Thursday, February 21, 2013

Kehilangan


Di dunia ini ada berapa macam rasa sakit? Dan sakit seperti apakah yang paling menyakitkan?
Bagi saya, sakit yang paling menyakitkan adalah rasa sakit yang tak dapat diungkapkan. Rasa yang merayap pelan di dalam hati hingga akhirnya menggerogoti seluruh kebahagiaan dan tak tersisa lagi harapan.
Tentunya bagi setiap orang, pengalaman paling menyakitkan ini berbeda-beda.
Bagi saya, pengalaman itu berupa kehilangan.

Apa kamu pernah kehilangan sesuatu? Walaupun kehilangan hal yang kecil dan remeh, tetapi pasti ada perasaan menyesal. "Mengapa saya tak menjaganya dengan cukup baik?!" Dan ketika hal tersebut sudah hilang, kamu akan merasakan ada yang berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang tak lengkap.

Begitulah yang saya rasakan saat saya kehilangan sesuatu. Apapun itu. Pernah suatu hari saya kehilangan dompet saya. Padahal saya termasuk tipe orang yang sangat teliti dan hati-hati menjaga dompet serta barang berharga. Itu kali pertama saya kehilangan barang berharga. Di dalam dompet tersebut ada uang sebesar kira-kira 400 ribu rupiah, tapi yang paling membuat saya tercekik adalah semua kartu identitas serta stnk motor saya ada di sana! Pasti akan sangat merepotkan jika harus mengurus ulang semua kelengkapan tersebut. Lalu saya mulai panik mengingat-ingat di mana lokasi kemungkinan saya kehilangan dompet tersebut, dengan harapan saya bisa menemukannya kembali. Berjam-jam saya berkeliling-keliling mencari, tapi usaha saya tak membuahkan hasil. Dompet saya sudah hilang. Saat itu saya merasa kecewa pada diri sendiri, ceroboh dalam menjaga barang berharga. Saya terus menerus menyalahkan diri saya sendiri. Andaikan waktu dapat diputar kembali, saya akan lebih berhati-hati.
Tapi sekuat apapun saya berusaha dan berdoa, saya tak bisa mengulang kembali waktu yang telah berlalu. Saya tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Hanya tersisa penyesalan.

Saat itu, saya kehilangan sebuah dompet. Saya tak pernah menyangka bahwa akan ada saatnya di mana saya harus kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari sebuah dompet. Saya tak tau.

Saat ini, saya kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya. Sesuatu yang tak dapat dibeli kembali, atau dibuat "surat keterangan kehilangan" di kantor polisi terdekat. Tidak, ini sesuatu yang tak dapat terganti dengan apapun. Saya berusaha mengevaluasi, mengapa saya bisa kehilangan. Apa yang salah? Apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya kembali? Atau minimal mencari jejak hilangnya, seperti ketika saya kehilangan dompet itu. Tapi, setiap hal yang saya lakukan sepertinya malah semakin membuat kehilangan itu semakin besar, saya merasa hal itu makin jauh dari saya.

Saya tau, kali ini bukan sepenuhnya kesalahan saya sehingga saya kembali kehilangan sesuatu. Ini adalah hasil dari proses yang sudah berlangsung sejak lama. Pada awal tanda-tanda akan kehilangan itu muncul, saya juga sudah berusaha keras untuk menjaganya dengan lebih hati-hati. Namun ya itu tadi, ternyata semuanya menjadi semakin buruk. Hingga akhirnya saya benar-benar kehilangan.

Ini bukan sebuah pembelaan diri saya, bukan. Kalau kamu tau, tidak pernah ada satu hari pun terlewati tanpa saya menyalahkan diri saya sendiri sampai bisa ada kejadian seperti ini. Berkali-kali saya berusaha menghukum diri sendiri, membenci diri saya sendiri. Saya bukan orang yang baik, saya bahkan tidak bisa menjaga sesuatu yang PALING BERHARGA yang pernah saya miliki. Bagaimana mungkin saya bisa dipercaya oleh orang lain, sedangkan untuk hal seperti ini saja saya Gagal!

Saya juga merasa cukup terhukum, karena hal ini begitu dalam masuk hingga ke alam bawah sadar saya dan saya sering memimpikannya. Setiap mimpi selalu berakhir dengan semakin buruk semakin harinya.
Inilah penyesalan saya yang terdalam karena gagal menjaga sesuatu yang paling berharga.

Saat ini, saya sampai pada titik di mana saya sudah tidak tau lagi harus berbuat apa. Saya tidak punya jawaban atas pertanyaan yang terajukan. Saya tidak punya solusi untuk bahkan dicoba.

Inilah rasa sakit yang saya maksud, sakit yang sudah menghancurkan harapan. Kronis.

Pernah ada sebuah mimpi indah tentang bagaimana akhirnya saya kembali menemukan "yang hilang" tersebut. Tapi bahkan di dalam mimpi pun saya sadar bahwa saya sedang bermimpi, bahwa ini tidak nyata dan saya akan terbangun lalu kehilangan kembali.

saya tak tau bagaimana kelanjutan atau akhir dari kisah kehilangan ini.
Saya menulis ini dengan sebuah pesan, bahwa sesungguhnya kita semua lupa atas apa yang sudah kita miliki, lupa menghargainya, lupa mensyukurinya, lupa MENJAGANYA. Dan satu-satunya saat kita diingatkan akan nikmat apa yang kita miliki adalah saat kita kehilangannya.

Saya sudah merasakan dalamnya penyesalan atas sakitnya kehilangan. Jangan sampai kamu juga merasakannya.

Saat sesuatu yang berharga telah hilang, yang tersisa hanyalah ruang yang kini hampa tanpanya beserta rasa sesal yang setia menemani.

No comments:

Post a Comment