metode barat dalam mendidik anaknya yang (yah akui sajalah), banyak lemahnya. Membaca buku ini membuat saya berpikir bahwa kebebasan yang diagung-agungkan oleh banyak orang barat banyak juga yang salah sasaran. Dalam beberapa hal, saya sepakat dengan Tiger Mother bahwa anak-anak perlu dididik untuk bekerja keras dan tidak memanjakannya.

"Orangtua China menuntut nilai sempurna karena mereka yakin bahwa anak mereka mampu mendapatkannya. Kalau anak mereka tidak mendapatkan nilai sempurna, orangtua China menganggap hal itu disebabkan karena anak mereka tidak belajar cukup rajin."

Sementara mungkin para orangtua Barat tidak pernah menuntut anaknya untuk mendapat nilai sempurna. Mendapat nilai B saja anak-anak mereka akan dipuji setinggi langit. Saya sepakat dengan sang Tiger Mother bahwa menanamkan pemikiran bahwa anak-anak layak untuk menjadi yang terbaik, oleh karenanya, mereka juga harus melakukan yang terbaik. Tidak ada batasan untuk kemampuan sang anak. Jika anak bisa mendapat nilai A, mengapa harus berpuas diri dengan nilai B?

"Orangtua China punya dua keunggulan dibandingkan orangtua Barat: (1) cita-cita yang lebih tinggi untuk anak-anak mereka, dan (2) rasa hormat yang lebih besar terhadap anak-anak mereka dalam mengenal seberapa banyak hal yang mampu mereka pelajari"

Namun, saya juga agak kurang sepakat dengan beberapa cara yang diterapkan sang Tiger Mother. Salah satu diantaranya adalah obsesi sang Tiger Mother agar anaknya menjadi Musisi dan seolah membatasi mereka hanya menjadi Musisi saja. No offense, tetapi di buku ini, saya mendapatkan kesan seolah sang Tiger Mother membatasi wilayah gerak sang anak hanya di bidang musik saja. Tak heranlah jika kemudian sang anak merasakan kebosanan yang memuncak sehingga membangkang bahkan sampai membenci musik.

Sesuatu yang berlebihan memang tidak pernah menjadi baik ya.. termasuk pemaksaan yang berlebihan sehingga memenjarakan diri. Walau bagaimana pun, ada sisi manusiawi dalam diri setiap manusia yang selalu ingin mencoba hal-hal baru diluar hal rutinnya. Dan sisi ini pun harus menemukan salurannya, harus turut difasilitasi.



Jika saya menjadi seorang ibu suatu saat nanti, hihihi.. Saya mungkin juga akan menerapkan keyakinan yang sama dengan Tiger Mother: anak saya layak untuk menjadi yang terbaik dan saya akan mendidiknya untuk melakukan yang terbaik. Yah, saya jadi terpikir juga untuk memberikan pendidikan musik klasik kepada mereka, tapi tidak dengan cara yang begitu ekstrim sampai memenjarakan hobi mereka yang lain.

"Musik klasik merupakan lawan dari kemerosotan, lawan dari kemalasan, kekasaran dan kemanjaan"

Musik klasik juga dapat membantu anak-anak mengembangkan otak kanannya agar seimbang dengan perkembangan otak kirinya selama mempelajari matematika dan sains. Yang pasti, anak-anak saya nantinya harus suka membaca hehehe.. kalau tidak suka membaca, berarti bukan anak saya! :p

Seperti yang saya katakan sejak awal, sangat salah mengartikan bahwa buku ini adalah seperti sebuah panduan bagaimana mendidik anak. Karena pengalaman dalam membaca buku ini tidak sama seperti membaca buku parenting. Buku ini lebih mengenai kisah seorang ibu yang sangat kuat memegang prinsipnya sebagai orang China dan menerapkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anaknya. Saking kuatnya sang ibu, sampai menyebut dirinya sendiri Tiger Mother.

Saya juga sangat kagum dengan kecerdasan Amy Chua dalam menuliskan buku ini. Buku ini walaupun memang kisah pribadinya dan keluarganya hingga seperti memoar, tapi tidak terkesan hanya seperti buku yang berisi curhat semata. Banyak pengetahuan yang saya dapatkan mengenai musik klasik, biola, leukimia, bahkan sampai anjing Samoyed! Amy Chua selalu memasukkan data-data yang akurat dan terperinci dalam kisah-kisahnya.

Saya menemukan banyak artikel setelah saya mencari tau tentang Amy Chua lewat Google. Ternyata memang banyak yang kemudian mengkritisi metodenya, dan banyak hal kontroversial lainnya. Saya rasa wajar, karena seperti yang ia katakan

"Membesarkan anak ala China teramat sepi-- setidaknya kalau kita mencoba melakukannya di dunia Barat, dan kita sadari bahwa kita sendirian. Kita harus berjuang melawan seluruh sistem nilai yang berakar pada Renaissance, hak istimewa perorangan, teori perkembangan anak, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia-- dan tak seorang pun dapat kita ajak bicara secara jujur, meskipun orang itu adalah sosok yang kita sukai dan sangat kita hormati"

Jadi, ketika berbagai kontroversi itu muncul, saya rasa Amy Chua pun sudah paham dengan hal tersebut dan bisa mengatasinya, dia kan Tiger Mother! :p

Saya juga menemukan artikel yang ditulis oleh Sophia, yang bagi saya cukup mengharukan karena ternyata bagi seorang anak, Tiger Mother tidak merenggut hak-hak asasinya, tapi justru memberikannya sebuah kemandirian.

Pada akhirnya, saya akan kembali mengutip kalimat dari buku ini

"Hidup ini begitu singkat dan begitu rapuh, tentunya kita masing-masing harus berusaha memberi sebanyak mungkin makna pada setiap tarikan napas kita, setiap detik dari waktu yang berlalu."



Dear Tiger Mother, Terima kasih atas buku yang sangat menginspirasi ya!

Terlalu berlebihan berharap


Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,
Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,
Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita.
Tak peduli seberapa tak sukanya kita,
Dan tak ada yang suka rasa sakit,
Rasa sakit itu penting,
Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.
Bagaimana lagi kita bisa tahu,
Untuk menarik tangan kita dari api?
Jari kita dari belati?
Kaki kita dari duri?
Jadi rasa sakit itu penting
Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.

Namun,
Ada sejenis rasa sakit yang tak ada gunanya,
Itulah rasa sakit kronis,
Itulah pasukan elite rasa sakit yang bukan untuk pertahanan,
Itu adalah kekuatan yang menyerang.
Penyerang dari dalam,
Penghancur kebahagiaan pribadi,
Penyerang ganas bagi kemampuan pribadi,
Penyerbu tak kenal lelah bagi kedamaian pribadi,
Dan, pelecehan berkelanjutan bagi hidup!

Rasa sakit kronis adalah aral lintang terberat bagi pikiran.
Kadang rasa sakit itu nyaris mustahil untuk dilampaui,
Namun, kita harus tetap mencoba,
Dan mencoba,
Dan mencoba,
Sebab jika tidak, ia akan menghancurkan kita.

Dan
Dari pertempuran itu akan muncul hal-hal yang baik,
Kepuasan penaklukan rasa sakit.
Pencapaian kebahagiaan dan kedamaian,
Pada kehidupan sekalipun darinya.
Ini sungguhlah suatu pencapaian,
Pencapaian yang sangat istimewa, sangat pribadi,
Rasa akan kekuatan,
Kekuatan batiniah,
Yang harus dialami untuk bisa dipahami.

Jadi, kita semua harus menerima rasa sakit,
Sekali pun rasa sakit yang merusak.
Karena itu bagian dari segala sesuatu,
Dan pikiran dapat mengatasinya,
Dan pikiran akan menjadi lebih kuat dalam mengalaminya.

~Jonathan Wilson-Fuller
(Ditulis pada saat dia baru berumur 9 tahun)


Dikutip dari buku "Opening the Door of Your Heart (edisi Bahasa Indonesia berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya") yang ditulis oleh Ajahn Brahm.

Monday, February 18, 2013

Apel dan Jeruk

Alkisah ada seseorang yang menyukai buah Apel. Sangat menyukainya. Ia terus menerus mengkonsumsi Apel dan tidak mengkonsumsi buah lainnya. Ia juga tidak merasa bosan dengan buah Apel. Semakin sering ia mengkonsumsi Apel, ia pun makin menyukainya.
Namun suatu saat, buah Apel menjadi langka lalu menghilang. Pohon-pohon Apel tidak sanggup lagi berbuah. Mereka menjadi kering dan mati perlahan. Orang yang menyukai Apel tentu merasa kehilangan. Ia pun merindukan buah Apel hampir setiap saat. Semua memori rasa buah Apel pun seolah membanjiri indra perasanya bahkan ketika buah itu tak ada. Rasanya semakin nyata. Baginya, buah Apel sungguh tak tergantikan.
Lalu, beberapa saat setelahnya ia mulai melihat buah Jeruk. Apel dan Jeruk sama-sama merupakan sumber Vitamin C. Namun Jeruk memang berbeda dari Apel. Apel lebih banyak mengandung antioksidan dan serat, sedangkan pada Jeruk kandungan vitamin C sangat berlimpah. Setelah mengenal buah jeruk, ia memutuskan untuk mulai mencoba buah Jeruk. Awalnya, rasanya berbeda namun kelamaan ia pun mulai menyukai Jeruk. Ia menyukai rasa asam dan manis pada jeruk dan mengagumi bagaimana bisa dua rasa yang jauh berbeda itu bisa bersatu. Baginya, itu seperti sebuah keajaiban. Lalu, ia semakin menyukai jeruk.
Ia bingung mengapa ia bisa menyukai Jeruk sedangkan ia masih benar-benar menyukai Apel dan masih akan tetap menyukainya mungkin sampai kapanpun. Tapi ia kemudian menjadi paham bahwa ia menyukai Jeruk bukan karena Apel telah tiada. Tapi karena ia memang menyukai Jeruk. Baginya, Jeruk telah menjadi spesial.
Namun tiada yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya, jika suatu saat buah Apel kembali hadir. Akankah ia kembali mengkonsumsi Apel? Ataukah ia tetap setia pada Jeruk?
What do you think?

Menjadi kuat

Menjadi kuat bukanlah berarti kau tidak pernah lemah. Menjadi kuat adalah tentang bagaimana kau tetap bangkit setelah lemah.
Menjadi kuat bukanlah berarti tidak pernah ingin menyerah. Menjadi kuat lebih tentang bagaimana kau melawan keinginan untuk menyerah.
Menjadi kuat bukanlah berarti kau memakai senyum palsu setiap saat pada semua orang. Menjadi kuat berarti kau tetap tersenyum tulus saat harus tersenyum dan tidak takut menangis saat kau butuh menangis di hadapan sahabatmu, agar kau bisa membagi bebanmu dan bertambah kuat.
Menjadi kuat bukanlah menjadi orang yang berpikir sehat terus menerus, tanpa pikiran gila sama sekali. Menjadi kuat adalah ketika pikiran-pikiran gila itu datang, kau melakukan segala cara agar itu semua tidak merasukimu terlalu dalam.
Menjadi kuat bukanlah berarti saat seseorang melemahkanmu lalu kau terjatuh dan itu membuatmu merasa kalah. Menjadi kuat adalah bagaimana kau selalu berusaha menemukan sumber kekuatanmu saat kau lemah. Berpegang teguh pada sumber kekuatanmu, dan yakin bahwa satu-satunya keinginanmu adalah menjadi kuat.
Menjadi kuat bukanlah berarti sama sekali tidak memiliki rasa takut. Menjadi kuat lebih berarti bahwa kau BERTEKAD mengalahkan rasa takutmu. Perlahan-lahan.
Menjadi kuat bukanlah sebuah anugerah yang turun dari langit dan bisa kau pungut. Menjadi kuat adalah usaha yang tak kenal lelah untuk mencari ke dasar jurang tergelap lalu menemukannya dan menggenggamnya erat. Seolah-olah itu adalah benda yang paling berharga.
Sesungguhnya, setiap manusia itu kuat. Hanya sugestinya yang terus membayanginya setiap saat bahwa dia lemah.
Ingat saat kita kecil dan kita mulai belajar untuk berjalan? Kita terjatuh, terjatuh, terjatuh dan terus terjatuh. Entah sudah berapa kali kita terjatuh. Namun ternyata di umur semuda itu, kita dianugerahi insting alami untuk terus kuat mencoba dan mencoba.
Jika kita, di umur itu saja mampu untuk terus bangkit, mengapa sekarang tidak?
Apa yang menghalangi kita dari menjadi kuat sesungguhnya adalah pikiran-pikiran kita sendiri.
Sebelum tidur, sugestikan pada alam bawah sadar kita, bahwa AKU KUAT. Sugestikan berulang-ulang sampai jatuh tertidur.
Cobalah. Semoga kita bisa menjadi lebih kuat!

(24 Mei 2011. The perks of being introvert)

30 HARI PENGAKUAN. DAY 5: TRAUMA



Pernahkah kau merasa begitu takut untuk melangkah maju? Kata hatimu menginginkan sesuatu, namun ada sesuatu yang menahanmu di tempat, atau justru menarikmu ke belakang?
Well, aku pernah, beberapa kali. Aku begitu merasa takut untuk mengambil keputusan dan berpikir seribu kali. Semua diakibatkan oleh satu rasa yang bernama trauma.
Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para psikolog menyatakan trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. (sumber)
Kejadian yang dialami dan bekas yang ditinggalkan bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga psikis. Trauma psikis inilah yang merupakan bahaya laten dalam perkembangan kepribadian seseorang.
Tidak semua orang memiliki trauma spesisfik, namun aku memilikinya. Inilah pengakuanku mengenai trauma.
Aku trauma pada pernikahan.
Banyaknya pertengkaran diantara kedua orangtuaku sejak aku masih teramat kecil, sedikit demi sedikit mengendap dalam alam bawah sadarku. Sampai-sampai aku pernah menganggap bahwa pernikahan identik dengan pertengkaran. Waktu aku kecil, aku pernah berkata bahwa aku mungkin tak akan pernah ingin menikah. Hidup selibat bagiku cukup. Aku tak tau bagaimana aku yang sekarang, apakah ucapanku itu masih berlaku atau tidak. Di satu sisi, aku tau bahwa menikah adalah setengah dari agama. Aku pahambahwa menikah adalah ibadah. Tapi tau dan paham tidak sama dengan merasakan. Trauma itu masih ada, walau sedikit, bahwa aku takut akan pertengkaran dalam rumah tangga. Aku takut anak-anakku kelak akan mengalami hal yang sama dengan yang kualami, yaitu merasakan ketakutan yang sama setiap hari. Merasa tidak aman hampir setiap hari. Merasa khawatir hampir setiap hari, apakah sepulang sekolah akan ada piring yang terlempar pecah ataupun koper yang dipak dan siap diangkut pergi.
Aku pernah berpendapat bahwa pernikahan itu sangat menakutkan dan aku tidak akan pernah siap menghadapinya suatu saat nanti. Kurasa, sampai saat ini, pendapat tersebut sebagian masih bertahan. Aku masih menganggap bahwa pernikahan itu bukan hal main-main dan membutuhkan bukan hanya sekedar cinta, tapi juga kedewasaan dan komitmen penuh.
Dulu, trauma ini menjadi hal yang sangat negatif buatku. Aku menjadi seperti orang yang sangat anti membicarakan pernikahan. Pokoknya aku benci setiap ada orang yang membicarakannya. Namun, sejak aku membaca sebuah hadist berikut:
Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).
Aku tidak lagi membenci pernikahan, aku tidak lagi anti terhadapnya. Aku justru semakin mempelajari mengenai pernikahan. Bagaimana agar kelak jika aku menikah, aku tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan orang tuaku. Aku bahkan mempelajari sampai bagaimana mendidik anak, agar tidak sampai melukai perkembangan psikologi anak. Walaupun demikian, aku tetap merasakan kekhawatiran akan pernikahan x_x

Aku trauma pada persahabatan
Sebuah hal yang miris adalah ketika kau memiliki begitu banyak teman, namun kau masih merasa kesepian. Saat teman hanyalah sebuah status sosial yang ditempelkan satu manusia ke manusia lainnya. Yah, begitulah yang kurasakan. Aku seringkali merasa sendirian, padahal aku tak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada manusia-manusia yang bernama teman di sekelilingku. Namun entah mengapa, seperti ada tabir antara aku dan mereka. Tabir yang semakin lama semakin tebal dan akhirnya mengasingkanku dari mereka.
Dulu, aku begitu mudah bergaul, mudah menemukan teman. Bagiku sangat mudah untuk menyayangi sosok yang disebut teman. Namun, selalu dan selalu, sosok yang disebut teman itu mengecewakanku dan menyakitiku. Apa kau tau bagaimana rasanya difitnah oleh teman dekatmu? Apa kau tau bagaimana rasanya jika rahasia terdalammu dibeberkan didepan publik lalu ditertawakan oleh seorang yang kau sebut teman sejati?? Apakah kau pernah merasakan bagaimana sakitnya saat kau dan keberadaanmu hanya dimanfaatkan oleh temanmu hanya untuk keuntungannya semata??
Percayalah, aku sudah pernah mengalami itu semua. Ironis memang, ketika aku dengan tulus ingin berteman dengan seseorang, lalu kau harus mengalami hal-hal yang menyakitkan tersebut dengan tiba-tiba dan tak menduga. Aku memang tak pernah mengharap bahwa semua ketulusanku itu berbalas dengan kebaikan. Namun, aku lebih tidak mengharap bahwa mereka akan menyakitiku. Itu terlalu pahit buatku. Disakiti oleh orang yang sudah kau anggap sahabat sendiri jauh lebih menyakitkan dibandingkan dicaci oleh orang yang membencimu.
Oleh karenanya, pernah ada masa dimana aku bersikap sangat dingin kepada semua orang. Bersikap menjauh dari semuanya. Terlalu lelah untuk percaya bahwa yang namanya sahabat itu memang ada. Menganggap bahwa berjuang sendiri dalam kerasnya dunia itu jauh lebih baik daripada memiliki resiko untuk kembali sakit hati karena sahabat. Hatiku sudah separah itu kerusakannya.
Lalu aku bertemu seseorang. Yah, kau sudah tau Jay (baca postingan sebelumnya). Lalu dia pergi.. bertahun-tahun aku tak memiliki sahabat lagi. Sampai aku bertemu seorang pria. Pria yang entahlah, selalu ada disaat susah dan senangku. Selalu bisa berbagi beban kehidupan denganku layaknya sahabat. Mendampingi layaknya seorang kakak, dan membimbing layaknya seorang bapak. Mungkin dia lah orang pertama yang mengembalikanku pada 'kehidupan'. Kehidupan yang membuatku kembali hidup normal dan mulai percaya bahwa ketulusan itu memang benar ada. Lalu, dia pergi lagi.. sungguh naas hidupku T.T Namun, pada akhirnya, saat ini jalan kehidupan yang berliku ini mempertemukanku pada 2 orang manusia yang baik. Kisah mengenai keduanya bisa dibaca di postinganku mengenai Sahabat.
Walaupun aku saat ini sudah menemukan mereka, yang mulai kuberanikan diri untuk kupanggil sahabat, ketakutan dan trauma itu masih tetap menghantuiku. Entah mereka akan pergi dari hidupku atau mereka akan menyakitiku, itulah ketakutanku. Aku memang mulai menterapi diri sendiri dengan sugesti bahwa mereka tidak akan menyakitiku, dan kalaupun suatu saat itu akan terjadi, aku akan berusaha tetap mempertahankan mereka. Namun, bayangan perpisahan masih menghantui. Mengingat aku selalu harus berpisah dengan orang-orang kesukaanku sebelumnya. Sampai saat ini aku pun masih bertanya-tanya, apakah ini mimpi, bahwa aku akhirnya bertemu lagi dengan sahabat. Lalu kapankah aku bangun dan menemukan realita?

Aku juga trauma pada kegagalan.
Aneh, bukan? mengingat bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan dan itu adalah hal yang biasa. Namun yaaah, bagiku gagal adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Sejak kecil, orang tuaku mendidik aku dengan cara yang sangat perfeksionis sehingga aku terbiasa merasa takut untuk gagal. Gagal adalah seburuk-buruknya hal. Ayahku selalu mengharapkan agar aku berhasil di bidang akademik. Berprestasi pun aku jarang dipuji, malah cenderung dievaluasi. Lalu apalah yang terjadi jika aku gagal? Ibuku pun sama, mengharapkan aku agar bisa menjadi wanita yang tangguh, tiada pernah menangis cengeng. Lalu, apakah yang terjadi jika aku lemah dan menangis? Hal itu mengendap dalam diriku: aku tak boleh gagal. Aku harus berprestasi, kuat dan tegar.
Namun, inilah hidup. Dan akupun gagal suatu hari. Dan itu sangat memukulku. Melihat sosok ayahku yang terluka, walau beliau berusaha menyembunyikannya, harus kuakui lebih membuatku terluka. Gagal itu sangat menyakitkan! Sampai tiada sanggup rasanya melanjutkan hidup. Aku selalu memikirkan dampak kegagalan dalam hidupku bagi hati kedua orang tuaku yang memang penuh ekspektasi. Rasanya tiada pernah sanggup lagi aku lihat sorot terluka pada kedua mata mereka. Itu sangat menyakitkan.
Oleh karenanya aku sangat trauma pada kegagalan. Aku mulai memasang standar yang lebih tinggi pada diriku dalam setiap hal. Yak, aku telah sukses menjadi seorang perfeksionis. Jika kau tanya padaku apakah menjadi seorang perfeksionis merupakan sebuah hal positif atau negatif, aku akan menjawab keduanya.
Menjadi perfeksionis merupakan hal positif karena kau tidak akan melakukan suatu hal apapun tanpa bekerja dengan sangat keras. Kau akan menjadi sangat total terhadap apa yang kau kerjakan. Ini berarti dedikasi dan loyalitas. Sisi buruk dari menjadi seorang perfeksionis adalah kau menjadi mudah down. Sedikit kegagalan akan membuatmu larut dalam penyesalan dan penghakiman yang kadang tidak masuk akal pada dirimu sendiri. Lalu, kau akan menjadi semakin tidak menyukai kegagalan.

Aku trauma curhat.
Yang ini lebih aneh lagi. Curhat saja bisa menimbulkan trauma?? lebay! :p  Tapi ya memang, aku kurang berbakat dalam bidang yang satu ini. Sejak dulu aku memang sering menjadi tempat curhat bagi teman-temanku. Baik perempuan maupun laki-laki. Namun entah mengapa, aku tak pernah bisa curhat kepada orang yang pernah curhat padaku tanpa berpikir panjang dan berulang-ulang.
Menurutku, yang namanya curhat itu merupakan fungsi dari minimal 3 hal:
1. Kepercayaan
Apakah kau mau curhat sama orang yang tidak kau percayai bahwa dia dapat menjaga rahasiamu atau menjaga perasaanmu?
2. Kenyamanan
Ataukah kau mau curhat sama orang yang tidak nyaman kau ajak bicara, yang kau tau dia hanya akan memandangmu rendah setelah kau bercerita atau justru sama sekali tidak mendengarkan?
3. Keadaan
Terkadang, ada sebuah situasi dimana kau hanya membutuhkan orang lain untuk berbagi. Situasi dimana kau baru saja mengalami hal yang bisa jadi itu mengejutkan, membahagiakan, menyedihkan atau bahkan menakutkan!
Begitulah menurutku, seseorang akan memutuskan untuk curhat kepada orang lain jika dia merasa beberapa dari fungsi tersebut diatas terpenuhi. Untuk kasusku yang perfeksionis ini, ketiga hal tersebut harus terpenuhi semua.
Terakhir, dan ini merupakan pengakuanku yang terdalam. Aku trauma jatuh cinta.
Pengalaman jatuh cinta merupakan pengalaman yang sangat menakutkan! Seperti jatuh dalam goa yang sangat dalam, gelap dan belum pernah terjelajahi sebelumnya (halah! Sanctum syndrome! :p). Jatuh cinta adalah sebuah pengalaman yang membingungkan. Ia tak memiliki formula yang pasti dan teruji secara scientific, variabelnya tak tentu, probabilitasnya tak terukur, resiko tidak selalu bisa dicegah, dan kebenarannya tidak mutlak.
Saat seseorang jatuh cinta, semua sistem nalar dan logika seperti lumpuh sementara dan hanya hati dan perasaannya yang menguasainya. Hal ini sudah tentu menjadi hal yang paling beresiko. Bagaimana mungkin seseorang mempertaruhkan sebuah hati yang tiada gantinya hanya demi makhluk bernama cinta? Apakah resikonya sebanding dengan hasil yang (mungkin) akan didapatnya?
Andaikan saja ada suatu sistem, suatu formula, suatu resep obat, atau apapun dimana seseorang bisa jatuh cinta tanpa merasakan resiko sakit hati. Tentu jatuh cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Tapi ternyata hal tersebut belum ada, dan jatuh cinta masih menjadi momok yang menakutkan bagiku.
Aku pernah jatuh cinta, beberapa kali. Namun aku selalu berusaha menguntai benang merah dari setiap pengalaman aku terjatuh untuk mencinta.
There's no such thing as love at first sight. Karena sejatinya, cinta adalah perasaan yang bertumbuh seiring dengan waktu dan dipupuk oleh pengetahuan saling menemukan kenyamanan antara satu sama lain. Jatuh cinta bukanlah sebuah proses instan seperti mi instan (halah). Ketika perasaan itu muncul seiring berjalannya waktu dan didasari bukan hanya perasaan kagum belaka yang sementara, ia akan bertahan lama.
Bagiku, cinta tanpa logika adalah cinta yang bukan saja buta, tetapi membutakan dan membahayakan. Walau bagaimanapun segala sesuatu butuh logika, butuh pemikiran mendalam. Makhluk yang bernama cinta lahir dari hati dan logika dengan takaran yang pas dapat menjaga hati agar tidak terluka. Hati hanya ada satu, kau tak ingin kehilangannya tanpa punya pertahanan sama sekali, bukan?
Yah, aku memang tipe yang sulit untuk jatuh cinta. Butuh banyak pertimbangan, pemikiran yang mendalam dan kenyamanan sampai tiba saatnya aku jatuh cinta. Namun, saat aku jatuh cinta, aku memang tidak pernah mudah bangkit darinya. Pengalaman berbicara bahwa aku selalu membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk bangkit kembali dari pengalaman 'jatuh' yang satu ke pengalaman 'jatuh' yang lainnya. Itulah mengapa aku selalu trauma saat tanda-tanda jatuh cinta menyerangku.
Well, begitulah penuturanku yang teramat panjang mengenai trauma. Bukan topik yang mudah bagiku, dan membutuhkan penuturan yang sangat jujur dari hatiku. Dan, beginilah aku. Ini pengakuanku mengenai trauma.

(16 Mei 2011)

30 HARI PENGAKUAN. DAY 4: HIGH SCHOOL




Malam ini hujan kembali turun, dan aroma Petrichor pun menguar bak candu bagi ingatanku. Menuntunku kembali ke masa-masa itu, saat dunia masih berwarna putih dan abu-abu.
Kubuka gerbang waktu, saat mentari bersinar terik dan bulir-bulir peluh pun meluruh. Hari belum juga siang, namun udara sudah menyengat kulitku dan aku harus beranjak pergi menembus keramaian kota Bekasi menuju suatu tempat. Sesampainya di sana, kulihat sebuah tulisan di dindingnya "SMAN 2 Bekasi". Disinilah aku mencoba merajut benang-benang ilmu dan masa depan. Suatu tempat yang disebut Sekolah :) Lokasinya bisa dibilang terletak di pusat kota, berjarak sekitar 7 Km dari rumahku dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam. Itu juga kalau tidak macet, hehehe..
Di Sekolahku, murid yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA mendapatkan shift belajar siang. Mulai sekitar pukul 12.30 hingga kira-kira pukul 17.30. Dapat kau bayangkan bersekolah di jam-jam segitu? Mengantuk, tentu! dan panas juga.. benar-benar ujian bagi kesungguhan kami, para pelajar :p
Bagiku, masa SMA merupakan masa dimana aku menemukan aktualisasi diri. Dari aku yang sangat pendiam dan pemalu saat SMP, lalu menjadi lebihoutgoing. Banyak kejadian yang kualami di SMA, masing-masing memiliki kesan sendiri.
Apakah kau percaya jika kukatakan bahwa aku termasuk anak yang badung saat aku duduk di kelas 1? hahaha.. Hal itu benar. Saat itu aku memiliki seorang sahabat, dia berasal dari Bali. Namanya Ni Komang Triana Dewi Wulandari. Di rumahnya, dia biasa dipanggil Ana. Namun aku memanggilnya Jay, yang merupakan singakatan dari "Jayus". Dulu, kami memang terkenal sebagai Duo Jayus =)) Pada dirinya, aku seperti menemukan seorang Partner In Crime. Dulu, kami sering membolos pada saat upacara penurunan bendera di hari sabtu, lalu kami melarikan diri ke Mall. Maklum lah, sekolahku berada di kawasan Mall Metropolitan Bekasi, jadi sebenarnya sudah menguntungkan secara geografis x)
Aku dan Jay bersahabat akrab, kami selalu bersama. Walaupun kami berbeda agama (Aku seorang muslim, dan dia Hindu), namun kami tetap kompak. Saat jam istirahat sore, aku sholat ashar di masjid sekolah dan dia tetap menungguku di latar masjid. Sungguh, kami seperti dua sejoli (yihaaa) xD
Bersama Jay juga, aku seperti merasa lepas dari semua beban. Aku tak perlu berpura-pura menjadi siapapun, pun aku tak perlu repot menjelaskan apapun padanya. Kadang, aku merasa seperti ada koneksi bantin antara kami, bahwa kami dapat berkomunikasi tanpa saling mengutarakan isi hati. Sungguh aneh dan baru kali itu aku menemukan sahabat sepertinya.
Namun, seperti biasa, nasib malang (selalu) menimpaku, karena dia ternyata harus pindah sekolah (hell yeah) ke Jakarta disaat kenaikan kelas 2. Aku sungguh merasa kehilangan dia.
Seperti yang bisa ditebak, kehidupanku di SMA selanjutnya tanpa Jay benar-benar berbeda. Setelah Jay, memang aku tak bisa lagi menemukan sahabat. Aku memang punya banyak teman, dan aku bisa bergaul dengan orang-orang dari 'kalangan' apapun. Tapi tak ada diantara mereka yang benar-benar bisa seperti Jay. Untuk mengatasi kehilanganku, aku mulai aktif di organisasi. Awalnya aku hanya ikut-ikutan di ekskul keagamaan (namanya Ikrema) namun lama kelamaan, akupun mulai aktif. Aku juga aktif di ekskul jurnalistik dan menadapat banyak sekali ilmu disana.
Di sekolahku, memang pergaulannya seperti terbagi dalam kubu-kubu. Ngegenk lah istilahnya. Tiap genk biasanya terbentuk berdasarkan kesamaan minatnya, misalnya ekskul yang dipilihnya. Ada Genk Basket, Genk OSIS, Genk KIR, Genk Pramuka, Genk Rohis, Genk Cheers, dan lain-lain. Sejujurnya aku tak pernah menemukan kesulitan untuk berteman dengan teman-teman lintas genk (apeu??), namun memang ada beberapa genk yang sangat eksklusif hingga tak mau berteman dengan siapapun selain anggotanya. Yah, itulah kehidupan SMA, yang kurasa kebanyakan orang juga mengalaminya :)
Di kelas 2, aku pun mengalami banyak hal baru. Salah satunya adalah memiliki teman istimewa (halah). Bahasanya apa ya? Pacar? :p
Aku akan bercerita sedikit mengenai dia. Bisa dibilang dia penggemar rahasiaku, sementara aku menjadi penggemar rahasia temannya. Lalu, suatu saat entah mengapa kami bisa menjalin hubungan. yah yah yah.. walaupun tidak lama, tapi dia pernah menjadi bagian dari hidupku. lebih lengkap mengenai dia mungkin akan kubahas di pengakuan tersendiri yah :p  Dan begitulah masa-masa kelas 2 SMA berlangsung, lebih banyak soal organisasi dan menjadi penggemar rahasia seseorang (hahaha)
Ada satu pengakuan menarik, bahwa sebenarnya, aku sudah merasakan ketertarikan yang sangat besar terhadap dunia jurnalistik dan tulis menulis sejak aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Dan aku sudah punya keinginan untuk menjadi seorang penulis. Namun apa daya, ayahku menginginkanku untuk konsentrasi di dunia engineering dan itu mengharuskanku memilih jurusan IPA di penjurusan kelas 3.
Dan seterusnya begitulah masa SMA ku berakhir, dengan kesibukanku sebagai siswi jurusan IPA, kebanyakan berkutat dengan praktikum dan belajar menjelang Ujian Nasional. Aku akhirnya bisa bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan SMA, walaupun diawal aku badung, toh diakhir aku dapat menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah hehe
Salah satu keindahan masa SMA adalah bahwa banyak sekali ruang belajar yang bisa dimanfaatkan dan seseorang bisa menemukan aktualisasi dirinya melalui berbagai kegiatan intra/ekstrakurikuler yang ada. Aku menemukan seorang sahabat yang baik, banyak ilmu yang bermanfaat, dan aktualisasi diriku saat SMA.
Banyak memori yang tersimpan dalam arsip kenangan SMA, beberapa benar-benar layak untuk mendapat apresiasi untuk dipertahankan sampai nanti, saat kita tidak mampu lagi mengingat semuanya dan kenangan hanya berupa gambaran buram sebuah fase dalam kehidupan
We all have our time machines. Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams. ~ Jeremy Irons

(15 Mei 2011)

30 HARI PENGAKUAN. DAY 3: FAMILY



You don't choose your family.  They are God's gift to you, as you are to them.  ~Desmond Tutu

Ketika aku menuliskan ini, aku sedang berada jauh dari mereka, keluargaku. Ini adalah pengakuanku tentang sebuah Keluarga.

Aku lahir dan tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga kecil. Di rumah kami hanya ada kami berempat: Ayah, Ibu, Aku dan Adikku. Yah, keluargaku seperti potret Keluarga Berencana: 2 anak cukup! :))
Ayahku, beliau keturunan Ternate, namun dibesarkan di tanah Papua. Orang bilang bahwa 'orang timur' umumnya berwatak kasar dan 'keras'. Tapi tidak dengan Ayahku. Sebagai orang 'timur', beliau sangat lembut dan bisa dibilang pendiam. Aku sangat jarang melihat Ayahku marah. Beliau sangat sabar.
Ayahku bekerja di salah satu perusahaan yang dulunya BUMN, namun sekarang sudah menjadi perusahaan swasta. Pekerjaannya menuntutnya untuk selalu berada jauh dari keluarga. Kerapkali, aku, adik dan Ibuku ditinggal pergi untuk waktu yang sangat lama, bisa berbulan-bulan lamanya. Bahkan konon menurut cerita Ibuku, waktu aku lahir, Ayahku masih berada di pulau seberang (entah Batam atau Bontang, aku lupa :p). Sehingga, orang pertama yang meng-adzankanku bukanlah Ayahku, tapi pamanku. Namun itu tak mengapa :)
Walaupun Ayah sering tidak berada di rumah, hal tersebut tidak mengurangi kedekatan kami, anak-anaknya dengannya. Terutama aku, aku sangat dekat dengan Ayahku. Konsekuensi dari jarangnya Ayah berada dirumah, kami sekeluarga menjadi manusia-manusia "rumahan", yang merasa bahwa tempat yang paling nyaman di bumi ini adalah di rumah. Kami jarang sekali bepergian, kami lebih suka berada di rumah. Saat Ayahku akhirnya pulang ke rumah, kami cukup merasa tau diri dan tidak membebani beliau untuk pergi keluar dan berlibur. Kami paham bahwa Ayah lelah bekerja dan tentunya ingin beristirahat di rumah. Itulah sebabnya hingga saat ini, aku kurang suka yang namanya travelling atau rekreasi atau apalah. Kalaupun ada waktu luangku, aku hanya ingin menghabiskannya bersama orang terdekatku di tempat yang nyaman, bernama rumah :)
Latar belakang pendidikan Ayahku cukup tinggi, sampai saat ini, beliau sudah mengoleksi beberapa gelar dari berbagai bidang studi. Beliau seorang Sarjana Teknik Mesin, Magister Teknik Industri, Magister Manajemen dan kabarnya masih akan mengambil program doktor di Bidang Teknik Informasi.
Jujur, aku tak tau otak Ayahku seperti apa, namun beliau orang yang sangat menyukai pendidikan. Itu pula sebabnya walaupun pekerjaannya sekarang tetap menuntutnya selalu bolak-balik Jakarta-Kaltim, namun di akhir pekan, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta. Pekerjaan sampingan ayahku adalah seorang Dosen.

Lain halnya dengan Ayahku yang super sibuk, Ibuku adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Pekerjaan sehari-harinya adalah mendedikasikan dirinya untuk Ayah, aku, dan adikku. Ibuku lah yang menjaga kami ketika Ayah tak ada di rumah. Ibuku wanita yang hebat, karena tidak pernah mengeluh lelah atau susah saat Ayah tak ada. Beliau yang menggantikan peran ayahku, melewati berbagai hal sulit seorang diri :)
Jika Ayahku berasal dari Indonesia bagian timur, ibuku justru berasal dari Jawa bagian timur. Kadang aku heran, mengapa mereka berjodoh.. Karena banyak hal dari mereka yang sangat berbeda, sehingga sulit menemukan dimana letak kecocokannya. Secara sifat, Ibuku lebih outgoing, lebih extrovert sedangkan Ayahku introvert dan pemalu. Ibuku juga lebih sering berbicara, sedangkan Ayahku lebih suka diam dan kalem. Ayahku orang sains dan sangat lemah dalam bahasa asing, sedang ibuku sangat menyukai bahasa asing. Lalu, mengapa mereka menemukan satu sama lain dan jatuh cinta? Sungguh merupakan sebuah misteri bagiku.
Kurasa, cinta memang merupakan sebuah misteri sejak dulu :)
Aku dan Ibuku tak terlalu dekat, beliau lebih dekat dengan adikku. Entah mengapa mereka seolah memiliki ikatan yang lebih kuat. Saat adikku sakit, pasti Ibuku ikut sakit. Begitupun sebaliknya. Kedekatanku dengan Ibu mulai terasa justru sejak aku pergi dari rumah dan memilih untuk merantau untuk kuliah. Kalau dulu, aku sering merasa bahwa Ibuku hanya memperhatikan adikku, memenuhi semua keinginan adikku, sejak aku merantau, barulah terasa bahwa Ibuku juga begitu memperhatikanku. Apalagi sejak aku dan Ibuku pergi Umroh bersama di tahun 2008, aku makin menyadari kedekatan kami.
Ibuku bukan tipe Ibu yang sangat keibuan. Beliau justru cenderung bertipe ibu yang tangguh. Aku ingat saat aku jatuh dan terluka saat aku kecil, beliau tidak pernah memelukku untuk menghilangkan rasa sakit itu atau menghapus airmataku. Beliau hanya memintaku membasuh lukaku sendiri dan menyodorkan obat antiseptik, agar aku merawat lukaku sendiri. Dulu, aku sangat merasa sakit hati.. Mengapa aku tak mendapat pelukan dari Ibu layaknya seorang anak? Begitu sullitnyakah bagi Ibu untuk mencintaiku? Belakangan, setelah aku dewasa, aku menyadari bahwa itulah cara Ibu untuk membentuk aku menjadi wanita yang mandiri dan tidak cengeng :)

Aku memiliki seorang Adik laki-laki yang usianya berbeda 3 tahun denganku. Sejak dulu, kami sangat akrab. Betapa tidak? Dialah satu-satunya saudara sedarah yang kumiliki. Entah mengapa dalam mindset-ku tertanam kuat pemikiran untuk selalu menjaganya. Sejak kecil, dia sangat lucu dan polos. Kegemarannya adalah bermain video games. Segala jenis games sangat pandai dimainkannya. Nintendo, Super Nintendo, Sega, PS1, PS2, bahkangames di Time Zone! Dia seperti seorang nerd hahaha. Kedekatan kami terus berlanjut seiring kami bertumbuh dewasa. Dia sering bertanya padaku mengenai hal-hal yang tidak dia ketahui, dan aku pun menikmati menceritakan semua pengalamanku kepadanya.
Namun, naas melanda kami saat aku harus meninggalkan rumah untuk Kuliah di saat dia justru harus masuk SMA. Saat dimana dia paling membutuhkan sosok kakak untuk berbagi kisah hidupnya, dia harus kehilangannya. Begitulah konsekuensi dari perbedaan umur kami yang 3 tahun itu. Kuakui jarak Bandung-Bekasi tidaklah terlalu jauh dan sebenarnya akupun tidak juga sama sekali tidak pulang ke rumah di saat liburku. Namun, diawal masa-masa kuliahku yang sangat berat (maklumlah mahasiswa jurusan Teknik), aku akui aku memang tidak lagi memperhatikan dia, seperti dulu. Aku lebih fokus pada hidupku yang sebagai perantau. Mungkin kami tidak siap dengan perubahan yang tiba-tiba ini, sehingga kami merasakan seperti ada jarak yang semakin lama semakin memisahkan kami.
Hingga akhirnya, kami sama-sama dipertemukan kembali di Jogja, Kota pelajar :)
Walaupun akhirnya kami sama-sama tinggal seatap, tetaplah hubungan kami tidak seperti dulu. Kami tumbuh dewasa. Aku memiliki masalah sendiri dalam hidupku yang ruwet dan diapun demikian. Kami tidaklah sedekat yang dulu. Namun, aku tetap menyayangi adik kandungku itu. Inilah proses menjadi dewasa.

Banyak hal yang terjadi pada keluargaku, dan tidak semuanya menyenangkan. Justru lebih banyak menyakitkan. Ada masa-masa sulit saat keluarga kami diambang kehancuran. Pertengkaran selalu mewarnai kehidupan keluarga ini. Ayah bertengkar dengan Ibu atau Aku bertengkar dengan Ibu. Selalu pertengkaran demi pertengkaran, sampai rasanya tiada lagi kedamaian di rumah.
Aku tak tau mengapa begitu banyak pertengkaran di keluarga kami. Padahal kebanyakan penyebabnya hanyalah hal-hal sepele, yang kalau kuingat saat ini, semuanya sangat konyol. Aku masih ingat, betapa seringnya aku dan Ibu bertengkar hanya karena hal sepele, hanya karena aku begitu egois untuk setuju mengalah dalam berpendapat saat bersama Ibu.
Belakangan, aku menyadari bahwa semua pertengkaran dan keributan itu pasti sangat meninggalkan bekas di hati adikku. Makhluk yang tak berdosa yang harus hidup dan menyaksikan semuanya.
Mungkin kami semua lelah dengan semua yang terjadi pada keluarga ini. Mungkin sudah terlalu lama berada dalam situasi negatif. Namun, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan takdir-Nya mengubah itu sedikit demi sedikit. Perubahan di keluarga kami mulai terjadi sejak kedua orang tua kami pergi untuk menunaikan rukun islam yang ke-5, yaitu naik Haji di tahun 2003. Sejak itulah, aku merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam keluarga dan semua itu dimulai dari kedua orang tua ku. Kesabaran, bersyukur, dan saling menghargai mulai lebih terasa dominan di keluarga kami. Itulah awal dimana aku dan keluarga memulai sebuah kehidupan baru. Hingga saat ini, kami berusaha untuk mempertahankan itu.
Segala kesulitan yang pernah kualami bersama keluarga ini pernah membuatku harus membuat pilihan sulit: lari dan hidup sendiri atau bertahan demi keluargaku (terutama adikku). Berkali-kalipun aku semakin ingin menyerah. Namun pada akhirnya, aku selalu membuat keputusan itu: aku memilih bertahan demi keluargaku. Dan aku takkan pernah menyesali keputusan itu.
Yah, beginilah keluargaku. Tidak sempurna. Ketidaksempurnaan yang membuat kami merasa semakin memiliki keluarga ini. Pernah aku melihat potret keluarga lain, yang (mungkin) lebih bahagia dari keluargaku dan aku merasa iri. Betapa mahalnya sebuah kebahagiaan dalam sebuah keluarga dan aku ingin memilikinya. Namun, saat ini aku kembali berpikir, benarkah potret keluarga yang kulihat itu benar-benar bahagia? atau justru mereka lebih pandai menyembunyikan kesulitannya?
Aku memang tidak dapat memilih keluargaku, memilih Ayah yang selalu ada di rumah dan berada bersama keluarganya setiap saat, memilih Ibu yang lebih keibuan dan penuh kasih sayang yang dapat memelukku setiap saat aku merasa sedih dan sendiri, atau memilih seorang kakak dibanding adik, yang jauh bisa diandalkan. Namun, aku beryukur ada di keluarga ini, karena setiap detik bersamanya telah membentuk diriku apa adanya seperti saat ini. Semua kesulitan telah membuatku kuat, dan setiap kesedihan telah membuatku menghargai kebahagiaan.
Keluarga ini lebih penting daripada eksistensi diriku.
(14 Mei 2011)